Indiline

Tidak Semua Sekolah Punya Perpustakaan, Alokasi Dana Pemerintah Bisa Dipertimbangkan

2 Mins read

Setiap tanggal 18 Oktober diperingati seluruh penduduk dunia sebagai momentum untuk mengampanyekan pentingnya penguasaan literasi bagi generasi muda. Awalnya, peringatan ini diselenggarakan pada tahun 1999 dengan mengusung tema “A Day In The Life”. Peringatan ini terus berlangsung hingga sekarang  dengan nama yang kita ketahui sebagai Hari Perpustakaan Sekolah Internasional.

Peran perpustakaan sangat penting dalam proses pembelajaran di lingkungan sekolah. Menurut Dra. Neneng Komariah, M.Lib., dosen Ilmu Informasi Perpustakaan Universitas Padjadjaran, perpustakaan dapat menjadi penyedia sumber pengetahuan penunjang keberhasilan proses pembelajaran di suatu sekolah. Perpustakaan sekolah dapat menciptakan masyarakat yang memiliki literasi informasi. Dengan adanya perpustakaan sekolah, siswa dapat belajar melalui buku-buku yang tersedia tanpa terkendala keterbatasan kepemilikan karena masalah ekonomi. Dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Pasal 23 disebutkan bahwa setiap sekolah atau madrasah menyelenggarakan perpustakaan sekolah dengan memenuhi standar nasional pendidikan. Standar yang disebutkan dalam pasal tersebut adalah wajib memiliki koleksi buku teks pelajaran yang ditetapkan sebagai buku teks wajib. Kemudian, mengembangkan koleksi lain yang mendukung kurikulum pendidikan, melayani peserta didik, serta mengembangkan layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

Namun, berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik tahun 2020, tidak semua sekolah di Indonesia memiliki perpustakaan. Jenjang pendidikan SD memiliki persentase yang paling sedikit yaitu sebanyak 72,98 persen. Kemudian, untuk jenjang pendidikan SMP mencapai 88,68 persen; SMK menyentuh angka 89,47 persen; dan SMA sebanyak 97,03 persen. Lalu, Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Totok Suprayitno, menyatakan bahwa beberapa sekolah yang sudah memiliki perpustakaan kondisinya memprihatinkan. Antara lain, ketersediaan dan permintaan buku masih rendah, sarana dan prasarana kurang memadai, serta minimnya akses terhadap buku bacaan bermutu. 

Fenomena ini disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya sekolah tidak memiliki lahan yang cukup dan layak. Dana untuk membangun sebuah perpustakaan sekolah pun nihil adanya. Selain itu, jika sebuah sekolah memiliki perpustakaan, fasilitasnya belum tentu memenuhi standar nasional pendidikan. Pasalnya, pengelolaan perpustakaan buruk dan hanya mengandalkan bantuan buku teks dari pemerintah. Koleksi buku-bukunya pun tidak diperbaharui, kurang menarik, dan terlihat usang karena tidak terawat. 

Apabila suatu sekolah tidak memiliki perpustakaan, siswa akan kesulitan mencari referensi lain selain buku wajib yang mereka punya saat mendapat tugas. Selain itu, jika perpustakaan sekolah tidak memiliki fasilitas yang memadai, siswa menjadi kurang tertarik untuk mengunjunginya. Pihak guru pun akan sulit melakukan pembelajaran yang mengharuskan murid mencari referensi lain saat berada di sekolah.

Demi mengatasi fenomena ini, pemerintah dapat membantu sekolah dalam menyediakan lahan atau tempat untuk membangun perpustakaan, serta mengalokasikan dana agar pembangunannya dapat terwujud. Pihak sekolah pun dapat meningkatkan pengelolaan seperti melakukan pembaruankoleksi dan perawatannya, serta membuat variasi genre buku agar dapat menarik minat siswa mengunjungi perpustakaan. Harapannya, perpustakaan dengan fasilitas yang sesuai standar nasional dapat diwujudkan di semua sekolah demi meningkatkan kualitas pembelajaran dan tingkat literasi siswa-siswa Indonesia.

Jabrik : Nailah Izzati Ziadi
Ilustrator : Nailah Izzati Ziadi
Editor : Idham Zaidan

Leave a Reply

Your email address will not be published.