Resensi “Sukuh, Misteri Portal Kuno di Gunung Lawu”

Judul: Sukuh, Misteri Portal Kuno di Gunung Lawu

Penulis: Rizki Ridyasmara

Tahun terbit: 2016

Penerbit: Grasindo

                                    Sukuh, Sebuah Novel Pengungkapan Sejarah

“Pada tahun 1995, NASA mendeteksi keberadaan sebuah sinar putih misterius yang memancar dari wilayah Gunung Lawu hingga jauh ke luar angkasa. Setahun kemudian, NASA mengerahkan puluhan ahli dari berbagai negara untuk melakukan penelitian di beberapa titik di selatan Jawa Tengah.”

Sebuah fakta dari dokumen National Aeronautics and Space Administration (NASA) tersebut dibeberkan oleh Rizki Ridyasmara dalam novelnya yang berjudul “Sukuh, Misteri Portal Kuno di Gunung Lawu”. Novel ini menyuguhkan fakta-fakta sejarah kejayaan Indonesia yang selama ini sudah disembunyikan oleh Barat dan mendukung teori bahwa Indonesia merupakan Atlantis yang hilang.

Dalam setiap bukunya, penulis memang selalu menyisipkan banyak fakta yang membuat pembacanya tercengang. Di novel sebelumnya, The Jacatra Secret, penulis lebih banyak menceritakan tentang konspirasi yang ada di wilayah ibu kota mulai dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) yang berbentuk seperti simbol Dewa Ra hingga rahasia tata letak kota Jakarta. Di novel terbarunya, penulis menggunakan tokoh utama yang sama yaitu Doktor John Grant, seorang ahli simbol Amerika yang tertarik menyelidiki sejarah besar Indonesia.

Novel ini menceritakan tentang petualangan Grant dan teman-temannya saat mereka dihadapkan pada dua kematian anggota dalam kelompok mereka, Conspiratus Society. Salah satunya adalah Profesor Sjoemandirgo, seorang ahli perbintangan yang mati diracun oleh agensi pemuja setan seperti Kabbalah. Seminggu sebelum kematiannya, ia menitipkan flashdisk untuk Doktor John Grant. Flashdisk tersebut berisi hasil-hasil riset yang sudah dilakukannya, salah satunya adalah adanya koordinat yang menunjukkan piramida tersembunyi di Candi Sukuh. Koordinat piramida itulah tempat sinar putih yang dilihat NASA muncul. Agensi mengincar koordinat piramida tersembunyi ini, karena pasti ada energi besar yang dialirkan hingga mampu memancarkan sinar hingga ke luar angkasa. Kiranya, energi ini penyalurannya dialirkan oleh emas.

Demi mengetahui hal itu, John Grant beserta istri dan kedua temannya pun pergi ke Karanganyar, Jawa Tengah untuk meneliti hal ini. Setelah meneliti dua dari empat situs purba di daerah Sukuh, yaitu Candi Sukuh dan Candi Cetho, ia pun kagum setengah mati ketika menyadari kedua candi tersebut tepat menghadap Ka’bah. Peradaban macam apa yang dimiliki leluhur Indonesia di zaman dahulu hingga bisa membangun suatu candi dengan arah seakurat itu? Relief candi di keempat situs tersebut juga menunjukkan banyaknya orang dari berbagai suku dan negara datang untuk menyembah leluhur kita, mulai dari orang bangsa (China), suku Maya, bangsa Champa (Kamboja), bahkan ada patung yang mirip dengan bangsa Sumeria, peradaban tertua di dunia.

Tidak mudah untuk menuliskan novel yang mencampuradukkan fakta dan cerita. Penulis novel ini mampu meramu kedua hal tersebut dengan baik, sehingga pembaca pun larut pada berbagai fakta yang ada dalam novel. Novel ini juga memberikan ilustrasi gambar relief candi dan sebagainya, sehingga memudahkan sekaligus meyakinkan pembaca akan kebenaran hal itu. Meskipun buku ini banyak membahas tentang sejarah, pembaca tidak akan cepat bosan, karena disampaikan dengan seru dan menarik.

Tak dapat dipungkiri bahwa ada juga kekurangan dalam novel Sukuh ini. Novel karangan Rizki Ridyasmara ini memiliki kemiripan dengan novel Dan Brown. Salah satunya adalah kematian salah satu tokoh yang ada di bagian pertama novel. Sosok John Grant pun mirip dengan Profesor Robert Langdon, tokoh utama di novel Dan Brown. Namun, hal ini juga tak terlalu menjadi masalah, penulis telah mampu menceritakan sejarah kejayaan Indonesia dengan sangat apik.

 

Karya:
Ocha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *