Aku Bukan Gelas Kosong, Hanya Belum Tahu Harus ke Mana

“Mahasiswa baru itu seperti gelas kosong yang siap diisi oleh pengalaman baru di dunia perkuliahan.”

Aku tersenyum miring saat mengingat kalimat itu di salah satu cuitan di aplikasi satu huruf. Sejak kapan aku menjadi gelas kosong? Hidupku sudah dimulai sejak belasan tahun lalu. Banyak pengalaman sudah kudapatkan sepanjang belasan tahun hidupku.

Apakah setelah masuk kampus aku harus menumpahkan seluruh air yang sudah penuh di dalam gelas ini? Apakah semuanya harus dimulai lagi dari awal? Karena pikiranku inilah, pernyataan itu terasa begitu bodoh di telingaku.

Aku bukan gelas kosong, dan ini bukan cerita tentang gelas kosong yang terisi. Tetapi sebuah cerita tentang air yang mulai tercampur dengan berbagai tinta warna, yang perlahan memperkeruh kemurniannya.

Aku belum pernah merantau sebelumnya. Malang menjadi kota pertama yang harus kutinggali sendirian. Kota yang dingin, dipenuhi kampus-kampus yang berdiri berdampingan. Dari balik jendela kendaraan, semuanya terlihat harmonis. Namun entah mengapa, aku bisa merasakan perlombaan yang tidak terlihat. Karena dengan jelas telingaku menangkap suara motor-motor mahasiswa yang saling mendahului, langkah kaki orang-orang berjalan cepat. Bahkan suara-suara itu menembus sampai ke ujung sambungan ponsel ini.

“Wah, rame banget ya di sana.”

Aku hanya mengangguk mendengar ucapan ibu dari ponsel.

Tidak lama kemudian, kendaraan berhenti di depan sebuah gedung dengan hiasan warna kuning. Warnanya terlihat mahal, seperti emas yang baru dipoles.

Aku turun sambil merapikan pakaian.

Hari itu, gelasku masih penuh dengan air putih yang kubawa dari rumah. Ratusan mahasiswa baru berdiri dalam barisan yang sama. Pakaian kami bahkan terlihat seperti dibuat dari cetakan yang sama. Aku terlambat.

“Dek, sini dulu.”

Seorang panitia menunjuk ke arahku. berjalan mendekat dengan langkah kecil.

“Kenapa terlambat?”

“Maaf, Kak. Tadi saya salah jalan.”

Ia menghela napas, lalu memberiku hukuman ringan sebelum menyuruhku kembali ke barisan.

Tidak ada bentakan. Tidak ada kemarahan.

Entah mengapa, dadaku terasa sedikit sesak. Mungkin karena semuanya masih asing. Mungkin karena untuk pertama kalinya, aku merasa sedang diawasi banyak mata.

Tetes pertama jatuh, warna merah. Sedikit saja, tetapi cukup untuk mengubah beningnya air.

Aku kembali ke barisan kelompok. Tubuh mungilku menyelinap di antara mahasiswa lain yang sejak pagi sudah saling berbicara. Punggung seseorang di depanku bahkan seperti dinding yang terlalu tinggi.

“Eh, kamu dari mana?”

Seorang perempuan di belakangku tiba-tiba menyapa.

“Jakarta.”

“Serius? Aku dari Kediri!”

Ia tersenyum.

Aku ikut tersenyum, meskipun percakapan itu hanya berlangsung sebentar. Karena setelahnya, mereka kembali berbicara dan aku kembali diam.

Aku melihat mereka seperti melihat potongan film yang belum kumengerti ceritanya. Mengapa mereka terlihat begitu mudah berbaur? Sementara aku bahkan masih bingung harus memulai percakapan dari mana.

Tetes kedua jatuh dengan warna Biru. Kesepian ternyata punya warna juga.

Kegiatan berikutnya diisi dengan berbagai informasi tentang kehidupan sebagai mahasiswa. Aku memperhatikan pembicara di depan.

“Kalian sekarang sudah mahasiswa, bukan siswa lagi.”

“Kalian harus mulai aktif berorganisasi.”

“Kejar prestasi kalian.”

“Banyak perlombaan yang bisa diikuti.”

“Mulai pikirkan masa depan sejak sekarang.”

Aku mencatat beberapa hal, namun semakin banyak yang kudengar, semakin banyak pula pertanyaan bermunculan. Apa yang harus kulakukan? Organisasi mana yang harus kuikuti? Lomba apa yang harus kukejar?

Aku bahkan belum sempat mengenal kampus ini, tetapi rasanya semua orang sudah menyuruhku berlari.

Tetes ketiga jatuh, sekarang berwarna kuning menyilaukan.

Saat makan, percakapan teman-temanku kembali membuat pikiranku berisik.

“Aku kayaknya mau masuk organisasi itu.”

“Aku dari SMA memang sudah sering ikut lomba.”

“Nanti semester dua aku mau coba magang.”

Aku hanya mengaduk makanan yang rasanya tiba-tiba hambar. Mereka sudah punya rencana, sedangkan aku? Aku punya bekal tentang ekonomi, tetapi belum tahu akan kubawa ke mana. Aku belum tahu pekerjaan apa yang ingin kukejar. Belum tahu tempat kerja seperti apa yang ingin kutuju. Bahkan aku belum tahu ingin menjadi siapa.

Tetes keempat jatuh, warna ungu.

Ketika acara selesai, aku berharap air dalam gelasku akhirnya bisa tenang. Ternyata tidak. Kos yang sunyi justru membuat warna-warna itu semakin berebut tempat.

Aku memutuskan menyalakan ponsel, sekadar mengalihkan pikiran.

Satu unggahan muncul, seorang mahasiswa memenangkan lomba.

Geser.

Seseorang diterima organisasi impiannya.

Geser lagi.

Ada yang mengunggah foto bersama teman-teman barunya. Bahkan, muncul seseorang yang sudah membagikan rencana kariernya. Aku terus menggulir layar.

Satu jam… Dua jam… Tiga jam…

Tanpa sadar, aku mulai menuangkan warna dari kehidupan orang lain ke dalam gelasku sendiri. Air itu semakin keruh. Warna-warna yang sejak tadi hanya menempati sisi berbeda mulai bercampur dan bertabrakan. Bahkan aku tidak lagi bisa melihat dasar gelas.

Aku tidak lagi bisa melihat diriku sendiri.

Aku takut tertinggal.

Takut salah memilih.

Takut tidak cukup baik.

Takut semua orang tumbuh lebih cepat dariku.

Tanganku berhenti menggulir layar, dan tanpa sadar menekan ikon telepon hijau-putih di layar ponsel.  Jempolku mengetik sesuatu:

“Bu, kakak capek….”

Aku pejamkan mata, menutup semua indraku dari suara-suara yang sejak pagi terus memenuhi kepalaku. Semuanya mendadak hening. Tidak ada suara teman yang saling bercanda, tidak ada suara panitia yang mengarahkan barisan, tidak ada suara pembicara yang terus memberiku berbagai tuntutan. Bahkan dunia yang sejak pagi terus meneteskan warna ke dalam gelasku seakan berhenti sejenak. Hanya ada aku, kamar yang sunyi, dan segelas air yang sudah terlalu keruh untuk kembali kulihat dasarnya.

TING

“Istirahat dulu nak, enggak semua harus selesai hari ini. Masih bisa esok hari, kak…”

Suara notifikasi merebut kembali kesadaranku, dan pesan itu kembali menyadarkanku. Aku membacanya sekali, lalu sekali lagi. Pandanganku mendadak buram, entah karena air mata atau karena akhirnya aku mengerti.

Warna-warna itu ternyata tidak harus dihilangkan, melainkan perlu diurai dan diberi waktu untuk bercampur. Akan selalu ada warna baru yang jatuh ke dalam gelasku, mungkin merah, biru, kuning, ungu, atau warna yang belum kukenal.

Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi takut dengan air yang keruh. Mungkin menjadi mahasiswa bukan tentang menjaga air tetap bening, tetapi tentang belajar memilih warna mana yang ingin kubiarkan tinggal.

Penulis: Nahiyatu Nafsil H.
Editor: Ervinna Nicky P.
Tata Visual: Ghana Haritz P.
Ilustrasi : Ghana Haritz P.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous post Yang Berangkat Membawa Rumah
Next post 17 Tuntutan Rakyat, Massa Menyuarakan di Jantung Perekonomian Kota Malang