Fitrah Manusia yang Selalu Merindukan Kepulangan

Allahu Akbar … Allahu Akbar … Allahu Akbar …

Puji-pujian yang pasti dilantunkan sebagai pertanda kemenangan bagi umat muslim di seluruh dunia. Hingar bingar perayaan Idul Fitri tiap tahunnya menghiasi seluruh pelosok negeri. Dari ibu kota negara sampai ke pelosok desa, semuanya menyambut gembira hari kemenangan yang telah dinanti selama sebulan lamanya. Manusia yang telah mengembara dalam hiruk pikuk aktivitas kesehariannya akan memiliki kerinduan untuk kembali ke titik origin yang disebut dengan Idul Fitri. Ied artinya kembali, fitri itu kejadian asal. Di Indonesia dapat kita lihat ada dua macam arus kembali, yang pertama kembali secara psikologis dan fisik dengan apa yang dikenal dengan istilah mudik.

Ritual tahunan lain di negara kita yang menyertai Idul Fitri adalah adanya mudik. Mudik merupakan istilah untuk mengambarkan orang-orang yang melakukan perjalanan pulang kampung pada saat libur lebaran. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan kilometer perjalanan yang harus ditempuh tak menjadi halangan bagi masyarakat Indonesia untuk dapat bersua dengan keluarga.

Sesampainya di kampung halaman, sejuk udara desa terasa menyelimuti kulit yang biasanya penuh dengan leleran keringat karena panas udara kota. Memori akan kenangan indah masa lalu kembali mengelayut dalam benak.  Oleh karena setiap orang yang mengembara itu pasti mengalami kerinduan akan adanya nostalgia. Nostalgia berasal dari bahasa Yunani, nostos itu rindu pulang, algos artinya sakit. Orang yang mengembara, pasti memiliki kerinduan untuk kembali ke titik asal. Mudik dilakukan untuk kembali ke kampung halaman dimana kita dilahirkan dan mungkin dibesarkan untuk sekaligus menyambung silaturahmi dengan keluarga yang ada di sana.

Yang ke dua kembali secara rohani, dimana sejak manusia lahir menurut kepercayaan Islam telah berjanji untuk menyembah dan mengabdi pada Tuhan Yang Maha Suci. Namun, dalam pengembaraannya banyak diantara manusia yang tersesat dengan kenikmatan dunia dan melupakan komitmen serta hakikatnya untuk taat kepada kesucian.

Dalam hadis Qudsi dijelaskan bahwa: Tahukah engkau apa yang paling dirindukan oleh seorang pengembala yang mendapati binatang gembalanya hilang atau tersesat? masih dalam hadis Qudshi melanjutkan bahwa: Pengembala itu akan sangat merindukan dan menginginkan binatang gembalanya untuk kembali. Dan Tuhan adalah maha pengembala dalam hidup manusia. Bahasa agama dari arus kembali tersebut adalah taubat, yang dalam gelombang besar dan ritual tahunan disebut Idul Fitri yaitu kembali ke kampung rohani manusia.

Karya:

Wiwanda Agus Widodo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *