Masakan Padang Padati 99: Perjuangan di Tengah Keterbatasan

Rumah makan padang itu bak oase bagi perut yang keroncongan di siang hari. Saat pelanggan memasuki rumah makan tersebut, sergap seorang pria menggunakan bahasa isyarat melayaninya. Pria itu bernama Irfan, Beliau adalah kawan tuli pendiri Masakan Padang Padati 99.
Kami adalah satu dari beberapa pelanggan mereka pada hari itu. Setelah melahap nasi ayam goreng padang yang kita pesan, kami mengajak Irfan untuk bercerita. Saat ditanyakan kesediaannya untuk diwawancarai, Irfan mengangguk dan mengacungkan jempol menandakan persetujuan. Ia lalu memanggil istrinya, Ayu, untuk membantu menceritakan perjalanan mereka.
Kisah hidupnya dimulai dari Pulau Sumatra. Ayu menjelaskan, “Dia (Irfan) lahir itu di Medan, cuman orang tuanya asli Padang. Kalau saya lahir dan besar di Padang,”. Awalnya, mereka berdagang memasok pakaian di pasar-pasar Medan. 4 tahun berselang, mereka memutuskan untuk kembali ke Padang, menjalankan pengolahan biji plastik. “Satu tahun di sana, tapi gagal. Kemudian, kita ke Jawa Timur,” lanjut Ayu.
Memulai lembaran kisah baru di Pulau Jawa, pasutri tersebut tidak langsung memulai usaha rumah makannya sendiri. “Jalanin usaha orang dulu, warungnya punya saudara. Akan tetapi, kita yang olah dan bagi hasil,” terang Ayu. 8 bulan berselang, pasangan ini berhasil merintis rumah makan milik mereka sendiri. Memasuki tahun kedua, masalah pun baru mendatangi. Ayu menuturkan bahwa kala itu adalah masa pandemi, “Jember itu kota kecil. Ketika lockdown, orang-orang dari luar kota gak ada yang masuk.” Menghadapi persoalan tersebut, mereka memilih untuk pindah ke kota yang lebih besar, Malang.
Tidak sampai dua tahun, Ayu dan Irfan berhasil membuka dua rumah makan di kota yang dipadati oleh mahasiswa itu. “Ada yang di Abdul Rachman Saleh dan Ki Ageng Gribig,” ungkapnya. Pada tahun berikutnya, mereka memilih menutup kedua cabangnya dan pindah ke Jalan Srigading No. 5, tempat usaha mereka sampai saat ini.
Sebagai penyandang tuli, Irfan sering kali menghadapi pelbagai tantangan. “Mungkin (pelanggan) kaget gitu, susah untuk komunikasi. Ada pelanggan yang pernah tidak jadi beli,” ucap Ayu mewakili. Atas hambatan itu, Irfan meresponnya dengan berharap setiap pembeli dapat memahami apa yang ia sampaikan. “Semoga nanti balik lagi deh orang yang enggak jadi datang kemarin,” tutup Ayu, mengartikan.
Irfan mempunyai jiwa pejuang. Dengan bahasa isyaratnya, ia menekankan bahwa mencari penghidupan sudah menjadi tanggung jawab seorang pria. Irfan menolak keterbatasan menghambat semangatnya. Menutup ceritanya, ia menyampaikan asa pada kawan tuli dan difabel lainnya untuk mengacuhkan ejekan orang dan mengajak mereka untuk menjadi lebih berani.
Oleh: M. Azka Hilmi
Editor: Syafiq Muhammad
Foto: M. Azka Hilmi
