Penolakan TNI oleh Aliansi Satu Jiwa Tuai Tindakan Represif 

Pada hari kedua rangkaian PRIME FEB UB 2025, terjadi insiden tindakan represif yang melibatkan pihak keamanan terhadap mahasiswa dan Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas (LPMF). Peristiwa ini berlangsung di venue utama kegiatan PRIME FEB UB. Aksi simbolik yang dilakukan mahasiswa untuk menyampaikan penolakan terhadap keputusan panitia PKK untuk melibatkan Tentara Nasional Indonesia dalam pelaksanaan acara. Namun, pihak keamanan FEB UB kemudian melakukan tindakan yang dirasa berlebihan.

Menurut keterangan Farrel Rafly, salah satu Mahasiswa FEB UB, insiden terjadi ketika massa ditahan saat hendak meminta audiensi dengan Wakil Dekan 3. Farrel menuturkan, saat LPMF tiba di lokasi, pihak keamanan berusaha membatasi peliputan, termasuk mematikan dan menarik kamera, serta mengeluarkan perkataan yang dinilai mengintimidasi. Tindakan ini, menimbulkan kesan bahwa pers dibungkam agar informasi tidak tersampaikan kepada publik.

Menanggapi insiden tersebut, Nawang Indratmoko selaku perwakilan keamanan menyampaikan permintaan maaf. “Saya memohon maaf. Perlakuan tersebut terjadi karena tekanan dari atasan, dan saya berada dalam kondisi yang mengharuskan bertindak demikian,” ujar Nawang. Sementara itu, Yusuf Hafidzun Alim selaku perwakilan Aliansi Satu Jiwa menyatakan, “Kami bukan musuh, bukan parasit bagi fakultas, tetapi bagian dari keluarga kampus yang ingin mewujudkan masa depan pendidikan lebih baik dan bebas dari tekanan eksternal.”

Oleh: Callysta Putri H.
Editor: Izra Putri W.
Foto: Al Gregory R. P.

Happy
Happy
0
Sad
Sad
0
Excited
Excited
0
Sleepy
Sleepy
0
Angry
Angry
0
Surprise
Surprise
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post PKKMABA FEB UB Undang TNI Sebagai Pemateri Wawasan Kebangsaan
Next post Seorang Mahasiswa  FEB UB Alami Diskriminasi di Lingkungan Kampus