Tolak Kriminalisasi!

Kamis (26/09), sekitar pukul 23:00 WIB, Dandhy Dwi Laksono, jurnalis, Pendiri Watchdoc dan juga sutradara film Sexy Killers, ditangkap oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan dibawa ke Polda Metro Jaya. Merujuk Surat Perintah Penangkapan Nomor: SP/Kap/463/IX/RES.2.5/2019/Ditreskrimsus, Dandhy ditangkap karena alasan cuitan di media twitter mengenai Papua. Pria kelahiran Lumajang ini dituding melanggar pasal 28 ayat (2) dan pasal 45A ayat (2) UU ITE dan/atau pasal 14 dan pasal 15 KUH Pidana. Dandhy diperiksa selama hampir empat jam di Gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Pada Jumat (27/09) sekitar pukul 04:00 WIB, Dandhy dibebaskan. Meski tidak ditahan, status Dandhy adalah tersangka.

LPM Indikator menilai, cuitan-cuitan Dandhy adalah bagian dari upaya memperbaiki kondisi Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi. Penangkapan ini menunjukkan perilaku reaktif kepolisian untuk isu Papua dan sangat berbahaya bagi perlindungan dan kebebasan informasi yang dijamin penuh oleh UUD 1945. LPM Indikator mendesak agar Penyidik Polda Metro Jaya mencabut penyematan Dandhy sebagai tersangka. Juga kami mendesak agar Polri menghargai HAM yang sepenuhnya dijamin konstitusi RI dan tidak reaktif  dalam menghadapi tuntutan demokrasi. Mengenai hal ini tidak terkhusus pada Dandhy, tetapi siapapun yang membantu dalam memperbaiki kondisi negara ini agar terbebas dari kriminalisasi.

Kami berharap, publik dapat mengawal dan ikut bersolidaritas untuk mebebaskan Dandhy dari status tersangka. Adapun cara-caranya, sebagai berikut:
1) Membaca, menyerap, dan memahami kasus posisi yang menimpa Dandhy dari sumber terpercaya;
2) Mengambil sikap dengan mengisi petisi ditautan
(https://www.change.org/p/kepala-kepolisian-republik-indonesia-hargai-kebebasan-berpendapat-bebaskan-dandhy-laksono?signed=true); dan
3) Menyebarluaskan dukungan solidaritas ini seluas-luasnya baik ke teman, keluarga, kolega, dosen, lembaga kemahasiswaan dan lain sebagainya.
#LPMIndikatorBersamaDandhy
#BebaskanDandhy
#Stopkriminalisasiaktivis

Ilustrasi: Muhammad Furqan Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *