Selubung Konspirasi Pendaratan Antariksa di Yogyakarta

Kenyataan seolah menjadi curai pada karya Anggi Noen yang berjudul “The Science of Fictions”. Anggi Noen kelewat puitis dalam menyusun premis film yang satu ini. Sebuah hikayat seorang bernama Siman yang tak sengaja menjadi saksi bisu rekayasa pendaratan bulan di Yogyakarta. Siman lantas ditangkap dan lidahnya dipotong oleh para serdadu. Lepasnya, semua berubah lambat dan menjadi sulit diutarakan bagi Siman. Ia seakan terperangkap dalam ruang hampa udara, bergerak lambat bak seorang astronot di atas bulan. Akan tetapi, Siman tetap berusaha untuk hidup sekalipun orang-orang telah menggapnya hilang akal. 

Film “The Science of Fictions” yang sepanjang tubuhnya penuh simbolisasi menjadikan karya ini kaya dengan pemaknaan dan ruang interpretasi bagi penonton. Persoalan mengenai kebenaran dan trauma menjadi tema sentral yang diangkat oleh Anggi Noen. Kebenaran seakan menjadi sesuatu yang begitu rumit, tetapi rapuh akan rekayasa. Adapun trauma digambarkan sebagai sebuah pengalaman yang begitu menyiksa dan membekas bagi sebuah tubuh. Kedua tema besar terhubung lewat perjalanan karakter Siman dalam hiruk pikuk kejadian yang menimpanya. Ia yang merekam trauma berusaha mempertahankan kebenaran itu lewat badannya. 

Penggunaan kombinasi gambar hitam-putih dan berwarna pada film menarik untuk diperhatikan. Permainan keduanya disusun dengan baik untuk membedakan periode waktu serta kesan khusus pada cerita. Bagian hitam-putih seolah menggambarkan masa lalu Siman yang masih bergulat dengan tragedi dan terisolasi dari masyarakat. Di sisi lain, penggunaan gambar berwarna menunjukkan periode waktu di mana Siman mulai membuka diri. Adapun perhatian mendetail terhadap tata suara yang digunakan berhasil menghidupkan atmosfer dan membentuk identitas film dengan apik. 

Istilah slow-burner cocok disematkan untuk film ini. Ia berkembang secara lambat dengan tidak banyak aksi yang mewarnainya sehingga kurang cocok untuk beberapa kalangan. Bagaimana tidak, tokoh utama film terjebak dalam kebisuan abadi dan bergerak dengan tempo serba lambat. Namun, bukan berarti hal itu membuat film jadi membosankan sebab penonton akan diperlihatkan kepiawaian Mas Cindhil alias Gunawan Maryanto dalam menghidupkan karakter Siman. Ia begitu lihai menghanyutkan penonton untuk semakin tenggelam pada cerita seorang Siman.

Premis dari film yang rilis pada 2019 ini sedari awal sudah surealis, imbasnya alur menjadi abstrak dan membingungkan. Film juga dipenuhi dengan kumpulan alegori dan teka-teki yang samar sehingga tidak cukup untuk ditonton sekali saja. Tampaknya, terlampau banyak pesan yang ingin disisipkan Anggi Noen dalam rentang 106 menit. Adapun pada bagian akhir, alur film menjadi berlompatan dari muara awal cerita dan perlahan kehilangan fokusnya. Terlepas dari kekurangannya, film ini dapat menjadi pengingat pembungkaman kebenaran yang masih marak serta betapa rapuhnya ia akan ancaman belenggu media dan negara.

Oleh: Ittaqa Ramadhian P.
Editor: Lisa Rohmatin

Happy
Happy
0
Sad
Sad
0
Excited
Excited
1
Sleepy
Sleepy
0
Angry
Angry
0
Surprise
Surprise
2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Kriminalisasi Aktivis Langgar Hak Asasi
Next post Penangkapan Kurir Ganja yang Menyamar sebagai Pemudik