Hari Perbudakan dan Pembebasan

Malam menjelang tanggal 23 Agustus 1791 di Santo Domingo, Haiti, sekelompok budak laki-laki dan perempuan bergerumul sudah bersiap sedia. Hari esok, dalam hati para budak itu sambil berdoa, adalah hari kemenangan yang sudah dinanti-nanti. Kisah ini adalah fakta. Kisah ini adalah sejarah memilukan selama ratusan tahun. Kisah ini bercerita tentang tragedi kemanusiaan, ketika manusia menghisap darah manusia. Singkat berkisah, pada akhirnya meletuslah pemberontakan habis-habisan terhadap sistem perbudakan di dalam negeri itu. Lahirlah kemerdekaan Haiti pada tahun 1804.

Sekelompok budak yang menerobos batas-batas kondisi sosial-politik demi mencapai kebebasan telah sampai ke pada titik kegembiraan. Haiti saat ini, dikenal dan dikukuhkan sebagai negara bentukan para budak. Kisah ini telah menggugah para seniman dunia tuk merangkai mahakaryanya dalam bentuk yang berbeda-beda. Semuanya memiliki keselarasan tujuan: bercerita untuk mengingatkan. Mereka para seniman berupaya mengingatkan kita semua tentang darah yang mengalir di riak sungai Santo Domingo. Mereka para seniman bercerita, tentang asam garam di ladang-ladang raksasa tanpa bayaran. Juga mereka bercerita tentang borgol, rantai, cambuk, hingga hikayat pilu lainnya yang berurai air mata.

Revolusi Haiti merupakan titik balik dalam sejarah manusia yang memiliki implikasi besar dalam diskursus hak asasi manusia universal. Perjuangan atas nilai kebebasan ini menggeser sistem sosial, kultural, dan politik Haiti. Revolusi Haiti telah melahirkan moralitas terbaharukan yang dengan tajam diperbincangkan oleh para akademisi dari masa ke masa hingga kelahiran konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa: Declaration of Human Right. Juga pemberontakan yang dipimpin sendiri oleh budak ini adalah sebuah inspirasi besar dalam dunia modern untuk memerangi segala bentuk perbudakan, rasisme, prasangka, diskrisminasi rasial, dan ketidakadilan sosial. Tidak ada alasan untuk tidak berperang sebab unsur-unsur ini adalah prima causa dari segala persoalan kemanusiaan.

Atas dasar itu, UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organizatio) menetapkan 23 Agustus sebagai hari Internasional Untuk Mengenang Perdagangan Budak dan Penghapusannya. Tujuannya untuk menanamkan tragedi perdagangan budak dalam benak semua orang. Merujuk pada pernyataan Direktur UNESCO, Irina Bokova, all of humanity is part of this story, in its transgression and good deeds. Diawali dengan pernyataan itu Bokova menambahkan, cara terbaik menghormati kontrisbusi pejuang kebebasan adalah dengan cara bercerita tentang perdagangan manusia dan perbudakan.

Jadi, mengingatlah, niscaya kita kan terbebas dari kungkungan kejahatan kemanusiaan!
(Umum)

Ilustrasi: Faiz Qadri Sahri Lubis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *