Ketika Keingintahuan Membuka Pengetahuan ke Arah yang Lebih Besar

Berkolaborasi bersama Klaus Hagerup, Jostein Gaarder yang sama-sama penulis populer Norwegia, menciptakan mahakarya indah berjudul Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. Buku tersebut membangkitkan sisi imajinasi anak-anak muda untuk memuaskan rasa keingintahuan mereka demi membongkar kedok misteri. Novel ini semula terdiri dari rangkaian 26 huruf asing berbahasa Norwegia, yang dialih bahasakan menjadi 26 huruf bahasa Indonesia oleh bantuan Ridwan Saleh. Sampulnya bergambar perpustakaan besar, dengan dua remaja di dalamnya dan judul utama berwarna emas. Melalui 282 halaman, pembaca disajikan kisah dua sepupu yang membuat buku-surat dari Fjaerland ke Oslo hingga membawa mereka pada misteri yang lebih besar. 

Sosok misterius Bibbi Bokken, si penggila dan pengoleksi buku serta surat yang dikirim oleh Siri padanya membuat Berit dan Nils merasa penasaran. Namun, ketika Berit menyusup ke rumah Bibbi Bokken untuk mengetahui misteri Bibbi Bokken, ternyata rumahnya kosong tanpa buku.  Kemana hilangnya buku-buku itu? Siapa sebenarnya Bibbi Bokken? Mengapa dia hadir di Fjaerland saat peresmian terowongan kendati dia bukan orang Norwegia? Apakah dia terlibat jaringan misterius bersama Mario Bresani, Smiley alias Marcus Buur Hansen pasangan Brunn, Ratu Sonja, sampai mantan wakil presiden Amerika, Walter Mondale?

Kebenaran terungkap saat Berit dan Nils menemukan perpustakaan Bibbi Bokken di bawah tanah. Bokken adalah seorang bibliografi yang ditunjuk sebagai penulis untuk acara Buku Tahunan Norwegia, berjuang agar buku anak-anak ditulis oleh anak-anak sendiri. Bibbi mengilhami Berit dan Nils lewat Billie Holiday untuk membuat buku-surat. Kemudian, Bibbi Bokken merancang skenario “surat jatuh” dengan nama samaran Siri, dibantu oleh teman-teman lamanya, pasangan Brunn dan Mario Bresani. Namun, rencana ini dihalangi Marcus Buur Hansen, kepala promosi yang ingin menggantikan penerbitan buku pada acara Buku Tahunan Norwegia dengan pemutaran video demi keuntungan pribadi. Bibbi akhirnya membangun perpustakaan di bawah rumahnya setelah ia mengusulkan pembuatan perpustakaan besar di bawah gletser Jostedalsbreen ditolak pemerintah.

Gaarder dan Hagerup membawa konsep penceritaan yang unik melalui buku-surat dan “buku yang belum ditulisnya” sebagai buku-buku masa depan yang menunggu untuk diciptakan. Namun, kedua penulis asal Norwegia ini tidak berhasil membuat cerita tetap segar sampai akhir. Penyampaian cerita yang berbelit-belit sehingga sulit untuk dipahami serta banyak memuat latar tempat yang asing  bagi pembaca awam. Akhir ceritanya yang tidak memberikan banyak kesempatan bagi karakter Bibbi Bokken untuk berperan lebih kompleks dengan latar belakang, pengetahuan, dan sosoknya yang memukau. 

Di sisi lain, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken banyak memberikan pengetahuan baru melalui istilah-istilah asing seperti incunabula, alamak, bibliografi, bibliophile, bibliografer. Buku ini juga memperkenalkan konsep penataan buku berdasarkan klasifikasi desimal Dewey. Terakhir, Gaarder dan Hagerup berhasil memperkenalkan konsep perpustakaan yang bukan sekadar sebagai tempat menyimpan buku, melainkan juga gerbang menuju imajinasi dan pemikiran yang lebih luas. 

Oleh: Ghina Rizka Rohiman
Editor: Amelya Queen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous post Tindakan Represif oleh Aparat kepada Massa Aksi di Kota Malang
Next post MERDEKA UNTUK SIAPA?