Resensi Novel Satine

Novel Satine mengangkat kisah romansa berlatar modern di kota metropolitan. Dua tokoh utama, Satine dan Ash diceritakan sebagai pribadi yang sama-sama sukses namun masih melajang. Dengan karir gemilang di usia menjelang 40 tahun, mereka harus menghadapi stigma masyarakat yang memandang rendah orang belum menikah di usia matang. 

Satine dan Ash bertemu melalui biro jodoh. Kencan demi kencan dijalani, mereka berdua terjebak dalam perjanjian di atas kertas yang menekan hubungan di batas pertemanan. “Saya cuma butuh teman bicara,” kalimat yang tertulis pada bagian belakang buku membocorkan awal mula konflik buku dimulai. Perjanjian untuk menjadi sebatas teman—Satine dan Ash melanggar itu dengan perasaan rumit mereka.

Di samping genre romansa, novel Satine mengulas komplikasi kehidupan kedua tokoh utama. Ika Natassa mengungkap alasan di balik Satine masih melajang akibat traumanya pada hubungan masa lalu, dan bayang-bayang masa kecil Ash yang membuatnya menarik diri dari komitmen. Sang penulis sukses mengemas konflik dan menyelesaikannya secara apik dalam satu cerita.

Pada bab-bab awal, buku ini cukup membuat jenuh dengan dua sudut pandang yang menceritakan adegan sama, membuatnya repetitif. Tetapi semakin jauh dibaca, kedekatan dengan tokoh Satine dan Ash akan mengalir membawa kita terhenyak ke dalam cerita mereka. Kisah Satine dan Ash menarik garis besar perihal menerima takdir dan berdamai dengan perasaan sendiri.

Penulis: Andria Setyaningsih
Editor: Davin Shodiq
Tata Visual: Callysta Putri H.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous post Mahasiswa UB Gelar Aksi “Kepung Rektorat”, Tuntut Transparansi Kajian SPPG
Next post Rapor Merah Tata Kelola Negara: Massa Soroti APBN dan Program Prioritas Pemerintah