Kapasitas Minim, Ruang Baca Buka Cabang

indri yy

 

 

Universitas Brawijaya (UB) sebagai salah satu perguruan tinggi di Indonesia ten­tu memiliki tugas untuk turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu caranya dengan menerapkan Tri Dharma Per­guruan Tinggi yang terdiri dari pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, ser­ta pengabdian kepada masyarakat. Agar mampu mewujudkan fungsi tersebut, UB perlu menye­diakan fasilitas penunjang seperti laboratorium, perpustakaan, dan electronic books (sumber: www.ub.ac.id).

 

Salah satu fasilitas terpenting guna menunjang proses pendidikan dan penga­jaran yang berkualitas, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) telah menyediakan ruang baca yang berada di gedung F Pascasarjana lantai dua. Wakil Dekan (WD) II, Dr. Aulia Fuad Rahman, Ak., SAS., men­jelaskan bahwa ruang baca disediakan sebagai tempat untuk mahasiswa belajar di luar jam perkuliahan.

 

Sebagai tempat belajar alternatif, ru­ang baca menggunakan sistem berbeda dengan perpustakaan dalam hal pemanfaatan referensi. Ruang baca FEB tidak memper­bolehkan pengunjung untuk meminjam referensi yang ada. Guna mengatasi hal tersebut, pengunjung akhirnya diizinkan memfotokopi. “Sebenarnya fotokopi itu si­fatnya membantu karena memang tuntutan dari mahasiswa, hingga diambil solusi untuk difotokopikan. Waktu yang dibutuhkan seki­tar satu hari,” tutur Sasmito, A.Md., selaku Kepala Urusan Ruang Baca FEB UB.

 

Ruang baca mampu menampung sebanyak 32 orang, jumlah ini tidak memadai meng­ingat ada 5.000 lebih mahasiswa FEB yang membutuhkan referensi. Jumlah pengunjung ruang baca pun hanya berkisar antara 50-70 orang dalam sehari. (Sumber: buku kunjungan ruang baca FEB). “Kuotanya kurang lebih ada sekitar 32 orang. Itu pun sebagian diarahkan ke laboratorium komputer,” papar Sasmito meng­gambarkan situasi ruang baca. Astri Nur Alifia salah satu mahasiswa FEB menambahkan bahwa jenis referensi internasional yang lebih banyak, berimbas pada pengunjung ruang baca yang se­dikit.

 

Ruang baca FEB memiliki koleksi referen­si sejumlah 3.082 judul dengan 251 eksemplar berbentuk salinan. “Kalau disebut perpustakaan itu sudah bisa, karena syaratnya yaitu memiliki minimal 1.000 judul buku dan kita sudah punya lebih dari itu. Namun di FEB tetap difungsikan sebagai ruang baca terkait adanya larangan membangun perpustakaan di fakultas yang ada di UB,” jelas Sasmito. FEB pun memiliki referensi berbentuk softcopy atau biasa disebut koleksi digital berjumlah 35.000 file dan local content sekitar 6.000 file. Untuk dapat mengak­ses koleksi digital ini, pengguna harus melaku­kan aktivasi ke ruang baca agar mendapatkan password, lalu pengguna dapat membuka akun di situs digilibfeb.ub.ac.id.

 

Merespon permasalahan tersebut, dekanat berencana menggunakan basement gedung F untuk membangun ruang baca baru yang lebih memadai. “Tidak berpatok pada minat baca mahasiswanya, tetapi menyediakan fasilitas yang mendukung adalah kewajiban kami. Apala­gi di luar negeri perpustakaan yang nyaman itu juga sudah biasa,” ungkap WD II yang biasa disapa Fuad. Fenomena banyaknya mahasiswa yang belajar di gazebo atau basement juga men­jadi salah satu latar belakang dibangunnya ruang baca tersebut. Pembangunan ruang baca baru ini pun segera dimulai dengan pelelangan konsep. Proses ini diperkirakan selesai dalam waktu tiga bulan terhitung setelah konsep ditentukan.

 

Dekanat memiliki konsep dasar sebelum dilakukan pelelangan, yaitu bangunan yang nyaman bagi mahasiswa untuk belajar maupun berdiskusi. “Arahan konsepnya ke digitalisasi. Jadi bukunya itu enggak usah banyak, yang penting akses ke sumber-sumber digitalnya ha­rus lebih sering,” jelas Fuad WD yang mem­bidangi administrasi umum dan keuangan. Penggunaan digitalisasi ini pun ternyata memu­dahkan karyawan ruang baca maupun maha­siswa. Dari segi perawatan, koleksi digital jauh lebih sederhana karena yang diperlukan hanya meng-update data terbaru dan menghapus yang lama. Lalu, mahasiswa tidak perlu lagi memfo­tokopi karena cukup dengan mengakses koleksi digital tersebut. “Kalau koleksi digital memang perawatannya lebih mudah. Jadi lebih efisien dibanding hardcopy,” ucap Sasmito.

 

Keberadaan ruang baca baru yang menye­diakan komputer lebih banyak tentu juga mampu membantu mahasiswa yang tidak memiliki akses ke website. Termasuk letak yang lebih strategis diharapkan mampu menarik minat mahasiswa untuk berkunjung. Seperti kata Sasmito bah­wa letak ruang baca baru lebih mudah terlihat dibanding ruang baca lama, sehingga diharapkan banyak mahasiswa akan berkunjung.

 

Untuk mewujudkan konsep tersebut, dekanat berencana menyediakan fasilitas seperti sekat-sekat meja bagi yang ingin membaca sendiri, ruangan kecil untuk berdiskusi, air conditioner, sofa, televisi, bahkan minuman berkonsep take a way. Tak ketinggalan beberapa komputer un­tuk mengakses koleksi digital dan rak-rak untuk hardcopy. Ruang baca gedung F lantai dua pun tetap digunakan sebagai tempat menampung buku-buku bagi mahasiswa S2 dan S3, sehingga diharapkan adanya integrasi antara keduanya. “Jadi nanti ruang baca di atas kita arahkan untuk mahasiswa S2 dan S3,” ungkap Fuad.

 

Pembangunan ruang baca baru ini diperkira­kan menghabiskan dana sebesar 1,1 miliar. Di­mana 700 juta untuk bangunan serta fasilitasnya, dan 400 juta untuk koleksi buku hardcopy mau­pun softcopy-nya. “Kita danai 700 juta untuk bangunan dan 400 juta untuk koleksi buku saja,” jelas Fuad yang juga menjabat sebagai dosen Akuntansi.

 

Demi kelancaran pembangunan ruang baca baru ini, beberapa pihak turut memberikan sa­ran. Salah satunya adalah Idris Muhammad S.S., ia ingin fasilitas ruang baca semakin leng­kap, termasuk jumlah komputer yang memadai untuk diakses. Astri juga ikut memaparkan, “Kapasitas bukunya saja dilebihin sama tata le­taknya lebih rapi lagi,” harapnya.

 

Dosen sebagai pengajar yang juga membu­tuhkan referensi memberikan saran, khususnya dalam hal pengelolaan. “Jadi dimatangkan bagaimana caranya ruang baca memenuhi syarat-syarat keamanan, pertimbangkan psikologis pembacanya, serta tenaga kerja. Jadi, saya sarankan direkrut orang-orang yang benar-benar IT minded,” ujar Agung Nugroho Adi, MM., MM.HRM., dosen Jurusan Manaje­men. Terlepas dari semua saran, tentu kita ber­harap pembangunan ruang baca ini berjalan lan­car dan sesuai rencana. “Ya pengennya setelah ruang bacanya jadi, mahasiswa bisa benar-benar terfasilitasi kebutuhan referensinya,” harap Fuad mengakhiri perbincangan.

Karya:

Devi, Naufal(CO), Indri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *