Perhatian Kurang, Tanaman Jadi Korban

20160705042623

Segarnya udara Kota Batu menyapu sekujur tubuh. Aneka tanaman hias terhampar di kanan-kiri jalan. Pepohonan yang kian menjulang tampak tegap mengelilingi desa. Rerintikan siang itu tak membuat semangat penduduk menjadi padam. Tampak segerombolan petani mengangkut sejumlah tanaman yang siap dipasarkan. Seakan tak mau kalah, lelaki beramput putih yang tengah berdiri di bibir jalan mulai menyiapkan peralatan bertaninya.

 

Begitulah kondisi Sidomulyo pada siang itu. Desa yang terletak di Jalan Bukit Berbunga Kecataman Batu ini dapat ditempuh selama 15 menit dari Alun-Alun Kota Batu menggunakan kendaraan bermotor. Disana, pelbagai keelokan alam dapat kita rasakan seperti perikanan, perkebunan, dan pertanian.

 

Satu pesona alam yang tak luput dari mata ialah Pasar Bunga. Tempat ini adalah wadah bagi penduduk sekitar untuk menjual varia tanaman. Pasar tersebut terletak di Desa Sidomulyo yang terdiri atas ratusan kavling. Biasanya, kavling yang telah tersedia akan dikelola oleh penduduk asli Desa Sidomulyo. “Setiap kavling punya tuan tanahnya sendiri,” papar Tono selaku Ketua Petani Pasar Bunga Desa Sidomulyo. Tanaman yang diperjualbelikan pun beranekaragam, dimulai dari tanaman hias, obat, hingga liar pun turut disediakan di pasar ini. Harga yang dikenakan untuk tanaman tersebut pun bervariasi. “Yang paling murah Rp2.500,00, yang paling mahal ada yang jutaan,” jawab Ponari, salah satu pedagang tanaman hias.

 

Dengan adanya variasi harga tanaman, maka tak heran pelbagai kalangan datang berduyun-duyun untuk sekadar melihat bahkan membeli. Menurut Ponari, tak jarang mahasiswa, pegawai kantor, hingga pejabat membeli tanaman di Pasar Bunga. Selain itu, tanaman turut diedarkan pada sejumlah wilayah di luar kota. “Kita pernah ke Banjarmasin, Ternate, Surabaya, banyak lagi,” jawab Tono. Melihat luasnya peredaran distribusi, hal ini membuat para petani terus meningkatkan kualitas tanamannya melalui perawatan rutin. “Biasanya, kita kasih pupuk,” jawab Ponari. Di samping pupuk, pemberian perawatan lain turut diberikan kepada tanaman. Hal tersebut diungkapkan oleh Tono. Ia memaparkan bahwa tanaman juga diberikan vitamin, pestisida, dan obat tanaman lainnya.

 

Tak hanya sebagai wadah untuk berdagang, Pasar Bunga juga dapat dijadikan sarana rekreasi bagi pengunjung yang datang. “Dulu, banyak pengunjung datang jalan-jalan di Pasar Bunga,” jawabnya. Selain tempat rekreasi, Pasar Bunga kerap digunakan untuk sarana pembelajaran. Menurut Tono, banyak mahasiswa yang datang untuk mengetahui tanaman lebih dalam. “Kita pernah kedatangan mahasiswa ke sini,” jawabnya. Selain memberikan manfaat bagi pengunjung, penduduk asli Sidomulyo pun turut merasakan faedah dari Pasar Bunga. “Dari sini, kita jadi dapat pendapatan,” ujar Ponari.

 

Namun, dari banyaknya manfaat yang dirasakan oleh pengunjung dan penduduk sekitar, terdapat permasalahan yang tak dapat terelakkan. Salah satunya adalah kurang meratanya subsidi yang diberikan oleh pemerintah. “Dulu kita pernah dapat subsidi, sekarang jarang,” ucapnya. Tak hanya itu, tersendatnya subsidi turut menjadi masalah pelik bagi petani. “Sebenarnya subsidi dari pemerintah itu ada, tapi entah kenapa ga sampai ke tangan kita,” eluh lelaki kelahiran 23 Juli 1965 itu.

 

Di samping itu, pendapatan penjualan yang tidak menentu menjadi kendala yang kerap dialami oleh petani. “Setiap hari beda-beda, kita cuma bisa bergantung dari pembeli,” papar Tono. Hal inilah yang membuat petani Desa Sidomulyo sedih. Pasalnya, menjual tanaman merupakan ladang pendapatan bagi mereka. Ketika hal ini terus berlanjut, maka petani tidak dapat berbuat apa-apa. “Kita ga bisa berekspektasi berapa yang terjual, tergantung nasib,” jawab Ponari.

 

Selain dari pendapatan, hama juga menjadi masalah bagi petani. Tak sedikit petani yang mendapati tanamannya terkena racun ringan. “Ya paling hama yang bikin susah,” ungkap Tono. Menurutnya, terbukanya kavling tanaman juga menjadi salah satu perhatian bagi petani. “Kita disini ga ada tutupnya (pagar) jadi ya ada aja yang hilang,” paparnya. Karenanya, tak sedikit petani mengalami kerugian.

 

Dari banyaknya permasalahan di atas, ternyata menuai dampak yang dirasakan oleh petani. Akibat tidak meratanya subsidi dari pemerintah, ada tanaman yang kurang diperhatikan. Hal itu terlihat dari tanaman yang terlihat rapuh dan telantar di sekitar bahu jalan. Selain itu, penjualan yang tidak dapat diprediksi membuat pendapatan petani Desa Sidomulyo menjadi tak rutin didapatkan. “Kadang sehari penuh ga dapat,” papar Tono sambil merebahkan tubuhya di pondok kecil. Hal yang sama juga diutarakan oleh Ponari. “Jadi ga dapat apa-apa sama sekali.”

 

Melihat tingginya kerugian yang ditimbulkan, penduduk Desa Sidomulyo mencoba mengatasi permasalahan yang ada dengan pelbagai cara, salah satunya dengan pemberian obat tanaman. “Ya kalau ada racun, kita kasih pestisida,” ujar Tono. Selaras dengan yang dipaparkan oleh Tono, Ponari pun mengatakan hal yang demikian. Menurutnya, masalah itu dapat ditangani dengan pemberian pupuk. “Dikasih pupuk, yang penting dananya ada,” jawabnya.

 

(Melihat) pentingnya Pasar Bunga bagi penduduk Desa Sidomulyo, sejumla petani pun menuai harapan. “Semoga bantuan pemerintah lancar, turun langsung sampai didapatkan oleh petani yang bersangkutan,” pinta Ponari. Tono, lelaki asal Batu ini pun turut menyampaikan harapannya. Ia berharap pemerintah lebih peduli agar terciptanya kemajuan bagi Desa Sidomulyo. “Semoga pemerintah lebih care, lebih turun tangan lagi,” tutupnya sambil tersenyum.

 

Karya:
Keke, Janed

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *