Penyebab IHSG Terjun Hingga BEI Terapkan Penghentian Perdagangan Sementara

Selasa 18 Maret 2025 pukul 11.19 WIB, Bursa Efek Indonesia memberlakukan trading halt atau pemberhentian sementara aktivitas perdagangan saham selama 30 menit ketika basis poin IHSG sudah merosot 5%. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja harga rata-rata saham yang tercatat di Papan Utama dan Papan Pengembangan BEI merosot. Pemberhentian sementara ini dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Direksi BEI Nomor: Kep-00024/BEI/03-2020 tentang Panduan Penanganan Kelangsungan Perdagangan dalam Kondisi Darurat.

Kondisi pasar saham Indonesia menjadi anomali jika dibandingkan dengan bursa negara-negara asia lain yang menguat. Pernyataan ini dilontarkan oleh analis pasar modal Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Andi, dilansir dari Tempo.co. Beberapa pasar saham tersebut adalah indeks KLSE Malaysia di angka 1.04% serta indeks STI Singapura di angka 1%. 

Penyebab utama dari fenomena ini adalah sentimen negatif dalam negeri. Sebanyak 23 dari 42 ahli setuju bahwa kondisi ekonomi saat ini telah memburuk dibandingkan tiga bulan lalu. Data ini merupakan hasil Survei Economy Experts rilisan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB UI. Survei tersebut didukung oleh pernyataan Equity Research Analyst Panin Sekuritas, Felix Darmawan, yang menyebutkan bahwa defisit APBN awal tahun ini berpotensi mengganggu pendapatan fiskal.

Anjloknya IHSG juga disebabkan oleh kepercayaan investor asing yang berkurang. Hal ini disampaikan oleh Budi Frensidy selaku Guru Be i sar Keuangan dan Pasar Modal UI pada laman Katadata.co.id. Pernyataan ini senada dengan data Bank Indonesia yang menunjukkan adanya penarikan investor asing sebesar Rp18,37 triliun di pasar saham, Surat Berharga Nasional, dan Sekuritas Rupiah BI. Budi juga menyampaikan bahwa penyusutan ini akan berpengaruh pada prospek investasi di Indonesia kedepannya.

CNBC Indonesia Research juga menyampaikan keputusan BI Rate dan Fed Rate sebagai  salah satu penggerak sentimen negatif yang dimiliki oleh pelaku pasar. 19 Maret 2025, bank sentral Amerika dan BI diprediksi akan kembali menahan suku bunga. Hal ini menyebabkan terjadinya ketidakpastian kondisi sehingga pelaku pasar memasang sikap wait and see.

Manajemen Panin Sekuritas menilai bahwa penurunan harga IHSG ini berdampak pada peningkatan risiko investasi di Indonesia. Risiko ini tercermin dari kenaikan credit default swap (CDS) sebesar 80,15 basis poin. Kenaikan CDS ini juga secara tidak langsung berimbas pada harga dan permintaan Surat Berharga Negara, yang menjadi salah satu sumber pendanaan anggaran negara.

Kerugian yang dialami pelaku pasar saham juga dapat menekan pertumbuhan ekonomi. Pernyataan ini disampaikan oleh Andry Satrio Nugroho, Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance dilansir dari Tempo.co. Andry mengatakan bahwa hal ini disebabkan oleh konsumsi masyarakat yang menurun karena mereka menahan konsumsi setelah mengalami kerugian.

Oleh: Iioga Hersa Kenandi

Editor: Muhammad Azka H.

Ilustrasi: Muhammad Azka H.

Happy
Happy
0
Sad
Sad
0
Excited
Excited
0
Sleepy
Sleepy
0
Angry
Angry
0
Surprise
Surprise
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Pagu Dana Penunjang Pendidikan Lembaga FEB UB 2025
Next post Maraknya Kasus Penembakan Warga Sipil oleh Anggota TNI