Polemik di Balik Artis Cilik

Meskipun, mereka tampak senang saat melakukan pekerjaannya. Itu dikarenakan dia hanyalah anak-anak. Belum mengetahui mana yang benar dan salah.

Tujuh puluh dua tahun sudah, genap usia bumi pertiwi dari awal pendeklarasian kemerdekaan. Pelbagai permasalahan sudah banyak dilalui, dari yang sudah terselesaikan sampai yang masih menjadi pekerjaan rumah. Eksploitasi terhadap anak, satu contoh masalah yang terus diestafetkan di tanah ini. Lemahnya penegakan hukum, kelalaian orang tua, dan perkembangan zaman menjadi faktor yang memodernisasi caranya. Bilamana insiden perjodohan anak dengan tuan tanah untuk mendapatkan tahta dan hartanya sering terdengar di zaman feodal. Kini, di era teknologi praktiknya lebih kompleks dan terus berkembang.

Secara umum eksploitasi terhadap anak adalah segala bentuk upaya yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok terhadap anak dengan tujuan pemanfaatan fisik maupun psikis yang menguntungkan pihak terkait dan merugikan si anak. Sementara, anak didefinisikan sebagai seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan menurut Undang-Undang (UU) Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Bentuk eksploitasi terhadap anak kerap kali kita jumpai pada pekerja seks di bawah umur. Data dari United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) menunjukan di Indonesia terdapat 40.000-70.000 anak menjadi korban eksploitasi seks dan sekitar 100.000 diperdagangkan tiap tahunnya. Entah itu untuk diperdagangkan di dalam ataupun luar negeri. Selain itu, praktik menjadikan anak sebagai pengemis sudah menjadi rahasia umum. Hampir di setiap kota besar baik yang sudah menyandang predikat Kota Layak Anak atau belum, hal demikian mudah ditemukan. Kemudian, mempekerjakan anak pada dunia entertaintment. Fenomena ini sering dijumpai pada layar kaca kesayangan kita. Tingkah laku polos nan menggemaskan anak-anak sebagai pemeran mampu mendongkrak rating perusahaan stasiun televisi. Cara yang cukup logis bagi perusahaan untuk bersaing menjadi paling menarik di hati masyarakat. Namun, dengan dalih untuk mengembangkan minat dan bakat anak, jarang sekali yang menyebut ini sebagai tindakan eksploitasi.

Terlihat di Televisi
Di masa lalu kita mengenal Ibrahim Khalil Alkatiri atau yang dikenal Baim. Artis cilik yang sukses pada masanya dengan membintangi sejumlah sinema elekronik (sinetron) dan iklan. Awal karirnya dimulai ketika masih berusia tiga tahun. Saat itu, Baim bermain dalam sinetron kejar tayang berjudul Cerita SMA di tahun 2008 dan setelahnya banyak membintangi sinetron kejar tayang dan iklan.

Hal serupa dapat kita saksikan pada sinetron Raden Kian Santang yang tayang di tahun 2012 silam. Menurut Dr. Lintang Ratri Rahmiaji, M. Si dalam disertasinya yang berjudul Komodifikasi Pekerja Anak di Industri Sinetron Indonesia (Naturalisasi Eksploitasi Pekerja Anak di Sinetron Raden Kian Santang). Sinetron sebanyak 835 episode ini, mengikutsertakan sekitar 15-20 pemeran anak-anak yang masih di bawah umur dan delapan di antaranya adalah pemeran utama. Dalam satu naskah, terdapat sekitar 25-30 scene dan keterlibatan anak sebagai pemeran utama ada sekitar 15-17 scene. Satu scene menghabiskan waktu sekitar 30 menit sampai 1 jam setiap harinya. Demi mengejar waktu tayang, hari Minggu pun tetap digunakan untuk syuting. Tak jarang syuting di malam dan pagi buta harus dilakukan.

Masih di dunia pertelevisian, bagi para pecinta idol group dengan nuansa gadis SMA Jepang, mungkin tidak asing dengan nama JKT 48. Idol group yang berisikan wanita muda nan-cantik sebagai anggotanya. Rata-rata usia mereka masih di bawah umur sejak mereka bergabung ke dalamnya. Para anggota dituntut harus profesional dengan pelbagai agenda yang padat, misalnya seperti konser, membintangi iklan, teater rutin setiap minggunya, hand shake, dan sebagainya. Kehidupan pribadi mereka pun juga dijaga, mulai dari ketatnya aturan berkomunikasi dengan pihak luar sampai larangan menjalin asmara. Semua itu harus dilakukan untuk memenuhi selera fans agar tidak kecewa.

Itu hanya sebagian potret fenomena di negeri ini, akan terlalu sulit apabila membahas semuanya. Pada tahun ini pun praktiknya masih terjadi, seperti halnya anak berusia balita dari keluarga selebritis yang membintangi iklan atau memainkan film. Sebenarnya di dalam UU Nomor 13 tahun 2003 pasal 68 tentang Ketenagakerjaan telah disebutkan anak-anak dilarang untuk bekerja. Namun, terdapat syarat yang ketat saat ingin memperkerjakan anak. Hal ini dijelaskan pada pasal 69 ayat 1 bahwa pengecualian anak tidak boleh bekerja dapat diberikan bagi yang berusia minimal 13 tahun. Itu pun hanya untuk pekerjaan ringan yang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik, mental, serta sosial.

Meskipun terdapat usia minimum anak yang boleh dipekerjakan. Tetap ada syarat-syarat yang harus dipenuhi baik dari orang yang memberikan pekerjaan maupun orang tua. Misalnya mendapatkan izin tertulis dari orang tua/wali, adanya perjanjian dan hubungan kerja yang jelas, serta menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selain itu, jam kerjanya pun hanya boleh dilakukan pada siang hari dan maksimal tiga jam dalam sehari agar tidak mengganggu jam sekolah. Kesehatan dan keselamatan kerja pun harus tetap diperhatikan baik oleh orang tua ataupun pengusaha. Semua persyaratan tersebut sesuai dengan UU Nomor 13 tahun 2003 Pasal 69 Ayat 2.

Menelaah Dalih Pengembangan Bakat
Fenomena yang disajikan di antaranya telah melanggar batas minimum usia pekerja dan durasi waktu kerja. Meskipun, mereka (anak-anak) tampak senang saat melakukan pekerjaannya. Itu dikarenakan dia hanyalah anak-anak. Belum mengetahui mana yang benar dan salah. Turut ikutnya orang tua menemani di lokasi syuting, seolah menjadi pembenaran atas tindakan tersebut.

Sederatan jadwal kerja padat dan lingkungan yang tak sehat memberikan pengaruh di kehidupannya kelak. Mudah terjangkit penyakit, salah satunya. Ditambah harus melayani fans yang jumlahnya tidak sedikit dan pola makan yang tidak teratur. Padahal di usia anak-anak membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk istirahat. Seperti yang direkomendasikan oleh The American Academy of Sleep Medicine, anak usia 3-5 tahun harus mendapatkan 10-13 jam waktu tidur setiap hari. Kemudian, usia 6-12 tahun harus mendapatkan 9-12 jam waktu tidur. Lalu, usia 13-18 harus mendapatkan 8-10 jam waktu tidur. Tujuannya untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan perkembangan kognitif.

Bidang pendidikan juga tak luput dari imbasnya. Waktu anak yang keseluruhannya dihabiskan di lokasi syuting atau kerja, membuat pendidikannya lebih tertinggal dibanding yang lain. Mungkin sebagian orang tua dapat “mengakalinya” dengan memberikan home schooling kepada si anak. Namun, bagaimana dengan proses pembelajaran berinteraksi dengan sesama temannya? Apakah dapat ditanggulangi dengan menggunakan home schooling?

Dalam tahapan sosialisasi, masa anak-anak termasuk ke dalam tahapan meniru. Ketika berada di tengah rutinitas yang berisikan orang dewasa secara terus-menerus, tidak menutup kemungkinan si anak akan meniru perilaku mereka. Pada akhirnya anak akan mengalami proses tumbuh kembang yang tidak sempurna dan berperilaku tidak sesuai usianya.

Sebenarnya siapakah yang seharusnya disalahkan tentang masalah eksploitasi anak di dunia entertainment? Apakah dalih untuk mengembangkan bakat anak menjadi alasan para pelaku kebal hukum? Semoga di perayaan Hari Anak Nasional yang kesekian kalinya, terdapat kesungguhan untuk melindungi haknya. (Aris)

 

 

Daftar Pustaka :

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *