Ekonomi Kerakyatan: Usaha Bersama Raih Kemakmuran Masyarakat

Kamisan 2

Menjadikan rakyat sebagai tuan di negeri sendiri serta membebaskannya dari tindasan kaum kapitalis merupakan inti sari yang penulis coba gaungkan dalam buku Manifesto Ekonomi Kerakyatan. Buku ini hadir di tengah perdebatan mengenai ekonomi kerakyatan versus neoliberalisme dalam proses pemilihan presiden 2009 sebagai bentuk perjuangan untuk mewujudkan kedaulatan ekonomi Indonesia. Buku karangan Revrisond Baswir ini dibuka dengan sejarah singkat dari ekonomi kerakyatan. Sejarah tersebut bermula dari percakapan antara Tan Malaka dan Bung Hatta di Berlin tahun 1922 tentang teori diktator proletariat yang bersinggungan dengan konsep ekonomi kerakyatan. Perbincangan tersebut nampaknya cukup berkesan bagi Bung Hatta. Ia pun terdorong untuk mengkaji ekonomi kerakyatan secara mendalam. Berkat konsistensi komitmennya Bung Hatta dijuluki sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Koperasi dan ekonomi kerakyatan memiliki hubungan yang sejalan. Sebab perekonomian yang ideal seharusnya disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Dalam prinsipnya hal yang paling utama bagi koperasi maupun ekonomi kerakyatan adalah kemakmuran masyarakat. Hal tersebut seirama dengan cita-cita pendiri bangsa untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.

Di sisi lain, terdapat banyak tantangan untuk menyelenggarakan gagasan ini. Satu diantaranya, penyelenggaraan ekonomi kerakyatan merupakan ancaman serius bagi kesinambungan yang telah terbentuk antara pihak kolonial dengan kelompok berkuasa di Indonesia. Tantangan-tantangan yang ada menyadarkan kita betapa sulitnya menerapkan sistem ini. Hingga kini, kita masih dihadapkan dengan pertanyaan, tindakan apa yang perlu dilakukan untuk memastikan berlangsungnya proses kebangkitan sistem tersebut? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis kelahiran Pekanbaru ini merangkumnya dalam sepuluh agenda yang merupakan pokok pembahasan dari politik ekonomi kerakyatan dan titik masuk untuk menyelenggarakannya.

Buku berjumlah 162 halaman ini dikemas dengan kebahasaan yang cukup baik. Pemilihan frasa dan penggunaan kata baku memudahkan pembaca memahami isi buku. Selain itu, penggunaan majas dalam penggambaran suatu suasana pun berhasil memberikan kesan ringan walaupun hal yang disampaikan cukup berat. Gagasan ekonomi kerakyatan dalam buku ini bukan hanya buah pikiran penulis semata. Namun, tetap mengacu pada Pasal 33 UUD 1945 sebagai landasannya. Tak hanya itu, buku ini pun merujuk pada pemikiran Bung Hatta, baik yang ditulis sebelum proklamasi hingga purna jabatan sebagai wakil presiden. Daftar bacaan yang bervariasi pun menciptakan pandangan yang lebih luas sehingga kredibilitas dari isi buku ini sangat terjamin.

Buku yang disusun dalam sembilan bab ini, menjelaskan materi secara terperinci dan berurutan sehingga mudah di mengerti. Penjelasan yang dipaparkan pun ditulis berpoin sehingga mempermudah keterbacaan. Sayangnya, buku yang diproduksi oleh Pustaka Pelajar ini memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya, buku ini terbit 14 tahun lalu sehingga kejadian yang terangkum di dalamnya tak lagi aktual. Selain itu, terdapat beberapa istilah ekonomi yang tidak diberikan penjelasan lebih lanjut. Hal tersebut memungkinkan adanya kesulitan pemahaman bagi pembaca yang tidak memiliki latar belakang ekonomi.

Buku Manifesto Ekonomi Kerakyatan bisa menjadi referensi bacaan yang menarik terutama untuk mahasiswa. Buku tersebut dapat menambah wawasan terkait salah satu sistem perekonomian Indonesia yang selama ini hanya sebatas wacana semata. Selain itu, semangat perubahan yang dibawa dalam buku ini cocok bagi mahasiswa sebagai penggerak transformasi ke arah lebih baik. Terlebih sebagai mahasiswa sudah sepatutnya kita memperjuangkan sistem yang dapat mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Penulis: Syifa Sukmadania N.D 

Editor: Idham Zaidan A.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Happy
Happy
0
Sad
Sad
0
Excited
Excited
0
Sleepy
Sleepy
0
Angry
Angry
0
Surprise
Surprise
0
Previous post Stigma, Dalang Eskalasi Kasus HIV/AIDS
Next post Buletin Indimolor Edisi PKKMB 2023