Produk Impor Mendominasi, Produk Lokal Butuh Apresiasi

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berperan penting dalam mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang, berkembang, dan berkeadilan, sebagaimana  termaktub dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008. Suatu negara yang mengandalkan produk lokal hasil UMKM dapat perlahan-lahan mengatasi permasalahan ekonominya. Permasalahan mengakar seperti pengangguran dan kemiskinan di Indonesia dapat ditekan dengan adanya UMKM yang berkembang dan produktif. Indonesia akan selangkah lebih maju dalam mencapai kesejahteraan ekonomi ketika masyarakatnya mendukung upaya pemanfaatan UMKM dan setia mengonsumsi produk lokal. 

Pemberdayaan UMKM dan peningkatan konsumsi produk lokal diserukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan tahun 2021 di Istana Negara, Jakarta. Ajakan untuk mencintai produk dalam negeri dan membenci produk impor diminta Jokowi untuk terus digaungkan. Selain itu, beliau juga membahas perekonomian digital di mana e-commerce harus dapat menjadi sarana ekonomi yang adil dan bermanfaat. Dengan demikian, e-commerce dapat mendorong dan memberdayakan UMKM.

Pernyataan Jokowi tersebut relevan dan penting maknanya melihat produk lokal yang masih kurang diminati oleh masyarakat. Produk impor pun lebih banyak diperjualbelikan dalam e-commerce. Hal tersebut menunjukkan permintaan dan minat masyarakat akan produk impor sangat tinggi. 

Isu mengenai banyaknya produk lokal juga disadari oleh peneliti Institute For Development Of Economic and Finance, Nailul Huda. Dalam perbincangannya dengan Consumer News and Business Channel Indonesia, ia mengatakan pada awal munculnya e-commerce, ditemukan 97% merupakan barang impor. Menurutnya, produk lokal di e-commerce hanya sebesar 5% saja. Selain itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio mengungkapkan dari 70% produk ekonomi kreatif di e-commerce hanya 10% yang merupakan produk lokal.

Nilai impor Indonesia pada Januari 2021 mencapai US$13,34 miliar, yaitu senilai US$1,55 miliar untuk impor migas dan  senilai US$11,79 miliar untuk impor nonmigas. Produk yang masuk ke Indonesia mayoritas berasal dari industri fashion, kerajinan tangan, elektronik dan telematika, serta pertanian. Ali Charisma selaku Ketua Indonesia Fashion Chamber mengatakan 60% konsumen masih memilih merek luar. Hal serupa juga diungkapkan oleh Direktur Industri Elektronik dan Telematika Kementerian Perindustrian, R. Janu Suryanto, bahwa produk komponen elektronik luar masih menjadi pilihan. Produk kerajinan tangan impor juga banyak ditemui di pasar lokal, seperti Pasar Jaya Jatinegara atau Pasar Mester. Sebesar 70% produk kerajinan tangan di pasar tersebut berasal dari luar negeri khususnya Cina. Selain itu, produk impor di sektor pertanian juga perlu diawasi karena dapat membanjiri pasar lokal, terlebih lagi pada masa pandemi. 

Produk impor dapat lebih diterima hingga terdistribusi secara luas di Indonesia karena harganya yang lebih murah. Pada tahun 2019, barang impor via e-commerce dengan harga maksimal US$75 per pengiriman tidak dikenakan bea masuk dan dapat dikirim langsung dari luar negeri. Hal tersebut menjadi salah satu faktor mudahnya barang impor dengan harga murah membanjiri Indonesia. Terbukti dari ungkapan Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, perlu diadakan revisi mengenai bea masuk karena berpotensi mengganggu produk dalam negeri. Hingga akhirnya, pada 30 Januari 2020, ambang batas pembebasan bea impor atau de minimis bea impor via e-commerce diturunkan menjadi US$3. 

Selain itu, kemampuan produsen asing dalam menghasilkan produk yang sesuai minat dan dompet masyarakat juga mendorong konsumen dalam negeri membeli barang impor. Contohnya, dalam industri fashion, produk kain dan garmen yang berasal dari Cina lebih murah 15-25% dari produk lokal. Pakaian impor juga memiliki kualitas yang lebih baik dengan model yang lebih trendy. Tidak hanya itu, produk elektronik impor juga dijual dengan harga murah dan teknologi canggih sehingga lebih menarik perhatian konsumen.  Produk pertanian impor pun seringkali lebih murah dibandingkan produk lokal. Menurut Amin, Ak., M.M. selaku Anggota Komisi VI DPR RI, beberapa alasan produk pertanian lokal lebih mahal harganya karena biaya logistik yang mahal dan produktivitas lahannya rendah.  

Reseller atau distributor barang impor yang menjamur di Indonesia juga semakin mendukung perluasan produk impor. Hampir semua kebutuhan dari primer hingga tersier dapat dengan mudah ditemukan pada jajaran produk impor. Oleh karena itu, konsumen semakin terdorong untuk mengonsumsi produk dari luar.

Menyadari besarnya pergerakan produk impor di Indonesia, masyarakat harus waspada. Sesuai dengan yang disampaikan Jokowi, masyarakat Indonesia diimbau untuk mencintai produk lokal dan membenci produk impor. Jika produk impor terus-menerus masuk ke Indonesia dan konsumsinya meningkat, produk lokal dapat tergeser. Hal ini dapat menurunkan produktivitas UMKM yang berakibat berkurangnya lapangan pekerjaan. Terbatasnya lapangan pekerjaan yang berbanding terbalik dengan banyaknya angkatan kerja Indonesia akan mendorong terciptanya pengangguran dan kemiskinan. Lebih lanjut, hal itu dapat menyebabkan pendapatan negara menurun dan roda perekonomian menjadi stagnan. Ketergantungan secara terus menerus terhadap produk impor pun membuat negara kita terjajah secara ekonomi di mana perekonomian dikuasai atau dimonopoli negara lain. Untuk itu, pesan dari Jokowi perlu dipahami dan diterapkan dalam kegiatan perekonomian sehari-hari.

Walau pesan yang disampaikan Jokowi mengenai upaya meningkatkan konsumsi dalam negeri tersebut baik, ada hal yang perlu diperhatikan. Pemilihan kata benci dalam penyampaian pesan tersebut dapat menimbulkan kontroversi dan kesalahpahaman, baik di masyarakat dalam negeri maupun luar negeri. Kesalahpahaman tersebut dapat berakibat fatal bila ditanggapi secara negatif oleh investor asing. Hubungan para investor asing dengan Indonesia dapat menjadi buruk dan menimbulkan ancaman penarikan investasi. Padahal, investasi asing merupakan salah satu sarana pendapatan negara, yaitu melalui pajak. Investasi juga merupakan bagian dari kegiatan perekonomian negara dalam menyediakan faktor produksi yang mendukung produktivitas dalam negeri.

Saya menekankan bahwa upaya peningkatan konsumsi dalam negeri yang diungkapkan  Jokowi memang sesuai, melihat pemakaian produk impor yang cukup besar. Masyarakat Indonesia diajak untuk bijak dalam mengonsumsi produk impor dan produk lokal. Pemilihan kata yang digunakan sebaiknya tidak menyinggung agar penyampaian pesan dapat diterima dengan positif. Saran pun datang dari Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute, Gun Gun Heryanto, agar komunikasi presidensial ke depannya lebih menggambarkan representasi kebijakan yang dikehendaki dan menghindari polemik yang tidak perlu.

Berdasarkan kondisi yang ada, diperlukan upaya dari UMKM untuk meningkatkan kualitas produknya sesuai dengan minat masyarakat. Selain itu, pemberdayaan UMKM juga dibutuhkan agar efektivitas produksi dapat meningkat sehingga harga jual produk lokal semakin terjangkau. Besar harapan saya masyarakat semakin sadar akan pentingnya mencintai produk lokal dan berpartisipasi aktif dalam upaya pengembangan UMKM.

Jabrik dan illustrator : Angelinne Ivana Simandalahi

Editor : Fridian Ganda Damas Siagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *