Selamat Memperingati Hari Kebangkitan Nasional

Apa yang membekas dalam perjalanan sejarah hingga Kebangkitan Nasional harus terus diperingati? Dalam perjalanan sejarah, “membekas” tak sekadar berarti “berkesan”, melainkan “berpesan”. Meninggalkan pesan, itulah pelajaran sejarah. Hari Kebangkitan Nasional adalah pesan sejarah tentang keterpecahan dan harapan. Diawali dengan terbentuknya organisasi Boedi Oetomo, gelora semangat perlawanan memantik perjuangan melawan kolonialisme. Pada akhirnya, hal ini berujung pada satu kesimpulan, yakni: gagasan kebangsaan. Tapi, kesimpulan atas pemaknaan pesan sejarah tersebut tidak hanya berhenti sampai di situ.

Sekitar 91 tahun yang lalu, terdapat pemuda tangguh bernama Mohammad Yamin yang berinisiasi menuliskan suatu ikrar pada secarik kertas untuk Indonesia. Ikrar pemuda ini tak hanya melibatkan penegasan gagasan kebangsaaan, akan tetapi juga kristalisasi semangat yang membakar jiwa-jiwa persatuan pemuda-pemudi Indonesia. Isi ikrar tersebut, tertera tiga hal, yaitu: bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu! Suasana yang menjadi tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia itu disebut Sumpah Pemuda. Jadi, perjalanan sejarah Kebangkitan Nasional memang tak sekadar “berkesan”, akan tetapi berpesan. Atas dasar itu, pada hari ini kita perlu bertanya, apakah kita mampu merawat pesan sejarah tersebut?

Baru-baru ini, bangsa Indonesia baru saja melaksanakan Pemilihan Umum (Pemilu) serentak sebagai sebuah ikhtiar bersama dalam rangka merawat keberlangsungan demokrasi di Indonesia. Meski pemungutan suara telah selesai, tampaknya gonjang-ganjing Pemilu pun belum bisa juga terurai. Semua pihak saat ini tengah menunggu hasil rekapitulasi suara di tingkat nasional oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pengumuman rekapitulasi KPU pada 22 Mei 2019 nanti akan diwarnai oleh aksi massa yang berkumpul di depan Gedung KPU. Aksi ini menuntut agar KPU menghentikan pengumuman hasil perhitungan suara. Aksi dengan slogan “people power” atau pun “kedaulatan rakyat” saat ini telah menjadi polemik dalam satu minggu terakhir. Publik cemas, dengan suasana Pemilu kali ini. Mengutip pernyataan Peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi, Fadli Ramadhanil menyatakan kondisi masyarakat saat ini sudah terpolarisasi dan terpecah belah akibat Pemilu 2019. Ditambah dengan dekorasi gerakan aksi 22 Mei, pun hal ini berpotensi membuat publik semakin cemas.

Suasana kecemasan massal ini harus segera diakhiri. Sebab kita mempunyai pesan sejarah, bahwa persatuan adalah keniscayaan. Bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu adalah pesannya. Hanya tiga itu. Hal ini berarti, memiliki pandangan politik yang berbeda, adalah kebolehan. Memilih cara menegakkan keadilan yang berbeda, pun adalah kebolehan. Selama tetap berada dalam koridor konstitusi, segalanya diperbolehkan. Kita tak boleh lupa, dahulu kita melawan kolonialisme secara bersama. Ingatan itu, adalah ingatan bersama. Dalam kebersamaan ingatan, akhirnya tersimpulkan, bahwa gagasan kebangsaan tak boleh dicederai dengan pertikaian antar saudara setanah air, sebangsa, dan sebahasa.

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, LPM Indikator mengajak seluruh pemuda-pemudi di Indonesia untuk membantu mengurai kecemasan publik saat ini. Upaya menjaga persatuan dapat dilakukan dengan cara apapun, baik secara individu, maupun kelompok, selama masih sesuai dengan koridor konstitusi. (Danar)

Ilustrasi: Faiz Qadri Sahri Lubis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *