Kurikulum Baru, Masalah Baru

Kurikulum memiliki peran penting dalam instansi pendidikan yaitu sebagai bahan acuan ajar. Seiring berjalan, kurikulum akan mengalami perubahan berdasarkan hasil evaluasi, seperti yang ada di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Ketua Program Studi Ekonomi Keuangan dan Perbankan (EKP), Setyo Tri Wahyudi, SE., Mec., Ph.D. mengatakan, “Program studi (prodi) itu yang membuat kurikulum, nanti dari situ dibuat tim prodi, ya bisa profesor, bisa ketua prodi pasti ya, dan juga dosen homebase-nya,” ungkapnya.

Perubahan kurikulum yang seyogianya untuk perubahan yang lebih baik justru menghadirkan permasalahan bagi mahasiswa dan dosen. Pemindahan Mata Kuliah Manajemen Strategik di Jurusan Akuntansi yang sebelumnya di semester 3, kini berada di semester 2. Dalam pembelajar­an nanti ada materi tentang Low Cost of Strategy yang membutuhkan pemahaman tentang konsep costing. Namun, dikarenakan mahasiswa belum mendapat Akuntansi Biaya, materi ini belum ditempuh sehingga dosen sulit untuk menjelaskannya. “Salah satu strategi penting yaitu Low Cost ­Strategy, tetapi mahasiswa belum mendapat costing. Ya, jadi memang belum tahu strategi biaya,” ujar Dr. Drs. Bambang Hariadi, M.Ec., Ak. Selain itu, menurut Bambang selaku dosen Manajemen Strategik, penempatan mata kuliah ini kurang pas karena dibutuhkan banyak ilmu dasar dan keahlian untuk mempelajarinya.

Namun, menurut Yeney Widya Prihatiningtias, SE., Ak., MSA., DBA. selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi pemindahan ini sudah tepat. “Inti­nya kalau Manajemen Strategik itu isinya hanya konsep. Kalau dulu itu ada teknis perhitungan segala macam itu dijelaskan di Menstra kalo sekarang enggak,” paparnya.

Selain di Jurusan Akuntansi, di EKP terdapat permasalahan dalam Mata Kuliah Perekonomian Indonesia dan Manajemen Keuangan ­Perusahaan. Setyo menjelaskan bahwa kurikulum EKP sudah out of date dan ba­nyak yang bias maka dari itu perlu diperbarui. Menurutnya, penggantian Mata Kuliah Per­ekonomian Indonesia dari semester 5 ke 2 sudah tepat. “Syarat untuk mengambil Perekonomian Indonesia bukan Makro Mikro 2 tapi hanya Pe­ngantar Ekonomi,” imbuhnya.

Pendapat berbeda dilontarkan oleh Nurman Setiawan Fadjar, SE., M.Sc. selaku dosen Perekonomian Indonesia yang menganggap perubahan ini kurang tepat. “Dalam mempelajari Perekonomian Indonesia mahasiswa harus bisa membaca tabel statistik sekaligus memahami masalah Ekonomi Mikro, Makro, dan Moneter,” ujarnya. Namun, mahasiswa semester 2 baru mendapat mata kuliah Pengantar Ekonomi. Hal serupa juga dipaparkan oleh Shofwan, SE., M.Si., “Perekonomian Indonesia itu aplikasi dari Ekonomi Mikro dan Makro,” ujarnya.

Bahkan, Nurman mengaku tidak bisa mengajar mata kuliah ini kepada mahasiswa semester 2. Dikarenakan hal ini, proses belajar mengajar tidak berlangsung selama empat kali pertemuan. Melihat hal tersebut pihak prodi dan jurusan memutuskan untuk menggantinya dengan dosen dari Jurusan Manajemen. Alasan penggantian ini disampaikan oleh Setyo, “Kalau ada salah satu dosen diganti dengan masalah-masalah seperti itu, maka kita harus mempertimbangkan beban kerja,” ucapnya. Namun, solusi yang diberikan oleh dosen pengganti untuk mengejar ketertinggalan dirasa kurang. Seperti yang dirasakan oleh Maria Fransisca Poda Toby mahasiswa yang menempuh Mata Kuliah Perekonomian Indonesia. “Sebenarnya dengan kita bikin makalah itu gak cukup buat nambal empat ­pertemuan ya,” ungkapnya.

Permasalahan tidak berhenti di sini, hal ini juga terlihat pada mata kuliah Manajemen Keuangan Perusahaan di Prodi EKP. Apabila dibandingkan dengan Jurusan Manajemen yang mendapatkan mata kuliah Manajemen Keuang­an Perusahaan 1 dan 2 sementara di sini hanya ditempuh selama satu semester. Hal ini membuat Toto Rahardjo, SE., MM., dosen Manajemen Keuangan Perusahaan angkat bicara. “Materi yang saya terima dari Garis Besar Program Pembelajaran-Satuan Acara Pengajaran itu yang menyusun gak benar,” paparnya. Ia menambahkan bahwa tidak cukup jika ingin membahas Manajemen Keuangan Perusahaan secara mendalam di satu semester saja.

Hal tersebut diperparah dengan tidak adanya Pengantar Akuntansi 2 yang dirasa perlu secara substansi untuk memahami mata kuliah ini. Toto menjelaskan, “Pengantar Akuntansi 1, Pengantar Akuntansi 2. Kompetensinya kan berbeda,” ujarnya. Ia juga menambahkan Pengantar Akuntansi 1 mengajarkan proses pencatatan transaksi sampai dihasilkannya laporan keuangan sedangkan Pengantar Akuntansi 2 lebih mengarah kepada kebijakan pencatatan.

Permasalahan tersebut timbul karena tidak adanya sinergitas antara pembuat kurikulum dengan dosen yang mengajar. Perubahan mata kuliah seharusnya terlebih dahulu didiskusikan bersama dosen pengampu. Nurman menjelaskan bahwa tidak adanya diskusi mengenai perubah­an kurikulum dengan dosen terkait menyebabkan kesalahan dalam penempatan alur mata kuliah. Toto juga mengatakan hal serupa, “Kita enggak pernah diajak ngomong, jadi tau-tau semester ini disuruh ngajar itu,” ucapnya. Lain halnya di Jurusan Akuntansi yang mengadakan rapat namun pembahasannya tidak terfokuskan. ­Bambang mengatakan, “Biasanya ada rapat tentang itu bersama dosen secara keseluruhan. Tapi bisa saja secara spesifik tidak, tidak dapat perhatian yang khusus gitu lho,” ujarnya.

Mahasiswa yang dirasa belum siap untuk menempuh mata kuliah tersebut mengaku kewalahan. “Sebenarnya berat karena materi yang di Manajemen Strategik kalau tidak belajar Akuntansi Biaya sebelumnya tidak akan paham mengenai materinya,” ujar Fatimah Kharisma, Mahasiswa Akuntansi 2017 yang menempuh Mata Kuliah Manajemen Strategik. Selain itu Maria juga mengaku bi­ngung saat Perekonomian Indonesia ditempuh bersama dengan mata kuliah Mikro dan Makro. “Jadi kayak masih abu-abu gitu lho. Jadi sekalipun kita dikasih bahan pun materi kayak susah gitu buat masuk,” ujarnya.

Dari pihak dosen pun merasa kesulitan dalam proses belajar-mengajar. Bambang mengatakan, “Mahasiswa baru kan baru dapat yang basic seperti Pengantar Akuntansi dan Pengantar Manajemen, mau menjelaskan materi yang lebih lengkap jadi tidak nyambung,” ujar­nya. Hal tersebut juga disampaikan oleh ­Nurman, untuk mengajar mahasiswa semester 2 itu terlalu dini karena mereka masih dalam masa transisi SMA. Manajemen Keuangan Perbankan yang hanya dibe­rikan satu semester sehingga membuat dosen bingung dalam mengajar. Seperti yang disampaikan Toto, “Satu dua ini dicampur aduk gak karu-karuan, sehingga yang ngajar nanti ya bingung, mahasiswanya juga bingung,” jelasnya.

Kesalahan yang terjadi dalam perubahan kurikulum semester ini diharapkan menjadi pembelajaran untuk semester selanjutnya. Toto berharap, “Sebelum menjual program studi, kan kita mengajar. Seseorang yang sudah lulus dari program studi ini diharapkan memiliki kemampuan. Dirancang dulu kurikulumnya, kemampuannya, apa mampu menjawab persoal­an masalah yang akan datang itu apa, kan gitu,” paparnya. Maria juga berharap agar kurikulum bisa disesuaikan lagi agar mahasiswa lebih paham dengan apa yang dijelaskan.

 

Ajeng (CO), Nisrin, Saskia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *