Menggugat Keadilan di Sepetak Ruang Sidang

Sebuah persidangan berusaha menguak suatu kebusukan. Di tengah sepetak ruang sidang yang tertutup, sekelompok aktivis lingkungan dengan gagah melawan kekuatan raksasa, PT Semesta Minerals & Mining. Mereka menuntut pencabutan izin proyek perusahaan yang dianggap merusak lingkungan. Kedua belah pihak saling sikut dengan menyodorkan bukti hingga mendatangkan saksi. Berlatar ruang sidang, Tere Liye membawa pembaca menyusuri jejak masa lalu setiap tokoh yang ada dalam kisahnya. 

Karakter-karakter yang digambarkan dalam novel ini sangat beragam dan memiliki penggambaran yang kuat, tak seperti novel lain yang menceritakan kisah satu atau dua tokoh saja. Tema dalam novel setebal 373 halaman tersebut juga sungguh dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. Namun, isu tersebut seringkali tak menjadi sorotan kita. Keberanian penulis mengangkat topik yang sensitif seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan ketamakan manusia pun patut diacungi jempol.

Di antara kelebihan yang dimiliki, terdapat beberapa kelemahan dalam novel ini. Latar tempat yang terbatas pada ruang sidang mungkin membuat sebagian pembaca merasa terbatas dalam berimajinasi. Alur waktu yang maju-mundur memang menggambarkan kedalaman cerita, tetapi justru membingungkan para pembaca. Penggunaan bahasa yang cukup berat dan istilah asing juga menambah catatan dalam buku tersebut.

“Teruslah Bodoh Jangan Pintar” bukan sekadar novel biasa. Ia adalah cerminan menyedihkan dari realitas yang ada di negara kita, tetapi juga menjadi sumber pelajaran yang berharga. Buku tersebut menyiratkan bahwa asam garam yang sudah berlalu adalah guru terbaik dalam kehidupan.

Oleh: Rohan Maulana P.P
Editor: Syafiq Muhammad M.

Happy
Happy
0
Sad
Sad
0
Excited
Excited
0
Sleepy
Sleepy
0
Angry
Angry
0
Surprise
Surprise
1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Nasib Masyarakat Adat di Tengah Pembangunan IKN
Next post Mencari Jalan Pulang di Negeri Orang