Selamat Memperingati Hari Buku Nasional

Thomas B. Macaulay, sejarawan dari Amerika Serikat mengaku bahwa dia lebih memilih menjadi orang miskin yang tinggal di pondok penuh buku daripada menjadi raja yang tak punya hasrat untuk membaca. Mohammad Hatta pun mengatakan hal yang serupa, tapi dengan kondisi berbeda, ia mengaku untuk rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku ia merasa bebas. Kondisi yang dianalogikan bahwa mereka berdua akan rela dalam keadaan apapun asalkan bersama buku. Bisa kita pikirkan betapa berharganya buku pada masa itu. Dahulu buku memang menjadi primadona seluruh umat manusia, “buku adalah jendela dunia” memang benar adanya. Banyak orang-orang ternama dilahirkan oleh sebuah buku. Kini sayangnya, buku kebanyakan hanyalah menjadi alas untuk menulis saja, begitu timpang dalam penggunaanya.

Central Connecticut State University (CCSU) New Britain dalam studi “World’s Most Literate Nations Ranked” pada 09 Maret 2016 silam menunjukan Indonesia pada posisi 60 dari 61, beruntung masih di atas Botswana. Pemeringkatan perilaku literasi ini dibuat berdasar indikator kesehatan literasi negara, yakni perpustakaan, surat kabar, pendidikan, dan ketersediaan komputer. Ketika melihat dari kacamata negara, pihak yang patut disalahkan dalam hal ini ialah pemerintah Indonesia. Sebab, fasilitas penunjuang kurang diperhatikan oleh pemerintah. Seperti dilansir oleh idntimes.com, ada lebih dari 25.700 perpustakaan di seantero negeri, 1.161 di antaranya adalah perpustakaan umum yang berada di bawah tanggung jawab pemerintah. Sayangnya pemerintah hanya berperan 4.5% dalam mengobati kondisi literasi di Indonesia dari segi perpustakaan saja, sisanya masyarakat yang terjun langsung. Banyak perpustakaan umum berada di daerah yang berdiri dari usaha masyarakat dan itu pun tidak signifikan untuk membantu usaha pemerintah.

Lain hal ketika kita melihat dari sudut pandang yang berbeda, kondisi literasi di Indonesia diperburuk oleh pandangan dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat Indonesia masih enggan untuk membaca karena mereka tidak menggemarinya. Seharusnya ketika membaca menjadi hobi bisa menunjang kebutuhan akan pengetahuan. Keengganan masyarakat untuk membaca dapat menjadi boomerang yang berbalik menjadi hal yang merugikan bagi dirinya. Masyarakat lebih senang menggali pengetahuanya melalui media selain dari buku, seperti halnya internet. Padahal, belum tentu informasi yang didapat dari internet semuanya benar dibandingkan dengan buku. Dengan adanya International Standard Book Number (ISBN), buku sudah terjamin akan isi didalamnya dengan memberikan identifikasi terhadap satu judul buku yang diterbitkan oleh penerbit. Oleh karena itu, buku adalah media yang paling dapat dipercaya untuk menggali pengetahuan. Membaca sebuah buku juga perlu dipahami, layaknya seperti kita makan yang perlu dicerna terlebih dahulu.

Kurangnya optimalnya fasilitas dan pandangan dari masyarakat memang masih menjadi problematika literasi di Indonesia. Walaupun usaha pemerintah sebelumnya kurang optimal, akan tetapi mereka tidak diam begitu saja. Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Amich Alhumami dalam medcon.id menjelaskan bahwa pemerintah tengah menyusun program prioritas untuk tahun ini, di antaranya melalui penguatan literasi dengan “gerakan literasi masyarakat” untuk kesejahteraan masyarakat. Pun masyarakat tidak bisa menyalahkan pemerintah saja ketika literasi masih minim. Masyarakat dapat membantu untuk mengubah pandangan di lingkunganya terkait pentingnya buku dalam menunjang literasi. Salah satu cara yang dapat dilakukan ialah memberi contoh untuk rajin membaca buku di lingkungan yang kecil seperti keluarga. Dengan begitu, kita berharap apa yang dikatakan oleh Thomas B. Macaulay dan Mohammad Hatta di awal mengenai buku menjadi barang paling diburu orang banyak. (Furqan)

Ilustrasi: Ahmad Rifki Inderawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *