Aksi Kamisan Peringati Tragedi Kanjuruhan, Massa Serukan “Don’t Stop Talking About Kanjuruhan”

Aksi Kamisan Malang dalam rangka memperingati empat tahun Tragedi Kanjuruhan berlangsung pada (01/10/26) di Balai Kota Malang. Masa mengusung slogan “Don’t Stop Talking about Kanjuruhan” untuk menjaga ingatan publik terhadap peristiwa tersebut.
Rangkaian kegiatan ini diawali dengan aksi diam selama 1 menit 35 detik. Durasi tersebut merujuk pada 135 korban yang terdata dalam Tragedi Kanjuruhan. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan orasi, pertunjukan teatrikal, penyalaan lilin dan suar, serta mimbar bebas. Setelah kegiatan di Balai Kota Malang selesai, massa bergerak menuju Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, untuk melakukan doa bersama.
Aksi konsolidasi ini bertujuan tidak hanya untuk memperingati, tetapi juga menjadi momentum untuk menjaga ingatan publik sekaligus menyuarakan tuntutan keadilan bagi korban dan keluarga. Isa, perwakilan salah satu keluarga korban, menilai perjuangan memperoleh keadilan hingga kini masih jauh dari harapan. Ia menilai penanganan perkara semakin tidak jelas setelah sejumlah pihak yang menyuarakan tragedi kanjuruhan mengalami kriminalisasi. “Semakin ke sini semakin tidak jelas, Mbak. Apalagi setelah beberapa kawan kita mengalami kriminalisasi, orang-orang yang ingin menyuarakan Kanjuruhan secara lantang mungkin menjadi lebih takut atau berhati-hati,” ujar Issa. Di tengah kondisi tersebut, keluarga korban tetap menyuarakan tuntutan melalui berbagai kegiatan dan berharap solidaritas masyarakat terus menguat untuk memperjuangkan keadilan.
Sementara itu, salah satu massa aksi juga berharap memori kolektif masyarakat mengenai Tragedi Kanjuruhan tidak pudar. “Harapannya itu memori kolektif kita tentang tragedi Kanjuruhan itu nggak pudar, nggak hilang, nggak terlupakan,” ujar perwakilan massa aksi. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai pelanggaran HAM yang disaksikan publik secara luas, tetapi hingga kini penanganannya belum menghadirkan rasa keadilan bagi korban dan keluarga. Ia mengajak masyarakat Malang untuk terus mengingat peristiwa tersebut. “Arek-arek Malang, nggak lupakan tragedi ini. Dan kita nggak akan pernah berhenti untuk membahas Kanjuruhan,” ujarnya.
Oleh: Safanah & Callysta
Editor: Ervinna Nicky P.
Tata Visual: Callysta Putri H.
Foto: Andria & Qanita
