Bonek Sudah Berubah

Pastikan, pastikan

Kita harus menang

Satukan tekadmu, raihlah prestasimu

Majulah, majulah, ayo Persebaya

Disini, Bonek mendukungmu

 

Persebayaku, Persebayaku

Kami bangga mendukungmu

Persebayaku, Persebayaku

Kami bangga mendukungmu

 

Senin, 22 Mei 2017, untuk kesekian kalinya Bonek turun ke jalan. Tuntutan utama yang diajukan adalah manajemen memutus kontrak dari headcoach Persebaya saat ini, Iwan Setiawan. Aksi ini dipusatkan di depan Graha Pena Jawa Pos. Selain kegiatan aksi tersebut, perwakilan Bonek juga diundang oleh manajemen untuk menyampaikan aspirasinya di Lantai 4 Graha Pena Jawapos. Tindak lanjut dari manajemen terkait aksi tersebut adalah memutus kontrak dari Iwan Setiawan, yang merupakan puncak dari gerakan #IwanOut. Iwan dianggap menghina Bonek ketika dia mengacungkan jari tengah pasca kekalahan dari Martapura FC akhir April lalu.

Sejak awal, mayoritas Bonek tidak setuju dengan penunjukkan Iwan Setiawan sebagai headcoach. Iwan dianggap sebagai pelatih kontroversial yang suka berbicara sembarangan. Iwan pernah menjadi sasaran empuk suporter Persib Bandung, Viking, ketika Iwan mendampingi PBFC melawan Persib di babak 8 besar Piala Presiden 2015. “Sudah saya bilang Persib tidak ada apa-apanya, terbukti tadi mereka kalah. Tidak ada yang istimewa dari permainan mereka.” ucap Iwan sebagaimana dikutip dari bola.com

Lucunya, PBFC yang sempat memiliki keunggulan 3-2 di leg pertama babak 8 besar harus tersingkir akibat kalah gol tandang. Persib Bandung menang 2-1 pada leg kedua. Karena leg pertama dimainkan di Samarinda dan leg 2 di Bandung, PBFC hanya mampu mencetak 1 gol di Bandung, dibanding dengan Persib dengan 2 golnya di Samarinda. Iwan menjadi bahan bully Viking di stadion maupun para pengguna sosial media.

 

Terlepas dari aksi Bonek yang sukses memaksa manajemen memecat Iwan, banyak pihak yang mengapresiasi perubahan yang dilakukan oleh Bonek itu sendiri. Bonek mampu merubah citra negatif yang selama ini melekat, khususnya sebelum tahun 2010. Hal ini sebagain besar dikarenakan upaya Bonek untuk mengembalikan Persebaya dari kompetisi sepakbola Indonesia.

Bonek masih ingat dengan “drama” di penghujung Indonesia Super League (ISL) 2009/2010. Saat itu, Persebaya sedang terpuruk di papan bawah dan berjuang untuk lepas dari zona degradasi. Pada jadwal resmi, Persebaya akan bertanding melawan Persik Kediri sebagai tim tamu. Kontroversinya, pertandingan itu seakan-akan tidak mau dilagakan oleh PSSI. Pertandingan Persebaya melawan Persik Kediri tidak mendapat izin dari kepolisian. PSSI memutuskan untuk menggelar pertandingan tersebut di Palembang.

Persebaya menyatakan menolak, dan memutuskan untuk walk-out dari pertandingan tersebut. Persebaya merasa bahwa PSSI melindungi Pelita Jaya, klub yang dimiliki oleh salah satu petinggi PSSI. Dampak dari walk-out tersebut adalah Pelita Jaya sukses bertahan di ISL, sedangkan Persebaya harus turun kasta ke Divisi Utama. Persebaya memutuskan untuk keluar dari struktur kompetisi resmi PSSI dan beralih menuju Liga Prima Indonesia (LPI), breakway league bentukan Arifin Panigoro sebagai bentuk protes. PSSI, karena tidak mau kehilangan Persebaya sebagai tim legenda, membentuk Persebaya versi mereka yang mayoritas pemainnya adalah rekrutan dari Persikubar. Persebaya versi PSSI ini hanya sedikit mendapat dukungan dari Bonek, yang ironisnya adalah salah satu tokoh Bonek, Hamim Gimbal, mendukung Persebaya rasa Persikubar ini.

Setengah kompetisi LPI bergulir, dinamika PSSI berubah. Rezim ISL digantikan oleh rezim LPI. Pemimpin baru memutuskan untuk menjadikan LPI sebagai kompetisi resmi, dan berganti nama menjadi Indonesia Premier League (IPL). Persebaya yang didukung Bonek mengikuti IPL. Di sisi lain, rezim ISL yang menolak keberadaan IPL memutuskan untuk membuat federasi dan kompetisi tandingan. Persebaya versi Persikubar bertanding di kompetisi tandingan ini, meskipun hanya sedikit yang datang mendukung.

Kegagalan rezim IPL dalam mengurusi sepakbola nasional, diperparah dengan kekalahan 0-10 dari Bahrain dan gagal di AFF Suzuki Cup 2012, berbuah kudeta dari rezim ISL. Unifikasi liga dilakukan, dengan komposisi 18 tim ISL (yang sudah menjadi kompetisi resmi) dan seleksi tambahan dari 4 tim IPL. Persebaya yang berkompetisi di IPL dan beberapa tim yang membelot dari ISL ke LPI/IPL tidak masuk unifikasi. PSSI menganggap Persebaya versi Persikubar sebagai tim penyandang nama Persebaya Surabaya

Seiring berjalan waktu, dualisme Persebaya ini berdampak buruk bagi kompetisi. Menpora membekukan PSSI ditahun 2015, yang secara otomatis membekukan posisi PSSI di FIFA. Pembekuan ini didasari oleh ngototnya PSSI memasukkan 2 tim yang masih terkendala dualisme, Persebaya dan Arema. Selama periode pembekuan, beberapa pihak yang berkecimpung di sepakbola Indonesia mengadakan beberapa kompetisi. Nahasnya, Persebaya versi Persikubar tetap dianggap sebagai Persebaya, yang pada berjalannya waktu memecahkan rekor sebagai klub yang paling sering mengganti nama dalam satu kompetisi.

Pembekuan berakhir pada tahun 2016, yang ditindaklanjuti oleh Kongres PSSI tahun 2016. Pada kongres tersebut, Persebaya yang didukung Bonek dijanjikan untuk “diakui kembali”. Perwakilan dari Persebaya datang pada kongres tersebut. Bonek juga mengawal perjalanan kongres tersebut. Namun, keputusan dari kongres menyatakan tidak ada pengakuan kembali terhadap Persebaya, yang berarti Persebaya belum bisa bertanding di kompetisi resmi PSSI.

Akhir dari drama ini adalah Kongres PSSI 2017 yang berlangsung Januari lalu. Dengan segala lobi dari pemimpin PSSI terpilih yang dimulai sejak berakhirnya kongres 2016, Persebaya dan 6 tim yang mengajukan diri diakui kembali oleh PSSI, dan dimasukkan dalam kompetisi resmi.

Segala drama dari Persebaya ini telah merubah sikap dan pandangan orang tentang Bonek, ataupun Bonek itu sendiri. Bonek berusaha keras untuk menyuarakan kebenaran tentang Persebaya. Bonek tidak berhenti memperjuangkan legalitas Persebaya yang sempat “dihilangkan”. Bonek sudah menunjukkan citra baik selama perjuangan itu.

Dulu, orang melihat Bonek sebagai sekumpulan penganggu yang suka menjarah makanan di wilayah orang. Brutal dan nekat dalam mendukung Persebaya. Kini, orang melihat Bonek sebagai lambang loyalitas. Perjuangannya terhadap Persebaya, berani menolak dan menentang PSSI, tidak tergiur dengan Persebaya “sodoran” PSSI, membuktikan bahwa Bonek benar-benar total terhadap Persebaya.

Perubahan itu tidak berhenti disitu. Bonek kini mengerti nilai perjuangan. Bonek tidak lagi menyanyikan chants yang berisi ejekan terhadap lawan. Bonek kini mendampingi Persebaya dalam semangat damai. Pada laga homecoming antara Persebaya dengan PSIS Semarang, hampir tidak ada nyanyian ejekan. Hanya sempat lepas satu kali, dan itu bisa diantisipasi. Laga-laga awal Liga 2 menunjukkan hal yang sama. Bonek kini fokus mendukung Persebaya, dengan dukungan di stadion ataupun pengkritisan terhadap manajemen. Tidak ada lagi nyanyian rasial ataupun ejekan.

Bonek mendukung gerakan #NoTicketNoGame, yang berisi ajakan untuk membeli tiket setiap kali mendukung Persebaya. Bonek kini lebih kreatif dalam koreo ataupun dukungan lain. Bonek berusaha untuk memperbaiki citra negatif yang selama ini ada. Dan Bonek sudah lupa dengan yang namanya nyanyian rasial atau ejekan.

 

#SalamSatuNyaliWani

 

Lazuardy Henry Syahputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *