Pluralisme di Indonesia

fian

Pluralisme adalah kata benda yang berasal dari kata plural yang bila diterjemahkan menjadi ‘lebih dari satu’ atau ‘jamak’. Pluralisme adalah suatu paham atau pandangan hidup yang mengakui dan menerima adanya keanekaragaman dalam suatu kelompok masyarakat. Konsep ini sangat cocok apabila diadaptasi di Indonesia, di mana masyarakat Indonesia tidak terdiri dari suku, agama, atau ras tertentu. Dari Sabang hingga Merauke kita memiliki berbagai entitas yang beragam. Disaat Indonesia memiliki keaneragaman tersebut kita sebagai warga negara sudah seharusnya menjadikannya sebagai identitas bangsa Indonesia yang harus dihargai, bukan menjadi alat pemecah bangsa.

 

Isi Sumpah Pemuda adalah bukti bahwa Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi cita-cita pluralisme bangsa. Begitu pula Pancasila dan UUD 1945 yang mencerminkan kesadaran, komitmen, pandangan hidup, serta sikap hidup yang sama. Yang menjadi pertanyaan mendasar apakah kita sudah hidup untuk menghargai dan tidak merendahkan orang lain yang berbeda dari kita?

 

Kenyataannya mungkin jauh dari harapan. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan Setara Institute, di tahun 2015 terdapat 197 peristiwa dengan 236 bentuk tindakan pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di seluruh Indonesia. Dimana aktor dari banyaknya peristiwa tersebut adalah organisasi masyarakat keagamaan terus disusul oknum – oknum aparat Negara. Jenis tindakan pelanggaran yang dilakukan seperti intoleransi, penyesatan agama, penyebaran kebencian, perusakan rumah ibadah, dan penghentiaan kegiatan keagamaan lain. Jadi, dimana rasa kesadaran akan persatuan dan kesatuan? Mungkin tidak ada.

 

Ada permasalah fundamen ketika pandangan dan keyakinan diperdebatkan, apalagi menyebabkan kerusuhan yang menghilangkan nyawa seseorang. Kurangnya rasa kemanusiaan, rasa persatuan hingga rasa keadilan, atau bisa dibilang kurangnya nilai–nilai lima sila Pancasila. Menurut Abdurahman Wahid, bapak pluralisme Indonesia berkata, “Anti-Pancasila ialah menghalangi orang beribadah, membrangus diskusi, mengeruk kekayaan dan memiskinkan orang banyak.”

 

Jadi guna menjaga pluralisme bangsa yang hakiki adalah dengan memahami dan mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan sehari – hari seperti gotong royong di lingkungan masyarakat atau menjujung tinggi musyawarah mufakat. Sehingga harapannya muncul rakyat Indonesia yang mempunyai nilai toleransi tinggi guna menjaga pluralisme bangsa Indonesia yang indah ini.

Karya :

Alfian Nurdiansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *