TVRI Nasibmu Kini

                                      TVRI Nasibmu Kini

 

Siapa sih yang tak kenal dengan Televisi Republik Indonesia (TVRI)? Stasiun Televisi milik pemerintah ini sudah mengudara sejak 1962, dan sudah menghibur masyarakat Indonesia puluhan tahun dengan beberapa acara unggulan sepeti Si Unyil, Berpacu Dalam Melodi, dan acara-acara lainnya. Meskipun TVRI adalah pionir stasiun televisi di Indonesia, namun di era ini minim sekali masyarakat Indonesia yang menonton TVRI. Menurut masyarakat Indonesia, kini TVRI selaku Lembaga Penyiaran Publik (LPP) mempunyai acara-acara dengan kualitas yang kurang bersaing dengan Lembaga Penyiaran Swasta (LPS). Kenapa sampai kalah bersaing? Dari beberapa sumber, banyak yang menyebutkan TVRI kekurangan sumber dana, sumber daya manusia yang berkualitas, hingga teknologi yang sudah ketinggalan zaman. Padahal, kalau kita tengok di tahun 2015, TVRI mendapat anggaran dari pemerintah pusat sebesar Rp 866,5 miliar. Apalagi, total aset TVRI berjumlah Rp 5,1 triliun dan menurut saya itu sudah cukup untuk TVRI bersaing dikancah pertevisian Indonesia, melihat sumber dana TVRI bukan hanya dari APBN. Menurut UU 32 tahun 2002 terkait Penyiaran. LPP TVRI mempunyai beberapa sumber dana dari APBN & APBD, iuran penyiaran, siaran iklan, hingga sumbangan masyarakat.

Televisi Pemerintah

Di masa orde baru, TVRI mendapat cap sebagai televisi propaganda pemerintah menjelang pemilu. Apalagi di awal tahun 1990-an, TVRI yang minim kreativitas dan memiliki acara monoton mendapat pesaing ketika pemerintah memberi izin ke lima televisi swasta. Bahkan menjelang masa era orde baru, TVRI melakukan disorientasi fungsi yang mana mereka harus memberikan tayangan demi kepentingan publik bukan malah kepentingan pemerintah. Itu mungkin menjadi trigger mindset masyarakat dimana beberapa sektor yang dikelola pemerintah pasti akan kurang maju.

Mari kita bandingan televisi-televisi milik pemerintah dari negara lain. Jepang dengan NHK nya, atau BBC dari Inggris. Secara kualitas jelas, NHK dan BBC sudah menjadi televisi Internasional meskipun dimiliki oleh pemerintah. Mengapa bisa demikian? NHK dan BBC mempunyai beberapa kanal dimana setiap kanal dikhususkan untuk topik tertentu, seperti ekonomi, politik, olahraga, hingga kanal internasional berbahasa asing guna menarik wisatawan datang. Bukan hanya Jepang dan Inggris, tetangga kita Myanmar dan Vietnam mempunyai kanal khusus internasional berbahasa Inggris. Tidak tanggung-tanggung Myanmar telah memiliki enam satelit sekaligus. Sedangkan sekarang TVRI lebih memfokuskan diri melebur menjadi beberapa kanal di daerah.

Tergantung subsidi

TVRI semakin redup karena hidupnya hanya bergantung pada subsidi yang tahun 2015 mendapat alokasi dana Rp 866,5 miliar. Dari jumlah itu, Rp 400 miliar di antaranya untuk membayar gaji karyawan. Belum lagi di tahun 2014, TVRI mendapat teguran dari BPK karena hanya menyerap 80% anggaran yang disiapkan padahal mereka masih mempunyai hutang sebesar Rp 140 miliar. Mengandalkan dana selain subdisi seperti iuran penyiaran, siaran iklan, dan sumbangan pun tidak bisa diandalkan melihat minimnya kepercayaan masyarakat ke TVRI. Hari ini, 24 Agustus 2016, TVRI berulang tahun ke-54. Bagaimana TVRI ke depan?

Menurut saya, TVRI harus diberdayakan karena keunggulannya: aset yang besar. Ada 1 stasiun televisi pusat di Jakarta dan 27 stasiun televisi daerah serta jaringan penyiaran yang terdiri dari 376 satuan transmisi di seluruh Indonesia. Dimana, 27 stasiun televisi daerah bisa dikembangan menjadi beberapa kanal yang membahas beberapa hal khusus tertentu. Selain itu harus ada political will dari pemegang kekuasaan negeri ini: pemerintah dan DPR, dengan pertanyaan, masihkan kita memerlukan TVRI? Kalau jawabannya ”ya”, ada tiga hal besar yang harus dibenahi.

Pertama, visi dan misi. TVRI harus menjadi televisi publik, seperti NHK, BBC, atau CNBC Canada dengan isi siaran yang setara, baik kualitas maupun kreativitas, dengan televisi swasta. Kedua, pembenahan manajemen dan SDM agar mampu bersaing. Sekarang banyak sekali generasi muda yang menggeluti bidang broadcasting dimana mereka mampu dilibatkan dalam penyusunan program dan produksi.

Ketiga, Subsidi pemerintah. Dimana harapannya dibeberapa tahun kedepan, TVRI yang mempunyai acara-acara favorit sehingga menjadi LPP yang mandiri. Melihat rapat Komisi I DPR dengan TVRI dan RRI terkait rencana strategis. TVRI akan mendapat suntikan subsidi sebesar Rp 1,65 triliun dan tambahan Rp 140 miliar untuk melunasi hutang yang lalu-lalu. Mungkin upaya tersebut menjadi nafas lega TVRI guna terus menyongsong masa depan. Jadi selamat Dirgahayu  dan maju terus TVRI. (AN)

 

Karya:

Alfian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *