Seorang Mahasiswa FEB UB Alami Diskriminasi di Lingkungan Kampus

Pada rangkaian PRIME FEB UB Day 2, seorang mahasiswa alami verbal abuse dari pihak Subbagian Umum dan Aset. Hal ini terjadi saat Aliansi Satu Jiwa melakukan konsolidasi bersama dengan pihak keamanan terkait aksi penolakan terhadap pemateri wawasan kebangsaan yang dilakukan oleh pihak TNI. “Tiba-tiba datang lah seseorang, aku enggak tau sih orang keamanan atau enggak. Posisinya dia enggak pakai seragam, pakai baju batik,” ungkap Guido Purwandito, selaku korban. Pada saat itu, pelaku menanyakan identitas dan asal daerah korban. Lalu Guido menyatakan bahwa dia lahir di Papua, tetapi justru pelaku menjawab dengan “Oh, pantesan engga ber etika,” ungkap Guido.
Menurutnya, perlakuan diskriminasi tersebut tidak patut terjadi di lingkungan kampus. “Kok bisa gitu, di ranah akademik, di mana banyak orang berpikir kritis, berbicara by data, by logic, secara rasional, dan terstruktur, ada oknum yang mengaitkan daerah dengan etika. Itu aneh gitu loh enggak apple to apple,” tutur korban.
Setelah kejadian tersebut, Guido mengungkapkan tidak ada permohonan maaf dari pelaku. Sampai berita ini ditulis, Eko Swasono Priyanto yang disinyalir sebagai pelaku tindakan diskriminasi menolak untuk diwawancarai. Melihat kondisi tersebut, Guido berharap terdapat sosialisasi terkait penggunaan tatabahasa selama berada di lingkungan kampus. “Harapannya buat yang berwenang menindak pelaku dan untuk kedepannya disosialisasikan gitu, terkait tata bahasa,” ungkapnya.
Oleh: Amelya Queen O.
Editor: Izra Putri W.
Foto: Al Gregory R. P.
