Habis Terang, Terbitlah Gelap

Setiap bidang kehidupan selama berabad-abad, kaum perempuan dilecehkan, direndahkan, dan dieksploitasi di seluruh dunia. Perbuatan demikian juga terjadi di tanah jajahan Imperium Belanda yang beribu kota Batavia, sekarang menjadi Republik Indonesia. Itu adalah kisah yang “biasa-biasa” saja. Yang luar biasa adalah setiap tanggal 21 April terjadi “pelecehan” terhadap perempuan secara besar-besaran selama sehari penuh. Ironinya, tanggal tersebut resmi dirayakan sebagai hari penghormatan bagi kaum perempuan.

Hakikat Perayaan

Pernahkah kita merenung dan bertanya sejenak mengenai suatu perayaan pada tiap penyelenggaraan hari-hari besar nasional? Mungkin pernah atau mungkin tidak. Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah kita paham mengenai arti kata perayaan itu sendiri? Jangan membaca paragraf selanjutnya, jawablah sendiri terlebih dahulu.

Pada umumnya orang akan menjawab pertanyaan di atas dengan suatu definisi, perayaan berarti suatu pesta tuk merayakan peristiwa “penting”. Titik. Tanpa uraian lebih lanjut. Itulah standar jawaban bermodalkan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Apabila jawabannya kurang lebih sama dengan defisini di atas maka ada pertanyaan selanjutnya: Mengapa suatu peristiwa dirayakan melalui pesta? Apakah karena peristiwa itu penting, sehingga kita perlu memuliakannya? Jika iya, apakah gegap gempita pesta satu tahunan dapat memuliakan atau mengingatkan peristiwa penting tersebut? Apa ukurannya? Apa bentuknya? Apa manfaatnya? Dan seterusnya.

Mungkin kita tak pernah lagi memikirkan pertanyaan semacam itu karena hal-hal itu membutuhkan deepening di alam pikiran. Singkat kata, melelahkan. Tapi, sesungguhnya itu adalah pertanyaan mendasar yang perlu dijawab. Dengan cara itu, pemahaman kontekstual dapat tercipta. Adalah suatu masalah bila kita lelah sebelum menelaah.

Terdapat suatu kisah menarik yang penulis alami baru-baru ini. Sekitar satu pekan yang lalu, saat berselancar di media sosial dan tak sengaja membaca postingan Departemen PSDM BEM FEB UB. Nyatanya, dalam rangka perayaan hari Kartini, Departement tersebut membuat suatu Quiz Bulanan. Awalnya terlihat sebagai suatu ide yang menarik namun, pada akhirnya hanya berujung terbalik. Sebab, pemenang dari Quiz bulanan tersebut diiming-imingi oleh cindera mata perlengkepan tata rias wajah. Pun hal itu diperburuk pula dengan slogan ‘narsistik’-nya, “Kebutuhan Kecantikan Milenial”. Seketika penulis terdiam, kemudian bertanya, “Sejak kapan Kartini peduli tentang kecantikan?”.

Hari-Hari yang Sama

Hari ini tidak berbeda dengan milyaran hari-hari sebelumnya. Sejarah kita adalah hari-hari panjang pemerasan tenaga separuh umat manusia bergender perempuan yang telah dididik untuk mengabdi kepada separuh umat manusia bergender laki-laki. Tanpa terima kasih dan imbalan yang memadai. Bahkan kaum yang berabad-abad dilahirkan untuk dijajah dan melayani kaum pria itu masih dituntut untuk mencintai pengorbanan dan penderitaannya.

Mereka yang mempertanyakan atau menolak berlangsungnya penjajahan ini akan dikecam dan dihukum dengan berbagai sanksi. Bilamana perlu akan dilakukan berbagai tindakan kekerasan fisik. Seorang putri ningrat dari Jawa, bernama Kartini, pernah mempertanyakan “keganjilan” praktek penjajahan sesama manusia dari satu gender tertentu atas gender yang berbeda.

Pada saat itu, pemerintahan kolonial Hindia Belanda menjadi puncak kekuasaan sosial yang terancam oleh manusia-manusia yang mampu berpikir dan bertanya kritis seperti Kartini. Maka pemberontakan Kartini dipadamkan lewat senjata represi negara yang sangat ampuh: pernikahan. Tak lama setelah dinikahkan, Kartini terbungkam dan kemudian wafat dalam usia muda.

Kartini adalah makhluk terjajah secara berganda, baik secara seksual sebagai perempuan maupun secara rasial sebagai seorang pribumi. Saat itu, identitasnya tergolong sebagai sosok pemberontak yang diciptakan oleh sejarah kolonial Belanda. Sebaliknya, Kartini justru dianggap sebagai figur pahlawan dalam sejarah Indonesia berkat perjuangannya yang telah dibekali kekuasaan ilmu dan politik etik kolonial. Ialah sinyo-sinyo Belanda yang menciptakan Kartini menjadi seorang tokoh pahlawan melalui penerbitan surat-suratnya. Jelas saja, hal ini dilakukan atas kepentingan dan kepuasan politik etik: memecah fokus Parlemen Belanda supaya tidak garang lagi menyoroti “kebengengisan” pemerintah Hindia Belanda terhadap pribumi.

Jadi, bukan hanya hukum kolonial atau nama “Indonesia” yang diwariskan masyarakat kolonial pada republik ini. Figur sejarah kolonial yang bernama Kartini juga menjadi bagian dari apa yang diwariskan kepada masyarakat pascakolonial.

Melewati berbagai pasang surut sejarah politik seksual di negeri ini, kepahlawan Kartini telah dirayakan masyarakat pascakolonial di Indonesia. Sialnya, Hari Kartini dirayakan bukan sebagai pemberontak tata ketertiban masa kolonial. Bukan sebagai seorang yang cerdas dan teladan. Akan tetapi dirayakan persis seperti keingingan ideologi dominan dalam masyarakat yang berobsesi dengan “keamanan dan ketertiban”, yaitu hanya memandang dari sekadar paras yang ditampakkan.

Kartini seolah ditampilkan sebagai citra perempuan pribumi yang cantik, jinak, tenang, tertib, dan santun melalui berbagai macam perlombaan dan perayaan: rias imitasi, fashion show, jahit-menjahit, masak-memasak. Sosok pahlawan ini malah dijadikan objek, bukan subyek yang memiliki pikiran progresif. Sadar ataupun tidak, tentunya proses ini berdimensi politik yang meneguhkan status quo. Tapi juga berdimensi ekonomi, karena menggenjot konsumsi massal bagi produk industri kosmetik.

Dalam konteks ini, penulis tidak perlu memasukkan data pemberitaan untuk membuktikan keadaan tersebut. Cukup beberapa menit surfing kilat di internet, maka semua akan terlihat. Pun hal ini terjadi pada peristiwa yang paling mikro, yaitu postingan Departemen PSDM FEB UB. Apabila ide ‘narsistik’ tentang slogan “Kebutuhan Kecantikan Milenial”, penulis mencoba materialisasikannya, maka segala bentuk-bentuk perlombaaan atau perayaan di atas adalah jawabannya. Pangkal ide yang sama, bentuk yang berbeda, itu lah sinopsinya.

Tentu saja berbagai cara perayaan seperti itu bisa dikerjakan dan dinikmati sinyo-sinyo Belanda di zaman politik etik kolonial. Tapi pada masa ini, berbagai lomba yang melecehkan kaum Kartini itu telah memakan korban kaum perempuan Indonesia di kota-kota sendiri sejak usia dini. Siapa mereka? Mereka adalah kaum yang justru dicintai dan diperjuangkan kartini itu sendiri: remaja. Ini terjadi lewat partisipasi atau tepatnya mobilisasi kaum remaja perempuan dalam berbagai perayaan “Hari Kartini” pada tanggal 21 Apri yang lalu. Mereka terpaksa dipasung pakaian dan upacara yang mengekang gerak jasmani dan batin.

Sejak subuh mereka harus antre di salon-salon kecantikan. Mereka dirias dan dibungkus busana yang asing bagi jiwa dan jasmaninya. Jangankan berpose sebagai figur intelektual kritis dan aktivis yang sedang menggugat, berjalan pun harus tertatih-tatih. Mereka remaja perempuan sebagai mahluk tertindas yang melayani.

Bagi masa depan kaum remaja putri, Kartini memperjuangkan sebuah angan-angan: sehabis gelap, terbitlah terang. Seabad kemudian, angan-angan itu terjungkir kebalik: sehabis terang, timbullah gelap. Kaum remaja putri mutakhir telah dijauhkan dari angan-angan progresif Kartini menatap masa depan. Kaum remaja kita diajak meromantisir kehidupan kolonial sebad yang lampau. Yaitu suatu masa ketika seorang putri ningrat Jawa seperti Kartini harus berbusana kebaya dan berambut sanggul. Seabad lalu Kartini memperjuangkan pendidikan kecerdasan kaum putri, bukan gaya bersoleknya. Kini remaja pascakolonial Indonesia dipacu berlomba kegenitan yang bersolek, bukan belajar berpikir kritis.

Jikalau demikian, sekarang siapa yang bertanggung jawab atas pelecehan besar-besaran terhadap cita-cita dan perjuangan Kartini? Juga pelecehan terhadap remaja putri Indonesia yang diperalat setiap tahun sebagai bagian dari dekorasi penindasan kaum perempuan? Jawabannya bisa jadi, sekumpulan orang dewasa yang mengidap megalomonia dan kesadaran palsu. (Hamdi Prakarsa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *