Semangat Kartini untuk Kemajuan STEM Indonesia

Perempuan Indonesia pada era kolonial merupakan sosok yang inferior. Sejak dulu laki-laki adalah kaum yang diproritaskan, sebab dianggap memiliki kemampuan berpikir yang baik dan layak melakukan pekerjaan berat. Sedangkan perempuan hanya dianggap sebagai pelengkap kehidupan semata. Lantaran dianggap lemah, mereka selalu berada di bawah ketidakadilan, bahkan hampir tidak diakui keberadaannya.

Kebebasan perempuan sangatlah terbatas mulai dari tutur kata, gerak-gerik, hingga pemikiran. Dalam konstruksi budaya Jawa peranan perempuan hanya berkisar pada tiga kawasan, yaitu di sumur (mencuci), dapur (memasak), dan kasur (melayani suami). Dapat disimpulkan peranan perempuan adalah macak, masak dan manak. Gambaran yang selaras dengan perempuan Jawa adalah konco wingking, yaitu pembantu yang melayani suami untuk urusan belakang. Rendahnya status sosial perempuan tersebut diperburuk oleh adat setempat, khususnya menyangkut budaya pingitan yang menutup ruang gerak mereka. Proses pingitan ini tidak memperbolehkan perempuan untuk keluar rumah sejak menstruasi pertama hingga waktu yang telah ditentukan, yaitu sebelum hari pernikahannya. Perlakuan lain yang dapat menyudutkan kedudukan kaum perempuan adalah poligami. Terlebih lagi, poligami umumnya dilakukan secara paksa untuk kemudian menjadikan perempuan sebagai selir.

Berkat peranannya yang marjinal, perempuan dirasa tidak perlu mendapatkan pendidikan yang tinggi. Pendidikan yang mereka peroleh hanya terbatas pada usaha mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ibu. Anak-anak perempuan pribumi boleh dikatakan tidak punya kesempatan menempuh pendidikan formal saat itu. Di kalangan pribumi, hanya anak kaum bangsawan yang bisa bersekolah, itu pun yang laki-laki saja.

Semakin luasnya kekuasaannya di Indonesia maka pemerintah kolonial perlu memanfaatkan potensi sumber daya manusia Indonesia untuk mempertahankan dan menjalankan struktur dan tugasnya. Tenaga kerja manusia yang profesional, setidaknya yang bisa membaca dan menulis semakin dibutuhkan. Hal tersebut akhirnya mendorong pemerintah kolonial untuk mengadakan pendidikan bagi kaum pribumi. Tatkala dikelabui oleh tradisi-tradisi yang ada di tempat tinggalnya, perempuan semakin terjajah kala itu. Mereka hanya dapat diarahkan sebagai buruh oleh para kolonialis, karena tidak mampu mendapatkan pendidikan.

Sesosok perempuan tangguh lahir mendobrak kultur patriarki pada masa itu. Raden Adjeng Kartini Djojo Adhiningrat yang kerap disapa Kartini datang menggerakkan emansipasi terhadap kaum perempuan zamannya. Tumbuh di dalam tatanan keluarga bangsawan yang taat adat, tidak menghentikan Kartini untuk terus berjuang. Pada masa pingitnya, ia kukuh menimba ilmu dengan mempelajari buku-buku yang diwariskan oleh kakak laki-lakinya, Kartono. Berbasis referensi yang dijelajahinya, ambisi Kartini untuk memajukan perempuan pribumi mulai menggebu. Kepandaiannya dalam berbahasa Belanda memudahkan Kartini untuk menulis surat pada teman-teman korespondensinya yang berasal dari Belanda. Ia menceritakan bagaimana situasi bangsanya saat itu, terutama kondisi perempuan pribumi yang begitu memilukan. Melalui jawaban dari surat-suratnya, inspirasi hadir dengan deras menggugah hasrat Kartini untuk memperjuangkan kesetaraan perempuan dan laki-laki, terutama hak untuk mendapatkan pendidikan.

Kartini berpendapat bahwa perempuan harus mendapat pendidikan agar sanggup maju dan mandiri. Ia berusaha menggugah kesadaran masyarakat daerahnya akan pentingnya kaum perempuan untuk bersekolah. Tidak hanya tingkat rendah, melainkan sekolah yang lebih tinggi, sejajar dengan kaum laki-laki. Bagi Kartini, perempuan harus terpelajar sehingga dapat mengembangkan seluruh kemampuan dirinya dan tidak tergantung pada siapa pun, termasuk suaminya. Atas dasar gagasan-gagasannya yang progresif, Kartini bertekad untuk membangun sekolah khusus perempuan. Setelah menikah, Kartini konsisten dalam menggapai cita-citanya. Ia berhasil mendirikan Sekolah Kartini yang dikhususkan untuk perempuan. Sudah banyak terjadi perubahan kepada perempuan saat itu. Kartini telah membuka jendela pemikiran para perempuan untuk memajukan pola pikir mereka, terutama dalam pendidikan.

Bertahun-tahun sejak berakhirnya masa penjajahan, ternyata budaya patriarki masih terus melekat. Anggapan bahwa laki-laki merupakan makhluk superior terus tumbuh hingga kini. Lahan pekerjaan yang didominasi oleh kaum laki-laki seolah membuktikan bahwa ketimpangan masih tersua. Hal-hal tersebutlah yang menjadi sumber ketakutan perempuan Indonesia untuk berkarya. Perjuangan Kartini seolah terkhianati, melihat masih ada banyaknya ketidakadilan gender. Namun, apakah perempuan sama sekali tidak bersalah?

Dalam bidang pendidikan, kesenjangan ini dapat dilihat dari krisisnya bakat perempuan Indonesia dalam STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics). Tak dapat dipungkiri, sebagaimana dunia telah berkembang menuju masyarakat digital dan informasional, sains dan teknologi merupakan salah satu penyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi. Ketergantungan pada tenaga kerja laki-laki tentunya tidak akan cukup untuk menjawab tuntutan zaman yang berkembang pesat.

Fakta akan pentingnya bidang STEM untuk dikembangkan ternyata belum berhasil mendongkrak semangat perempuan Indonesia untuk melawan rasa takutnya. Perempuan dalam STEM terus-menerus menurun dari sekolah menengah sampai dengan universitas, kemudian diteruskan dalam pekerjaan. Hal ini disebabkan oleh anggapan umum bahwa teknologi adalah bentuk maskulinitas yang menyebabkan pemanfaatannya diidentikkan dengan sifat laki-laki. Salah satu contohnya adalah infomation and communications technology (ICT). Tak jarang perempuan mengalami diskriminasi di ruang siber (cyber) yang membuat ruang geraknya menjadi sempit untuk menggunakan ICT. Selain itu, berdasarkan riset yang dilakukan oleh Jurnal Perempuan, ditemukan bahwa rasa takut ibu dan anak perempuan terhadap STEM telah mengakar dalam tradisi masyarakat, sekalipun yang modern.

STEM di Indonesia, selain di sekolah tingkat dasar, menengah, dan universitas, secara khusus diperkenalkan di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Menurut PDSP Kemendikbud 2015, siswi di SMK yang berbasis STEM (Teknik Pendingin & Tata Udara, Pemesinan, dan Teknik Kendaraan Ringan) hanya 2% dibandingkan siswa laki-laki yang hampir 98% (untuk kelas X, XI, XII dan XIII). Defisit anak perempuan dalam SMK dengan basis STEM menegaskan kembali disparitas gender secara nasional.

Padahal, telah terdapat banyak payung hukum yang melindungi hak-hak perempuan untuk mendapatkan kesetaraan dalam bidang pendidikan. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 5 Ayat 1 yang berbunyi, “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.” maka seharusnya tidak ada alasan perempuan untuk khawatir akan adanya diskriminasi gender dalam ranah pendidikan. Kondisi ini sangat jauh bila dibandingan dengan era Kartini dulu.

Tindakan afirmasi yang komprehensif tentu diperlukan untuk mengatasi kesenjangan gender dalam STEM. Namun, apakah kebijakan ini dapat berlaku secara optimal dalam jangka waktu yang panjang? Tentu tidak. Tindakan afirmasi dalam waktu lama justru akan membunuh semangat kompetisi pada kelompok masyarakat yang diuntungkan, dalam kasus ini adalah perempuan. Sementara pada pihak lain, hal ini memperkuat kesan ketidakadilan sebagai sesama warga negara. Upaya untuk mengatasi kesenjangan gender dapat terlaksana dengan sempurna apabila ada kehendak yang kuat dari perempuan itu sendiri. Semangat Kartini patut dihadirkan kembali untuk meneruskan jejak perjuangannya. Perempuan perlu menumbuhkan keberanian dan mereduksi segala ketakutannya.(Chairunnisa Firsta H.)

Editor: Nisrin Nasiha I.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *