Panitia Luput, Paid Promote Promosi Joki

Ilus_Independent_PanitiaPaidPromotePromosi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mahasiswa ialah orang yang belajar di perguruan tinggi. Sebagai orang yang berada pada jenjang pendidikan paling tinggi, mahasiswa memiliki tanggung jawab lebih besar daripada pelajar lainnya. Bukti tanggung jawab mahasiswa tertuang dalam peran dan fungsinya di masyarakat. Hal ini tersalurkan melalui berbagai kegiatan kemahasiswaan, baik di dalam maupun luar kampus, salah satunya adalah kepanitiaan.

Dengan mengikuti kepanitiaan, mahasiswa bisa mengembangkan berbagai hard skill dan soft skill. Salah satu pengembangan soft skill melalui kepanitiaan adalah pengumpulan dana. Berbagai cara dapat dilakukan dalam pengumpulan dana suatu kepanitiaan, salah satunya adalah paid promote (PP). Dilansir dari laman idntimes.com, PP adalah promosi produk atau layanan yang dilakukan oleh pihak ketiga dengan banyak pengikut. Akhir-akhir ini, PP banyak dilakukan oleh mahasiswa karena menjadi opsi baru dalam pengumpulan dana di masa pandemi. “Kalau untuk PP ini dimulai sejak masa pandemi ketika kuliah online,” ujar Miftah Irsyad, Penanggung Jawab (PJ) The Talks. Tak jarang, ditemukan kepanitiaan yang mempromosikan akun joki tugas melalui PP, termasuk di Keluarga Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (KM FEB UB). Kepanitiaan yang mempromosikan akun joki tugas di antaranya adalah Ecocare dan The Talks.

Hal tersebut jelas bertentangan dengan kode etik mahasiswa yang tertuang dalam Peraturan Rektor (Pertor) UB Nomor 96 Tahun 2020 Tentang Kode Etik, Hak, dan Kewajiban Mahasiswa. Pasal 6 poin M tertulis, “Tidak mengajak atau mempengaruhi mahasiswa lain untuk melakukan tindakan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma hukum dan norma lainnya yang hidup di masyarakat.” Lebih lanjut, Pasal 10 Poin A menjelaskan bahwa plagiat, pemalsuan dokumen, dan kecurangan lainnya termasuk dalam tindakan yang bertentangan dengan norma hukum.

Penyebab terjadinya hal tersebut antara lain kurangnya pengawasan dari Steering Committee (SC). Marchellia Cyciana Desilva selaku SC Marketing The Talks mengakui bahwa ada luput dan kurangnya pengawasan dalam memilih konten-konten yang bisa dipromosikan. Rendi Renaldi selaku SC Ecocare pun mengakui hal yang sama. “Itu karena keluputan dari kita juga ya untuk joki tugas, sebelumnya juga kita mungkin kurang aware dan juga kurang meng-crosscheck untuk PP,” ucapnya. Adanya keluputan dan kurangnya pengawasan SC juga dibenarkan oleh PJ Ecocare, Meiliana Setefany. “Jadi ada keluputan dari aku. Keluputan juga dari temen-temen SC untuk menyampaikan ke OC (Organizing Committee) kita,” ujarnya. Selain kurangnya pengawasan dari SC, panitia pelaksana juga mengakui bahwa mereka lalai dalam menyeleksi konten yang akan dipromosikan. Adanya kelalaian tersebut juga diakui oleh Miftah, “Tetapi untuk joki tugas itu adalah hal yang salah dan juga kesalahan dari teman-teman panitianya.” Selanjutnya Ketua Pelaksana (Kapel) Ecocare, Filza Azmi Rajita, mengakui bahwa panitia kurang sadar terhadap hal tersebut sehingga terjadi kelalaian dalam menyeleksi konten PP.

Dampak adanya PP akun joki ini salah satunya membuat mahasiswa terdorong untuk melakukan tindak kecurangan. Menurut Kapel The Talks, Anselmus Nelson, dengan banyaknya panitia yang mempromosikan akun joki tugas, mahasiswa mulai tertarik dan terdorong untuk melakukan tindak kecurangan. Sependapat dengan Anselmus, Miftah khawatir hal tersebut membuat mahasiswa semakin malas untuk belajar. “Takutnya membuat mahasiswa semakin malas untuk belajar atau mengerjakan tugasnya secara mandiri,” ucap Miftah. Dampak lain dari PP akun joki tugas ini adalah panitia pelaksana memfasilitasi suatu tindak kecurangan. Menurut Rendi, panitia seakan- akan memfasilitasi tindak kecurangan karena menjadikan mahasiswa mengetahui adanya akun joki tugas tersebut. Koordinator Divisi (Kodiv) Marketing Ecocare, Nike Sufiyani, menyetujui bahwa panitia memfasilitasi tindak kecurangan dengan melakukan PP akun joki tugas tersebut. “Iya betul, dari akun joki tadi itu merupakan penyelewengan kita sebagai mahasiswa,” ungkapnya.

Dalam menanggapi fenomena tersebut, panitia telah mengambil suatu tindakan. Nike menjelaskan bahwa ia bersama panitia lainnya telah menghapus semua PP akun joki tugas. “Kita sudah menstop, pokoknya kalau ada open joki tugas dari para customer itu kita stop, sama semua yang di-posting itu sudah di takedown semua,” ungkapnya. Sejalan dengan pernyataan Nike, Marchellia pun mengatakan, “Kalau tahu ini salah, berarti kan emang harus di-cut ya, gak usah ada lagi PP kaya gini,” ujarnya. Belajar dari kesalahan mengenai PP akun jasa joki tugas, beberapa harapan diungkapkan oleh panitia pelaksana, SC, dan PJ. Dengan adanya PP jasa joki tugas ini, diharapkan panitia pelaksana harus lebih selektif memilih akun- akun yang dipromosikan. Dicky Dwi Irawan selaku Kodiv Marketing The Talks mengungkapkan bahwa ia ingin mengarahkan stafnya untuk lebih menyaring akun yang akan dipromosikan. Begitu pun dengan Nike, “Kita bakal tetap berusaha evaluasi sama lebih baik lagi ke depannya untuk menindaklanjuti atau lebih selektif buat akun joki tugas tadi,” ungkapnya. Harapan selanjutnya ialah perlu adanya peningkatan dalam pengontrolan dan pengawasan terhadap panitia pelaksana. Rendi mengungkapkan, “Kita dari SC-nya pun mengusahakan untuk controlling langsung dan ada grupnya sendiri buat koordinasi PP tersebut. Jadi, kita juga berusaha untuk bisa bantu crosscheck.” Anselmus juga menyatakan bahwa dirinya akan lebih detail dalam melakukan pengontrolan. Harapan terakhir diungkapkan oleh Miftah. Ia berharap tidak ada lagi kepanitiaan yang melakukan hal tersebut. “Tidak hanya dalam proker Himpunan Mahasiswa Departemen Manajemen, tetapi juga untuk seluruh lembaga yang ada di KM FEB UB dan di luar itu,” ujarnya.

 

Happy
Happy
0
Sad
Sad
0
Excited
Excited
0
Sleepy
Sleepy
0
Angry
Angry
0
Surprise
Surprise
0
Previous post Siaran Pers: PKK MABA FEB UB 2022
Next post Buletin Indimolor Edisi Pemilwa 2022