Organisasi Tak Lagi Diminati Mahasiswa

Ilus_Opini_OrganisasiTakLagiDiminatiMahasiswa

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan organisasi sebagai kelompok kerja yang terdiri dari dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan bersama. Organisasi dapat ditemukan di berbagai tempat dan lingkungan sekitar kita, termasuk kampus. Terdapat beberapa organisasi yang sering kita jumpai, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Lembaga Pers Mahasiswa, dan masih banyak lagi.

Organisasi memiliki kedudukan resmi dalam hierarki perguruan tinggi. Hal ini diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi. Pasal 77 Ayat 2 menyebutkan fungsi organisasi diantaranya sebagai wadah minat bakat, pengembangan karakter, pelayanan mahasiswa, dan tanggung jawab sosial. Kampus juga memiliki kewajiban untuk mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagaimana tertuang di UU Nomor 20 Tahun 2003 yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Hadirnya organisasi di kampus merupakan bentuk implementasi sekaligus instrumen bagi mahasiswa menunaikan salah satu kewajiban tersebut, khususnya pengabdian masyarakat.

Namun, kenyataannya saat ini banyak mahasiswa tidak lagi tertarik dengan organisasi. Minat mahasiswa berorganisasi terus menurun setiap tahunnya. Terbukti, marak sekali calon tunggal di berbagai prosesi pemilihan yang dilakukan. Dalam Pemilihan Raya Universitas Brawijaya 2022, terdapat 14 calon tunggal dari 18 daerah pemilihan DPM. Di lingkup fakultas, Ketua dan Wakil Ketua BEM serta seluruh anggota DPM Fakultas Ekonomi dan Bisnis terpilih melalui aklamasi. Bukti lain yang menggambarkan fenomena ini ialah banyaknya perpanjangan dalam perekrutan staf ataupun kepanitiaan, seperti BEM, DPM, dan Himpunan. Tak hanya itu, perekrutan panitia kegiatan ospek fakultas tahun kemarin bahkan dilaksanakan secara tertutup.

Seiring perkembangan zaman, organisasi dianggap tidak lagi memiliki value yang dapat ditawarkan. Hal tersebut sekaligus melatarbelakangi berkurangnya minat mahasiswa dalam berorganisasi. Hadirnya berbagai program dan kegiatan baru membuat organisasi bukan satu-satunya pilihan untuk berkembang. Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang disahkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2020 menjadi salah satu program menarik bagi mahasiswa. MBKM menawarkan segala kemewahan seperti pengalaman kerja, uang saku, hingga program yang dapat dikonversi menjadi Satuan Kredit Semester (SKS). Di sisi lain, organisasi justru memperburuk citranya dengan tuntutan waktu, tenaga, dan pikiran yang berlebihan sampai munculnya istilah ‘budak proker’. Kebiasaan buruk di dalam organisasi seperti keterlambatan, senioritas, sampai dengan politisasi membuatnya tak lagi memiliki daya tawar.

Eksistensi organisasi kian terancam apabila tidak mampu menawarkan value lebih kepada mahasiswa. Regenerasi akan menjadi suatu permasalahan yang terus-menerus terjadi hingga organisasi tak lagi memiliki peminat. Mahasiswa akan kehilangan wadah pengembangan, pelayanan, dan pengabdian. Eksistensi organisasi yang hilang juga menandai berakhirnya sejarah pergerakan mahasiswa. Dampak lain yang juga perlu diperhatikan ialah berubahnya pola pikir mahasiswa. Mereka akan cenderung bersikap pragmatis dan apatis sehingga Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak lagi memiliki arti.

Turunnya minat mahasiswa dalam berorganisasi tak bisa terus dibiarkan. Diperlukan adanya pembaharuan sehingga organisasi memiliki value yang relevan dengan perkembangan zaman. Salah satunya dengan cara membuat sertifikat organisasi dapat dikonversi menjadi SKS. Sistem Kredit Prestasi yang diterapkan saat ini dirasa kurang efektif dalam mendorong mahasiswa untuk mengikuti suatu organisasi. Konversi kegiatan kemahasiswaan menjadi SKS bukanlah sesuatu yang mustahil dilakukan. Berkaca dari kampus lain, Institut Pertanian Bogor telah menerapkan kurikulum yang memungkinkan sertifikat organisasi dapat dikonversi menjadi SKS. Kebijakan tersebut membuat organisasi memiliki daya tarik dan value yang sebanding dengan MBKM ataupun program lainnya. Terakhir, organisasi saat ini juga dituntut untuk selalu dinamis dan adaptif. Program kerja yang disusun harus berdasarkan minat dan kebutuhan mahasiswa. Evaluasi diperlukan guna memperbaiki segala kebiasaan buruk serta menjaga relevansi organisasi agar tidak kehilangan daya tarik terhadap mahasiswa. 

 

Penulis: Syafiq Muhammad M.

Editor: Idham Zaidan A.

Ilustrator: Rohan Maulana P.P.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Happy
Happy
0
Sad
Sad
0
Excited
Excited
0
Sleepy
Sleepy
0
Angry
Angry
0
Surprise
Surprise
0
Previous post Ratusan Massa Gelar Aksi Tuntut Keadilan Tragedi Kanjuruhan
Next post Solusi Hemat Kantong Pelajar dengan Matikan Ekonomi Penulis