Krisis Demokrasi KM FEB UB

Pemilihan Wakil Mahasiswa (Pemilwa) merupakan bentuk pelaksanaan kedaulatan mahasiswa yang diselenggarakan di tingkat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB). Agenda ini bertujuan untuk memilih pemimpin selanjutnya dari beberapa posisi seperti ketua dan wakil ketua BEM, anggota DPM, serta ketua Himpunan Mahasiswa Departemen. Pemilwa menjadi ajang yang membentuk sikap demokratis mahasiswa sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Keluarga Mahasiswa FEB UB. Namun, pada pelaksanaannya terdapat permasalahan mengenai minimnya kesadaran demokrasi di kalangan KM FEB itu sendiri.
Minimnya kesadaran demokrasi KM FEB UB tercermin dari jumlah pemilih pada tahun 2023 yang hanya mencapai 1.219 suara. Angka tersebut hanya seperempat dari total mahasiswa aktif S1 yang terdaftar. Fenomena itu terjadi akibat minimnya pemahaman KM FEB UB mengenai pentingnya peran mereka dalam agenda Pemilwa setiap tahunnya. Indikasi krisis demokrasi KM FEB UB berdampak pada kualitas kontestasi di lingkungan kampus dan representasi aspirasi yang diwakilkan calon terpilih. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pihak panitia untuk meningkatkan kesadaran demokrasi dan politik kampus. Pertama, panitia dapat memberikan konten edukasi melalui media sosial mengenai pentingnya peran KM FEB pada kegiatan Pemilwa. Kedua, panitia dapat menggunakan jejaring anggotanya untuk kepentingan publikasi secara masif guna menggapai KM FEB secara lebih luas.
Krisis demokrasi ini diperparah dengan banyaknya fenomena aklamasi setiap tahunnya. Pada tahun 2023, ketua dan wakil ketua BEM serta anggota DPM Independen terpilih secara aklamasi. Hal yang sama terjadi di tahun ini. Beberapa pemilihan kembali menerapkan sistem aklamasi imbas tidak tercukupinya jumlah minimum calon. Fenomena ini terjadi akibat kurangnya dukungan dan persiapan KM FEB UB mendorong setiap individu untuk maju sebagai calon. Hal ini berdampak pada kontestasi pemilwa yang berjalan tanpa adanya kompetisi. Upaya yang dapat dilakukan oleh KM di antaranya dengan membangun komunitas-komunitas dan basis dukungan terhadap beberapa orang yang memiliki potensi. Tak hanya itu, calon pemimpin atau regenerasi setiap lembaga juga harus dipersiapkan dari jauh-jauh hari.
Pelaksanaan Pemilwa juga perlu dievaluasi setiap tahunnya. Mepetnya timeline dan penyesuaian kegiatan yang sering kali terjadi dalam Pemilwa KM FEB UB perlu menjadi perhatian. Seringnya penyesuaian timeline berdampak pada kurangnya persiapan dari calon dan pemilih dalam mengikuti rangkaian Pemilwa itu sendiri. Keterbukaan informasi juga menjadi suatu hal yang perlu terus ditingkatkan. Dengan begitu, segala pihak baik pemilih ataupun calon dapat memaksimalkan perannya dalam setiap kegiatan.
Partisipasi aktif dari KM FEB dalam agenda Pemilwa sangat penting demi menjaga tujuan dilaksanakannya kegiatan tersebut. Keterlibatan mahasiswa dalam pemilihan mencerminkan peningkatan kualitas demokrasi dalam politik kampus. Berdasarkan ketiga fenomena yang selalu terjadi dalam pelaksanaan Pemilwa KM FEB UB, terlihat bahwa terdapat tantangan serius dalam membangun kualitas demokrasi di lingkungan kampus.
Harapannya, Pemilwa KM FEB UB tahun ini menunjukkan peningkatan dengan adanya kontestasi di ajang pemilihan ketua dan wakil ketua BEM. Fenomena ini dapat menjadikan ekosistem demokrasi di KM FEB UB menjadi lebih baik. Dengan begitu, Pemilwa tidak hanya menjadi agenda formalitas tahunan. Akan tetapi, harus menjadi momentum pembelajaran politik yang menciptakan pemimpin-pemimpin berkualitas melalui kontestasi.
Oleh: Saifuddin Hisyam A.
Editor: Syafiq Muhammad M.
Ilustrasi: Laila Rahma D.
