Bangun Kesadaran, Hentikan Eksploitasi di Kota Malang​

Ilus_

Anak adalah aset berharga bagi setiap negara dan masyarakat. Mereka adalah harapan dan pilar utama pembangunan suatu bangsa. Investasi dalam pendidikan, kesejahteraan, dan perlindungan terhadap anak menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Selain itu, setiap anak juga memiliki hak inheren yang harus dipenuhi untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan mereka secara optimal. 

Dikutip dari laman resmi Direktorat Jenderal Hak Asasi Manusia, Anak memiliki hak untuk dilindungi dari  segala  bentuk kekerasan, eksploitasi, penelantaran, pemaksaan, perdagangan, perbudakan, dan diskriminasi. Lebih lanjut, mereka juga memiliki hak untuk bermain, beristirahat, dan mengikuti kegiatan rekreasi yang sesuai dengan usianya. Sayangnya, terdapat anak-anak di Indonesia yang haknya masih belum terpenuhi. Bahkan, mereka seringkali menjadi korban eksploitasi. 

Menurut KBBI, eksploitasi adalah pendayagunaan atau pemanfaatan untuk keuntungan pribadi. Dalam hal ini, anak seringkali menjadi objek eksploitasi untuk kepentingan ekonomi orang lain, termasuk orang tuanya. Aturan mengenai perlindungan anak dari eksploitasi di Indonesia diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2014. Dalam Pasal 76I disebutkan bahwa setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh, atau turut serta mengeksploitasi secara ekonomi maupun seksual terhadap anak. 

Masih adanya anak-anak yang terpaksa berjualan di tepi jalan adalah gambaran memprihatinkan dari ketidakadilan sosial, kemiskinan, dan kurangnya perlindungan terhadap hak mereka. Dampak negatif yang dialami oleh anak-anak tersebut sangat merugikan tumbuh kembang mereka secara akademis. Waktu dan energi mereka habis untuk bekerja di jalanan daripada belajar ataupun mengisi kegiatan sesuai hobinya. Hal ini dapat menghambat kemampuan mereka untuk memperoleh pendidikan yang layak dan melanjutkan ke jenjang berikutnya. Padahal, Studi yang dilakukan oleh UNESCO menemukan bahwa setiap tahun tambahan pendidikan pada tingkat dasar meningkatkan penghasilan individu sebesar 10% hingga 20%.

Eksploitasi ekonomi terhadap anak merupakan fenomena yang patut mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, khususnya di Kota Malang. Dikutip dari laman Jawa Pos, beberapa titik lokasi yang menjadi praktik tersebut diantaranya, sekitar Pasar Besar, Jalan Besar Ijen, dan Jalan Veteran. Ada dua faktor yang menjadi alasan mereka berjualan, salah satunya kemiskinan. Dari catatan Badan Pusat Statistik di Malang Raya pada tahun 2022, jumlah penduduk miskin terdata adalah 299.490 jiwa. Ketidakstabilan ekonomi menyebabkan keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam situasi ini, anak-anak seringkali diharapkan membantu keluarga dengan berjualan di tepi jalan sebagai upaya mengatasi kesulitan ekonomi. 

Kurangnya kesadaran dan pemahaman orang tua terhadap UU Perlindungan Anak  juga merupakan penyebab yang menjadikan anak-anak tersebut akhirnya berjualan. Dalam Pasal 26 Ayat 1 Poin a menyebutkan bahwa orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mengasuh, memelihara, mendidik, serta melindungi anak. Walaupun orang tua kerap kali diperingati oleh Satpol PP, namun fenomena tersebut terus berulang dan tidak dihiraukan. Mereka tidak menyadari bahwa anak memiliki hak untuk dilindungi dari segala bentuk kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi. Kurangnya pemahaman ini dapat menyebabkan ketidakpedulian terhadap perlindungan anak dan memengaruhi perilaku serta keputusan yang diambil oleh orang tua. 

Beberapa langkah konkret perlu diambil untuk mengatasi masalah ini. Lembaga-lembaga terkait seperti Satpol PP, Kepolisian, dan Dinas Sosial harus memperkuat sistem perlindungan anak. Hal ini meliputi peningkatan pelatihan petugas terkait dalam mengidentifikasi, melaporkan, dan menangani kasus eksploitasi anak. Pemerintah Daerah juga harus mengadakan sosialisasi dan pendampingan secara aktif kepada orang tua yang melakukan eksploitasi ekonomi terhadap anak. Pelaku eksploitasi anak harus ditindak tegas dan diberikan hukuman sesuai UU yang berlaku. 

Pemerintah Daerah juga harus lebih aktif dalam pemberdayaan ekonomi dan sosial kepada orang tua dan anak. Dukungan program keuangan dan pelatihan keterampilan dapat membantu orang tua meningkatkan penghasilan sehingga tidak terpaksa memanfaatkan anak mereka secara ekonomi. Selain itu, program-program bantuan sosial juga harus menyediakan akses pendidikan, layanan kesehatan, dan perumahan yang layak untuk mencegah eksploitasi anak. 

Kesadaran adalah kunci utama dalam mengubah situasi ini. Orang tua, pemerintah, dan masyarakat umum perlu memahami hak-hak anak, pentingnya pendidikan, dan bahaya eksploitasi yang dihadapi oleh mereka. Dengan bekerja sama untuk mengatasi masalah ini, kita dapat membantu anak-anak yang dieksploitasi untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Semoga dengan adanya tulisan ini, kita dapat menciptakan dunia di mana anak-anak dapat tumbuh dan berkembang dengan penuh potensi.


Penulis: Alexander Sigit A.

Editor: Syafiq Muhammad M.

Foto: Rohan Maulana P.P.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Happy
Happy
0
Sad
Sad
0
Excited
Excited
0
Sleepy
Sleepy
1
Angry
Angry
0
Surprise
Surprise
0
Previous post Menilik Praktik Parkir Ilegal di Kota Malang
Next post Kekerasan di Tubuh Menwa, Relevansi jadi Tanda Tanya