Mahasiswa UB Gelar Aksi “Kepung Rektorat”, Tuntut Transparansi Kajian SPPG

Aksi “Kepung Rektorat” digelar oleh mahasiswa Universitas Brawijaya di depan Gedung Rektorat UB pada Selasa (9/6/2026). Aksi ini dilakukan untuk menuntut transparansi sikap dan kajian akademik kampus terkait rencana pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Presiden Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (EM UB), M. Azhar Zidane, mengatakan aksi tersebut muncul sebagai respons atas wacana masuknya SPPG ke kampus yang dinilai menimbulkan keresahan di kalangan mahasiswa. “Dari kawan-kawan mencoba untuk menghimpun, setidaknya dari beberapa ada yang kolektif dari organisasi yang pun organisasi, akhirnya kita bersama-sama untuk sepakat bahwa akan melakukan aksi ini,” ujar Zidane.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menuntut Universitas Brawijaya menolak secara tegas rencana pengelolaan SPPG di lingkungan kampus serta mempublikasikan hasil kajian akademik yang disebut sedang dikaji oleh pihak kampus. Mahasiswa juga meminta pihak rektorat untuk menyediakan ruang diskusi bersama agar mahasiswa dapat terlibat dalam pembahasan kajian tersebut. “Kami ingin menagih bagaimana kajian akademik yang disampaikan, naskah akademik yang disampaikan, yang katanya sekarang sedang dikaji, untuk dapat ditransparansikan dan menghadirkan wadah-wadah diskusi deliberatif kepada mahasiswa pula,” kata Zidane. Ketua BEM FEB UB, Marshal Leon, menyatakan mahasiswa menginginkan pernyataan tegas dari pihak kampus mengenai sikap Universitas Brawijaya terhadap rencana pembangunan SPPG. Menurut Leon, massa aksi juga mengharapkan kehadiran Wakil Rektor IV UB Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi untuk memberikan penjelasan terkait posisi kampus terhadap rencana tersebut. Namun, hingga aksi berlangsung, perwakilan rektorat yang diharapkan menemui massa aksi tidak hadir.
Massa aksi turut membawa sebuah surat permohonan maaf yang ditujukan kepada Universitas Brawijaya. Dalam surat tersebut, kampus secara simbolis digambarkan meminta maaf karena dinilai berencana menjadikan kampus sebagai bagian dari pelaksanaan MBG serta mengabaikan mandat Tri Dharma Perguruan Tinggi. Zidane mengatakan mahasiswa berharap Universitas Brawijaya tidak terburu-buru mengambil keputusan dan bersedia mendengar aspirasi mahasiswa melalui ruang diskusi yang terbuka. Mahasiswa memberikan tenggat waktu 3×24 jam kepada rektorat untuk merespons tuntutan yang disampaikan. “Jika tidak, kami nanti akan konsolidasikan lebih jauh lagi, di medium yang lebih besar lagi nantinya,” tegas Zidane. Leon menambahkan bahwa apabila tuntutan tersebut tidak mendapat respons, mahasiswa berencana menginisiasi kembali aksi lanjutan pada waktu mendatang.
Penulis: Rifka Rochima
Editor: Lutgardis Angelina R.
Foto: Panji Setiawan
Tata Visual: Lailatul Azizah
