Hari Keuangan Nasional

Uang, tentu kita semua tahu bahwasanya itu merupakan salah satu alat tukar yang dapat diterima secara umum oleh masyarakat. Tepat di hari ini, 73 tahun yang lalu pemerintah Indonesia menerbitkan dan meresmikan uang kertas pertamanya. Oeang Republik Indonesisa (ORI) resmi beredar pada tanggal 30 Oktober 1946 setelah Pemerintah Indonesia mengeluarkan maklumat yang berisi tentang berlakunya uang Nederlandsch Indie Civil Administrative di wilayah Indonesia. Pengeluaran maklumat tersebut pada tanggal 2 Oktober 1945 dirasa perlu karena pererintah Indonesia menilai setelah kemerdekaan, Indonesia harus mengeluarkan uang sendiri sebagai alat tukar dan sebagai suatu lambang negara. Pada saat itu penggagas pertama untuk segera menerbitkan mata uang sendiri adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia tahun 1946, Sjafruddin Prawiranegara. Penerbitan pertama ORI kemudian ditetapkan sebagai hari Oeang Repubik Indonesia atau sekarang dikenal sebagai Hari Keuangan Nasional.

Di atas adalah sepintas sejarah mengapa kita sampai saat ini mengenal uang Rupiah dan memperingatinya. Tidak semua hal yang berkaitan dengan keuangan adalah uang. Saat ini Indonesia mulai memasuki keuangan yang lebih kompleks dari pertama kalinya ORI keluar. Banyak bermunculanya jasa keuangan yang diantaranya perbankan, perasuransian, dan pergadaian. Hal itu juga diiringi dengan munculnya lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan. Lembaga OJK dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan. Lembaga independent ini dibentuk merupakan upaya dari pemerintah Republik Indonesia menghadirkan lembaga yang mampu menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan terhadap keseluruhan kegiatan sektor keuangan, baik perbankan maupun Lembaga keuangan non-bank.

Dewasa ini, OJK terlah mengeluarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan yang berjarak 3 tahun sekali sejak 2013. Tujuan utama dari survei ini adalah sebagai bahan masukan OJK dan industri jasa keuangan dalam pelaksanaan kebijakan serta sebagai alat evaluasi. Dalam survei tersebut kita dapat melihat perkembangan masyarakat Indonesia dalam memahami kompleksitas keuangan saat ini. Data menyebutkan literasi keuangan masyarakat Indonesia di tahun 2013 terdapat 21.84% dan 2016 meningkat menjadi 29.66%. Literasi keuangan disini mengenai masyarakat Indonesia memiliki pengetahuan dan keyakinan akan berbagai lembaga jasa keuangan serta produk jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan, serta memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan. Pun dilansir dari finance.detik.com Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Edukasi Perlindungan Konsumen Tirta Segara menyebut tingkat literasi keuangan meningkat 35%. Terdapat satu variabel penelitian lagi dari survei tersebut, yaitu inklusi keuangan mengenai jumlah masyarakat Indonesia yang menjadi nasabah atau pengguna jasa keuangan. Hal ini juga meningkat dari tahun 2013 hingga 2019, di mana dari awalnya 59.74% sekarang mencapai 75%.

Jika kita lihat baik inklusi dan literasi keuangan masyarakat indonesia meningkat tiap tahunya, akan tetapi ada yang perlu di perhatikan lebih. Keduanya tentu memiliki keterkaitan satu sama lain. Inklusi tanpa literasi mumpuni tidak akan bermakna signifikan, terutama terhadap perekonomian. Ketimpangan persentase yang jauh antara inklusi dan literasi keuangan masyarakat Indonesia akan menimbulkan dampak negatif. Maraknya akses saat ini dalam bidang teknologi finansial (tekfin) yang masuk kedalam kehidupan masyarakat ditabrak dengan minimnya pengetahuan tentang keuangan akan mengakibatkan kerugian. Jasa keuangan yang menggunakan tekfin dapat mudahnya mengekspoitasi masyarakat yang minim literasi. Oleh karena itu, sebagai masyarakat Indonesia yang menghadapi perkembangan zaman harus lebih paham dan mengerti dengan apa yang kita hadapi agar dapat memajukan perekonomian Indonesia.

Ilustrasi: Faiz Qadri Sahri Lubis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *