Tubuh Disiplin, Merdeka Perlu Amin

Paulo Freire berpikir bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki hubungan dengan dunia sebagai agen perubahan bagi dirinya. Pemikiran tersebut menciptakan konsep pendidikan yang membebaskan. Konsep ini lahir sebagai bentuk perlawanan Freire terhadap kondisi pendidikan yang dijadikan alat untuk melakukan penindasan oleh kelompok penguasa. Sebab itu, Freire menerapkan proses dialektika dalam hubungan pendidik dan peserta didik. Peserta didik diajarkan mandiri dalam memilih pilihan hidup sehingga tidak ada penindasan lewat sistem pendidikan.

Berselisih dengan konsep pendidikan Freire, terdapat konsep pendisiplinan tubuh (Disciplinary Power) yang digagas oleh Michel Foucault. Disciplinary Power adalah sebuah teknologi kekuasaan yang dijalankan untuk mendisiplinkan tubuh dan membuatnya menjadi tubuh yang patuh dan berguna. Konsep tersebut digunakan sebagai alat untuk menguasai dan mendisiplinkan tubuh seseorang melalui berbagai cara tanpa dapat disadari. Dapat dikatakan bahwa segala yang dianggap benar merupakan manifestasi dari langkah menguasai subjek. Secara substansi, konsep ini diterapkan dalam Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Brawijaya 2019 (PKK-MABA FEB UB 2019). Kegiatan yang melibatkan ribuan mahasiswa baru dalam penerapannya ini, menguasi empat aspek. Adapun antara lain: aspek ruang (Space Concept), aktivitas & perilaku, ujian (The Examination), dan hukuman (Punishment).

Aspek pertama ialah ruang (Space Concept), aspek ini berangkat dari konsep panoptikon. Panoptikon ialah konsep ruang penjara di mana kamar narapidana dibuat melingkar dan di tengah-tengahnya terdapat menara tinggi tempat penjaga mengawasi hal-hal yang dilakukan oleh narapidana. Tanpa kita sadari nyatanya konsep ini diterapkan dalam keseharian mahasiswa baru FEB UB 2019 (Krida Harian). Terlihat dari diaturnya dan diawasinya mahasiswa baru oleh panitia yang tersebar di lingkungan FEB UB. Hal yang dilakukan panitia ini memperkuat dominasi mereka terhadap tubuh subjek (mahasiswa baru) secara tidak disadari.

Setelah menguasai ruang dari subjek, berikutnya pendidik membuat batasan terhadap aktivitas & perilaku. Seperti halnya dalam PKK-MABA FEB UB 2019, panitia membentuk peraturan pakaian hitam-putih sehingga tercipta suatu identitas yang memisahkan mahasiswa baru dan lama. Identitas tersebut dibentuk sehingga muncul standar pakaian yang menurut panitia merupakan bentuk dari kedisiplinan.

Hal berikutnya, pendidik melakukan pengikatan melalui ujian (The Examination). Ujian merupakan kolaborasi pengawasan antara kekuasaan dan pengetahuan. Panitia PKK-MABA FEB UB 2019 menerapkan kategori pelanggaran, dimulai dari kategori ringan, sedang, sampai berat. Mahasiswa baru yang melakukan pelanggaran diinspeksi sesuai kategori pelanggarannya. Salah satunya adalah pengenaan pakaian di luar ketentuan yang diatur dalam kategori pelanggaran krida mahasiswa harian ringan. Walaupun termasuk pelanggaran ringan, mahasiswa baru dibuat jera melakukan pelanggaran. Hal ini terjadi karena pakaian hitam-putih sudah identik dengan mahasiswa baru. Jika ada mahasiswa baru yang pergi ke kampus dengan pakaian di luar ketentuan, akan merasa janggal karena teman-temannya yang lain mengenakan pakaian hitam-putih. Oleh karena itu, dominasi tubuh mahasiswa baru masih langgeng dipegang oleh panitia.

Upaya terakhir, pendidik memberi hukuman (Punishment). Hukuman dibuat untuk menguatkan daya kuasa dan umumnya bersifat represif. Dalam PKK-MABA FEB UB 2019, terdapat pertimbangan bagi mahasiswa baru memenuhi kriteria untuk dinyatakan lulus ospek. Mahasiswa baru pun turut mengkhwatirkan isu akan status kelulusan ospek yang berdampak pada tahap penyusunan skripsi. Hal ini mendorong mereka untuk mengikuti peraturan sebab adanya rasa khawatir akan pengulangan masa orientasi.

Penerapan disciplinary power dalam PKK-MABA FEB UB 2019 membuat konsep pendidikan Freire yang dianggap ideal tidak dapat berjalan. Sebab dengan begitu, terbentuk rasa takut yang dialami mahasiswa baru terhadap sanksi juga sistem sidak yang kental dengan sifat menakutkan.  Rasa takut ini membuat PKK-MABA FEB UB 2019 berlangsung dengan kritisisme yang tumpul. Mahasiswa baru tidak dapat mengeluarkan kritiknya karena sarat akan perlindungan.

Tumpulnya kritisisme dan adanya rasa takut yang berlarut-larut mengundang sikap superioritas ilusif untuk bersemayam dalam diri mahasiswa lama. Begitupun mahasiswa baru pada nantinya. Superioritas ilusif merupakan kondisi individu/kelompok yang menganggap dirinya memiliki keterampilan lebih dibanding orang lain, padahal keterampilannya tersebut belum tentu lebih baik dibanding yang lain. Sikap ini secara tidak sengaja membentuk layaknya sistem feodal di dalam Keluarga Mahasiswa FEB UB. Sistem yang sarat akan kebebasan ini memiliki pengaruh besar bagi sang penguasa dalam kelompok lain dengan cara mempertahankan tradisi-tradisi lama.

Feodalisme seharusnya tidak tumbuh di kalangan antar mahasiswa, karena mahasiswa pada dasarnya memiliki hak & kewajiban yang sama. Sungguh miris, keberadaan jiwa feodalisme sudah mengakar dalam KM FEB UB dan diterapkan secara turun temurun oleh pihak-pihak yang terhegemoni. Permasalahan PKK-MABA FEB UB 2019 hanyalah salah satu dari dampak yang tidak akan selesai sebelum seluruh pihak bersepakat untuk mengubah sistem.

Untuk mengatasi hal tersebut, panitia PKK-MABA FEB UB 2019 dapat benar-benar mengamalkan asas demokratis sebagai landasan berkegiatan (seperti yang sudah tertera dalam Tata Tertib PKK-MABA FEB UB 2019). Asas ini perlu diutamakan untuk mencegah terciptanya ketakutan yang berujung nihilnya kritik.

Dalam kasus ini, panitia PKK-MABA FEB UB 2019 dapat melakukan diskusi terbuka. Upaya ini mendukung konsep Freire yang menyatakan bahwa pendidikan seharusnya dilakukan secara terbuka dan memerdekakan peserta didik. Penerapannya dapat mempraktikkan metode dialektika ala Hegel. Menurut Hegel, dialektika adalah dua hal yang bertentangan lalu didamaikan. Diskusi dimulai dengan adanya tesis (pembenaran) dan anti-tesis (pengingkaran) yang dipertemukan secara radikal sehingga keduanya mencair lalu menghasilkan sintesis (kesatuan kontradiksi). Tentunya diskusi terbuka ini harus difasilitasi oleh panitia PKK-MABA FEB UB 2019 selaku penyelenggara.

Harapannya, dengan diskusi terbuka, panitia PKK-MABA FEB UB 2019 dan mahasiswa baru dapat saling mengevaluasi sehingga lahir konsep baru yang lebih ideal. Penutup dari penulis, teruntuk panitia Inception PKK-MABA 2019, dengarkanlah aspirasi-aspirasi mahasiswa baru. Sebab jika tidak, niscaya sejarah akan mencatat kemunafikan.

Oleh: Putu Arya Diva Mahardika
Ilustrasi: Putu Arya Diva Mahardika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *