Mimbar Kebebasan Pers demi Mewujudkan Kebenaran

 

“Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus berbicara, karena bila jurnalisme bersumber dari fakta, maka sastra bersumber dari kebenaran”
-Seno Gumira Ajidarma.

World Press Freedom Day diperingati setiap 3 Mei di dunia, peringatan ini juga diadakan di Kota Malang. Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Pewarta Foto Indonesia (PFI), dan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kota Malang memperingatinya dengan mengadakan Mimbar Kebebasan Pers. Acara tersebut diselenggarakan di Alun-Alun Merdeka, Kota Malang yang dimulai pada pukul 09.00 WIB, Kamis 3 Mei 2018. Semangat yang membuat kawan-kawan jurnalis Indonesia khususnya di Malang mengadakan Mimbar Kebebasan Pers ini untuk menuntut kebebasan dalam mengungkapkan kebenaran. Faizal Ad Daraquthny selaku Sekertaris Jendral PPMI Kota Malang menambahkan bahwa kebebasan pers sudah terjamin sejak indonesia merdeka, tetapi saat ini masih banyak kasus kekerasan yang terjadi.

Rangkaian kegiatan yang dilakukan pagi itu dibuka dengan pemotongan pita, lalu dilanjutkan dengan orasi, puisi, dan teatrikal puisi yang dibawakan oleh perwakilan dari masing-masing lembaga. Ada pun pameran foto juga diadakan oleh PFI Malang untuk mengajak masyarakat bijak bermedia sosial, dengan menuliskan keterangan foto dan sumber foto yang sesuai fakta. “Selain itu peringatan ini juga jadi momentum untuk melawan intervensi dari pihak manapun baik dari perusahaan media atau pemilik media atau pemilik modal, jadi sudah seyogianya dan seharusnya produk jurnalistik itu bebas dari kepentingan apapun, kecuali menyuarakan kepentingan publik dan menyuarakan mereka yang tidak bisa bersuara,” ujar Hari Istiawan selaku Ketua Aliansi Jurnalis Independent Malang.

Tidak hanya kebebasan saja, hoax pun juga disinggung dalam acara kali ini. Hayu Yudha Prabowo sebagai salah satu anggota PFI Malang, menganggap hoax ialah musuh bersama yang dapat mengancam persatuan bangsa. Pembawaan hoax bertujuan agar masyarakat dan pemerintah tidak menerima informasi begitu saja. “Semakin bebas kan masyarakat sekarang, dimudahkan dengan gadgetnya sehingga penggunaan media sosial itu makin tidak terkontrol. Oleh karena itu, hoax gampang menyebar karena tidak adanya pemfilteran informasi dulu. Karena itu utamakan saring sebelum sharing,” tambah pria yang akrab dipanggil Ade.

Mimbar yang diadakan ini sangat didukung dengan ramainya masyarakat yang berada di Alun-Alun Merdeka. “Acara seperti ini bisa jadi sebagai alur informasi, media seperti ini bisa membantu masyarakat umum yang kesehariannya tidak membaca koran agar tau pers itu ngapain aja sih,” ungkap Aditya Irvandani selaku pengunjung alun-alun. Aditya juga menabahkan bahwa acara seperti ini bisa diadakan dua atau tiga kali dalam satu tahun guna menunjukan eksistensi jurnalis dalam melawan hoax. “Ini adalah momen bagi teman-teman jurnalis maupun media untuk introspeksi dan untuk merefleksi diri apakah selama ini sudah benar-benar patuh terhadap kode etik atau kaidah-kaidah jurnalistik dalam melakukan kerja-kerja jurnalistik nya itu,” tutup Hari mengakhiri wawancara. (Furqon)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *