Salahkan Korban, Lupakan Kesalahan Utama Tersangka

gambar monic

Gambar diunggah dari tumbler

 

Masih segar di ingatan kita mengenai kisah tragis Yuyun. Gadis berusia 14 tahun ini tewas setelah diperkosa oleh 14 pemuda di Bengkulu. Yuyun dibunuh dalam perjalanannya sepulang dari sekolah melewati sebuah kebun. Kisah Yuyun ini menarik simpati sebagian besar masyarakat. Hashtag #NyalaUntukYuyun sempat menjadi trending topic di media sosial twitter. Yuyun bukanlah satu-satunya korban kekerasan seksual di Indonesia. Ada juga kisah mengenai seorang anak SD kelas VI di Lubuk Linggau yang diperkosa oleh 7 orang pemuda hingga sekarat. Peristiwa ini terjadi di tahun 2014. Sayangnya, tidak ada yang tahu mengenai kelanjutan kasus ini.

 

Kisah Yuyun dan bocah SD di Lubuk Linggau adalah potret kenyataan yang ada di Indonesia. Wanita di negara ini masih belum bisa berjalan dengan tenang, tanpa dihantui perasaan akan dilecehkan secara seksual. Masih belum ada penanganan serius yang diberikan kepada para korban pelecehan. Malah lebih banyak yang menyalahkan para korban sebagai salah satu penyebab dari terjadinya peristiwa pelecehan seksual. Contohnya saja pada kasus Yuyun. Seorang anggota DPR sempat membuat statement bahwa Yuyun turut menyebabkan terjadinya peristiwa tersebut karena berjalan kaki sendirian, sehingga menyebabkan terbukanya ruang bagi para pelaku untuk berbuat jahat.

 

Tanpa disadari memang telah beredar stigma yang salah mengenai korban pelecehan seksual. Korban yang didominasi oleh perempuan, dianggap tidak mampu menjaga diri atau berpakaian tidak pantas sehingga mengundang pelaku untuk berbuat jahat. Tidak heran jika banyak korban yang lantas memutuskan untuk menutup diri dan tidak melaporkan kasus yang menimpanya. Korban lebih memilih diam karena merasa malu dan takut dikucilkan. Padahal trauma yang diakibatkan oleh pelecehan seksual akan terus dirasakan korban hingga seumur hidup. Hal inilah yang disebut sebagai victim-blaming.

 

Victim-blaming sendiri merupakan salah satu tanda dari rape culture, yaitu keadaan dimana kekerasan seksual dianggap normal di mata masyarakat. Seperti yang dijelaskan di website magdalene.co “Rape culture is an environment in which sexual violence is pervasive and normalized in the media, popular culture, and society.”

 

Banyak hal yang menyebabkan tumbuhnya budaya victim-blaming di negara ini. Salah satunya adalah karena pendidikan seks yang kurang komprehensif. Hingga saat ini, pendidikan seks yang diberikan kepada anak hanya sampai pada aspek biologis yaitu mengenai fungsi organ reproduksi. Akibatnya, lebih banyak anak remaja yang tumbuh dengan cara mencari tahu sendiri seputar pendidikan seks. Ketika terjadi pelecehan seksual, akan lebih mudah untuk menyalahkan wanita atau faktor eksternal lainnya daripada faktor pendidikan yang diberikan kepada anak.

 

Kemudian, para pelaku juga belum diberi ganjaran yang setimpal atas perbuatan pelecehan seksual yang mereka lakukan. Beberapa tahun lalu sempat terdengar kasus mengenai seorang wanita yang dilecehkan di dalam Bus Trans Jakarta. Sayangnya ketika kasus tersebut dibawa ke pengadilan, sang hakim malah menanyakan pertanyaan yang tidak pantas seperti apa warna pakaian dalam yang ia gunakan atau mengapa ia mengenakan celana pendek, padahal sang korban adalah orang Aceh. Pada akhirnya, pelaku pelecehan seksual tersebut hanya diberi hukuman 18 bulan penjara. Sedangkan korban harus hidup dengan trauma psikologis seumur hidup.

 

Sebenarnya sudah ada peraturan yang mengatur tentang pelecehan seksual. Pemerintah sendiri saat ini tengah merumuskan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual yang mengatur penanganan pada kasus pelecehan seksual sampai penyiksaan seksual. RUU tersebut sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional, tetapi belum dibahas oleh DPR. Meskipun begitu, perancangan UU dari pemerintah ini masih dianggap kurang efektif. Karena masih banyak korban yang belum mendapatkan pendampingan secara hukum. Ditambah lagi korban juga seringkali mendapatkan intimidasi dari pelaku.

 

Budaya victim-blaming ini juga tumbuh akibat budaya patriarki yang ada di Indonesia. Wanita dilarang menggunakan pakaian terbuka di depan umum, dilarang untuk pulang malam, dilarang untuk berjalan sendirian, jika tidak ingin mengalami pelecehan seksual. Tapi tidak ada yang mengajarkan kaum pria untuk tidak memperkosa atau melecehkan wanita. Contoh sederhananya saja, ketika seorang wanita berjalan sendirian dan diberikan siulan atau kata-kata yang kurang senonoh oleh sekelompok pria, hal tersebut akan dianggap wajar. Orang mungkin akan berasumsi bahwa wanita tersebut mengenakan pakaian terbuka. Tetapi tidak ada yang menyalahkan para pria yang memberikan siulan.

 

Kisah Yuyun hanyalah satu dari sekian cerita mengenai rape culture di Indonesia. Masih banyak korban pelecehan seksual yang tidak mendapatkan perhatian khusus. Jika hal ini terus berlanjut, tidak heran jika akan muncul lagi Yuyun Yuyun yang lain di kemudian hari. Menyalahkan korban tidak akan menyelesaikan masalah. Pelaku pelecehan seksual seharusnya mendapatkan hukuman seberat-beratnya. Karena trauma yang didapatkan oleh para korban tidak akan bisa hilang dalam hitungan hari.

 

Karya:

Monica Nugraha (Manajemen 2014)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *