Menyelisik Transformasi Lab. Kewirausahaan

Processed with VSCO with b5 preset
Indikator/Nida

 

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) resmi membuka Program Studi (Prodi) Kewirausahaan pada April 2016. Prodi yang berada di bawah Jurusan Manajemen ini akan menerima 60 mahasiswa baru melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan Seleksi Penerimaan Minat dan Kemampuan (SPMK). Sehingga perlu dilakukan penyempurnaan pada aspek-aspek penting seperti kurikulum, tenaga pengajar, dan fasilitas.

 

Meskipun kurikulum yang terperinci masih akan dibicarakan pada akhir bulan Mei, Ananda Sabil Hussein, Ph. D selaku Ketua Prodi Kewirausahaan menyatakan bahwa timnya sudah memiliki arahan yang jelas.  Mahasiswa mendapatkan satu mata kuliah berbasis proyek yang akan menggiring mereka untuk memiliki usaha sendiri di semester enam, tujuh, dan delapan.

 

Alokasi tenaga pengajar akan menyesuaikan kurikulum Prodi Kewirausahaan. “Tenaga pengajar kita siap. Konsep kita pengajar dari Jurusan Manajemen. Nantinya didukung oleh praktisi dan alumni,” ungkap pria yang akrab dipanggil Sabil tersebut.

 

Selain kurikulum dan tenaga pengajar, laboratorium (lab) kewirausahaan telah direncanakan oleh tim Prodi Kewirausahaan. “Konsepnya sudah jadi tinggal nunggu Dekan dan Wakil Dekan I sampai III ada waktu, kami akan presentasi. Nanti keputusan ada di pimpinan dekanat,” jelas Sabil. Tim perancang tidak ingin terburu-buru sebab lab nantinya mewadahi mahasiswa Prodi Kewirausahaan dalam berkarya sehingga kualitasnya perlu diperhatikan.

 

Sebelumnya, FEB telah memiliki lab kewirausahaan yang pemanfaatannya berada di bawah pengawasan Jurusan Manajemen. Lab tersebut bertujuan mewadahi kreativitas mahasiswa dalam bidang bisnis. Terletak di sebelah utara Gedung D, lab ini dulunya sempat menjadi ladang bisnis bagi beberapa mahasiswa Jurusan Manajemen. Mahasiswa Jurusan Manajemen yang memiliki usaha sendiri dapat mengajukan proposal kepada pihak jurusan. Setelah proposal disetujui, mahasiswa dapat berdagang di lab kewirausahaan.

 

Andi Ega Wijaya selaku  Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (HMJM) menjelaskan bahwa lab kewirausahaan tidak digunakan sebagai praktik mata kuliah terkait. “Kayak yang punya usaha boleh buka di situ,” ungkapnya. Sayangnya, lab kewirausahaan terpaksa ditutup melalui surat yang dilayangkan pihak dekanat kepada penggunanya. “Waktu itu tanggal 6 Mei 2015, isi suratnya kurang lebih kita harus mengosongkan tempat itu dalam waktu dua minggu,” jelas Muhammad Guntur Purwadi selaku salah satu pemilik usaha di lab kewirausahaan. Praktis setelah surat dilayangkan, mereka tidak lagi dapat melanjutkan usaha di sana.

 

Perintah pengosongan tersebut menimbulkan berbagai dampak, terutama bagi mahasiswa yang berdagang di lab kewirausahaan. “Waktu itu remuk hatiku. Sumber mata pencaharianku diputus,” ungkap mahasiswa Jurusan Manajemen Angkatan 2012 ini. Sebab usaha tersebut dilakoninya secara serius. Tiga orang yang digandeng Guntur dalam menjalankan bisnis di lab kewirausahaan turut menyayangkan keputusan dekanat. “Kalau enggak kosong sampai 20 Mei 2015, pihak jurusan tidak bertanggung jawab dengan apa yang terjadi di dalam gerobak,” imbuhnya. Kekecewaan mereka bertambah ketika renovasi yang dijanjikan tidak kunjung direalisasikan hingga kini.

 

Diberhentikannya lab kewirausahaan tidak hanya berdampak bagi mantan pengguna. Mahasiswa yang ingin menggunakan lab kewirausahaan turut terkena imbas. “Teman-teman yang ingin berwirausaha bingung lab kewirausahaan bisa dipakai atau enggak,” tutur Ega. Dampak lain atas terbengkalainya lab kewirausahaan adalah adanya oknum yang menyalahgunakan lokasi untuk hal-hal negatif seperti minum minuman keras. Penyalahgunaan tersebut sering didapati oleh pihak keamanan fakultas dan universitas.

 

Kegelisahan mahasiswa terkait aset FEB tersebut akhirnya terjawab dengan momentum diresmikannya Prodi Kewirausahaan. Meskipun seolah-olah fasilitas tersebut dibiarkan mangkrak tanpa progres, nyatanya gagasan terkait Prodi Kewirausahaan menuntut revitalisasi lab kewirausahaan. Koordinasi antara pihak dekanat dengan Jurusan Manajemen awalnya memang menghendaki penataan ulang lab yang lama. Namun, dengan resminya prodi baru di bidang tersebut, FEB dituntut memiliki lab kewirausahaan yang lebih komprehensif. “Proses pemikiran ini kan perlu waktu yang panjang. Apalagi melibatkan pihak rektorat,” jelas Dr. Aulia Fuad Rachman, Ak., SAS., Ca., selaku Wakil Dekan II.

 

Relokasi tentunya diperlukan guna mewujudkan lab baru tersebut. Sejauh ini, gedung dekanat menjadi opsi yang paling potensial. Sebab dekanat beserta jajaran staf administrasi akan dipindahkan ke gedung utama. Sehingga gedung yang sebelumnya ditempati oleh dekanat dapat direnovasi dan dimanfaatkan menjadi lab kewirausahaan. “Harapannya tahun ini pembangunan berjalan. Akhir tahun selesai, awal tahun depan bisa dimanfaatkan,” ungkap pria yang akrab disapa Fuad ini.

 

Konsep yang lebih representatif daripada lab lama telah dipersiapkan. Lab kewirausahaan tidak lagi hanya menjadi tempat mahasiswa untuk berdagang. “Entrepreneurship itu beda jauh dengan sekadar salesmanship,” imbuh Fuad. Lab ini akan difokuskan kepada tiga hal yakni kreativitas, inovasi, dan komersialisasi. Dirancang khusus untuk membuat mahasiswa memiliki jiwa kewirausahaan.

 

Lebih lanjut, Fuad menjelaskan bahwa kreativitas mahasiswa dapat dilihat dari sisi kualitas, desain, dan kemasan yang menarik sehingga produk memiliki daya saing. Setelah produk tersebut memiliki kualitas yang baik, barulah kemampuan pemasaran mahasiswa dilatih. Tidak hanya itu, kemampuan mahasiswa dalam mengatur keuangan juga akan diperhatikan. “Jadi, tidak hanya sekadar ada etalase kemudian jualan,” tandasnya.

 

Selain lokasi dan konsep, cakupan pengguna lab akan diperluas. Apabila sebelumnya hanya digunakan oleh mahasiswa Jurusan Manajemen, tidak demikian dengan lab baru. Rencananya, seluruh mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu di UB diperbolehkan untuk memanfaatkan lab tersebut.

 

Munculnya konsep baru telah memicu berbagai ekspektasi. Tim perancang bahkan menargetkannya menjadi yang terbaik di Jawa Timur. “Harapan tim adalah lab ini nanti bisa menjadi wadah agar mahasiswa atau mungkin masyarakat umumnya bisa semakin memperkuat bisnisnya,” jelas Sabil selaku salah satu konseptor.

 

Berbeda dengan harapan tim perancang yang berfokus pada kualitas, harapan mahasiswa terhadap lab lebih sederhana, yakni realisasi dan trasnparansi pembangunan. “Semoga enggak hanya cita-cita atau moto semata yang UB sebagai entrepreneur university,” ungkap Pietra Mahardianto, salah satu mahasiswa Jurusan Manajemen. Harapan turut dilontarkan oleh Ketua HMJM. “Misalkan itu nanti jadi direnovasi, dipertegas saja SOP-nya,” tutup Ega.

 

Karya:

Ika, Farit (CO), Nida

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *