Peluh dan Harapan dari Gerobak Biru

Teriknya matahari pagi di pinggiran Jalan Soekarno Hatta tidak menghalangi langkahku untuk bertemu dengan sesosok pria yang terus bersemangat walau tampak sudah renta. Bapak Ngatemar namanya, lelaki berumur 76 tahun. Dia bermukim di Jalan Raya Tlogomas bersama dengan sang istri. Keenam anaknya sudah tidak serumah lagi dengannya.

Pagi itu perbincangan dimulai dengan jabat tangan dengan beliau. Pak Ngatemar mengawali obrolan dengan menceritakan pekerjaannya, yaitu tukang patri. Tukang patri adalah orang yang bekerja melekatkan timah yang diluluhkan dengan batang logam, lalu dipanaskan untuk menambal wajan atau panci yang bocor. Saat ini sudah jarang orang yang mencari nafkah dengan menjadi tukang patri. “Tukang patri saat ini kurang dibutuhkan karena orang lebih memilih untuk membeli wajan baru daripada memperbaikinya,” ungkapnya. Mematri diawali dengan meluruskan bagian panci yang bergelombang, kemudian bagian yang bolong ditutupi dengan plat besi dengan cara disolder.

Saat jalanan mulai dilalui hiruk pikuk kendaraan, Pak Ngatemar bercerita bagaimana ia bisa menjadi tukang patri. “Dulu kan kerja membuat kompor (minyak) itu, terus bahannya sulit dicari dan sepi juga pembelinya. Akhirnya coba kerja gini dan lumayan,” ungkap beliau.
Umurnya yang sudah hampir mencapai kepala delapan tak membuat ia malas untuk melakukan pekerjaannya. Lelaki ini tetap berjalan kaki dengan gerobak patrinya dari rumah sampai ke Pasar Blimbing, lalu kembali lagi kerumahnya di daerah Tlogomas. “Berangkat pukul delapan dan pulangnya pukul empat, kadang surup (maghrib),” ujar Pak Ngatemar. Karena bapak ini bekerja dengan berkeliling, dalam sehari pelanggannya pun juga tidak menentu. “Kadang dua orangan yang pesan gitu,” tuturnya.

Tidak ada di benaknya pikiran untuk mengeluh menjadi tukang patri, karena hal itu merupakan pekerjaan yang bisa dengan mudah ia kerjakan. ” Ya karena cari kerjaan lain itu gak bisa, kalau di rumah saja juga jadi gak laku (jasanya),” tambahnya.
Di ujung perbincangan, tukang patri dengan tiga belas cucu ini juga berharap, “Ke depannya tetap ada pelanggan lah. Pokoknya cukup buat beli makan,” tutup beliau. (Naufal Ajo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *