Jeritan Kehidupan Terpinggirkan

Kesenjangan ekonomi yang menganga dirasakan dengan nyata dalam film “Turah”. Ia merayap masuk ke setiap adegan, mengguratkan penderitaan serta ketidakadilan dalam warna-warna dramatis dan tak terhindarkan. Dalam film ini, tersemat kisah Turah yang menjalani hidup bermartabat sebagai salah satu orang kepercayaan Darso, juragan di Kampung Tirang. Dengan ketamakannya, Darso mengeklaim tanah dan mempekerjakan warga Kampung Tirang bak budak seraya memberi upah rendah. Jadag, si pemabuk dan tukang onar, menilai apa yang dilakukan Darso adalah bentuk kesewenang-wenangan. Ia lantas melancarkan perlawanan terhadap ketidakadilan Darso.

Kerasnya persaingan hidup menyisakan orang-orang kalah di Kampung Tirang. Mereka dijangkiti pesimisme dan perasaan takut. Ancaman dan intimidasi dari kaki tangan penguasa pun mengancam kedamaian desa. Film “Turah” tidak hanya tentang pertarungan melawan kekuasaan dan modernisasi tanpa belas kasihan, tetapi juga pergulatan batin dalam mempertahankan keadilan serta integritas. Selain itu, kisah Turah menyiratkan keputusasaan warga dalam menentang arus modernisasi tanpa memperhitungkan hak mereka.

Film berdurasi 83 menit ini berhasil menangkap nuansa autentik kehidupan warga Tirang. Disutradarai oleh Wicaksono Wisnu Legowo, film yang dirilis pada 2016 ini menggandeng aktor teater hebat serta masyarakat sekitar untuk berpartisipasi. Wicaksono menyuguhkan film ini dengan emosional sehingga menggugah perasaan penonton terutama dalam menggambarkan perjuangan tokoh-tokoh di dalamnya. Eksekusi sinematografi yang memukau dan kualitas pengambilan gambar juga turut menjadi kelebihan film ini. 

Di samping keunggulannya, penceritaan film ini tergolong lambat dan terlalu dramatis. Bahkan, film ini seringkali melupakan unsur humor serta aspek lain yang dapat lebih menghibur dan menarik minat penonton. Beberapa karakter pun terasa kurang dikembangkan sehingga membuat hubungan antar tokoh kurang kuat dan intens. Biarpun demikian, keberhasilan “Turah” dalam menyampaikan pesan moral yang lekat dengan kehidupan membuatnya layak untuk ditonton.

Oleh: Asfa Andini U.
Editor: Lisa Rohmatin

Happy
Happy
0
Sad
Sad
2
Excited
Excited
0
Sleepy
Sleepy
0
Angry
Angry
0
Surprise
Surprise
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Hari Kebebasan Pers: Perlindungan Persma Masih Jadi Perhatian
Next post Alami Ketidakadilan, Pekerja Rumah Tangga Butuh Perlindungan