17 Tuntutan Rakyat, Massa Menyuarakan di Jantung Perekonomian Kota Malang

Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu menggelar aksi bertemakan “Indonesia Sekarat, Lawan Materialisme, Bangun Persatuan Rakyat”. Aksi ini berlangsung pada Jumat (28/8/2026) di kawasan Lokomotif Kayutangan, Kota Malang. Sejumlah tuntutan disuarakan massa, mulai dari persoalan ketenagakerjaan hingga kondisi ruang sipil. 

  Pemilihan kawasan Kayutangan ini didasarkan oleh upaya massa untuk memperluas penyampaian tuntutan kepada publik. Menurut Eko, Humas Aliansi Bangkit Bersatu, kawasan tersebut merupakan pusat perekonomian dan jalan utama Kota Malang. “Aksi kali ini kita pindah dari Balai Kota ke jantung perekonomian dan jalan utama Kota Malang. Hal ini untuk mengampanyekan seluruh tuntutan agar publik tahu dan sama-sama cerdas,” ujar Eko. Aksi ini diikuti sekitar 25 kolektif dari kalangan mahasiswa, pemuda, organisasi masyarakat sipil, buruh, dan masyarakat. Massa melakukan long march dari Alun-Alun Kota Malang menuju ke Lokomotif Kayutangan, kemudian aksi dilanjutkan dengan orasi dan ditutup pembacaan pernyataan sikap.

Ada 17 tuntutan yang diteriakkan massa dalam aksi tersebut. Pada bidang ketenagakerjaan dan ekonomi, massa menuntut penghentian PHK massal serta penyediaan lapangan kerja dengan upah layak. Pengesahan RUU Ketenagakerjaan yang berpihak kepada buruh turut menjadi bagian dari tuntutan tersebut. Massa juga menuntut penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, serta pembangunan industri nasional yang berorientasi pada kebutuhan rakyat.

Tuntutan lainnya mencakup pelaksanaan reforma agraria, perlindungan petani dan masyarakat adat, serta penghentian militerisasi ruang sipil. Massa juga turut menuntut pendidikan gratis dan penghentian proyek strategis nasional yang dirasa merugikan rakyat. Mereka juga mendorong pengesahan RUU Perampasan Aset dan penghentian penggunaan APBN untuk kepentingan elite oligarki. Selain itu, massa meminta penanganan bencana, pengusutan kebakaran hutan dan lahan, serta peradilan terhadap pelaku pembunuhan 13 korban Agustus 2025 dan pembebasan seluruh tahanan politik.  “Hentikan militerisasi ruang sipil, kembalikan TNI ke barak,” tegas Eko.

Massa menyatakan aksi tersebut bukan merupakan aksi terakhir. Jika 17 tuntutan tidak seluruhnya dilaksanakan, maka mereka akan mengupayakan penggalangan massa dengan jumlah yang lebih besar. ”Kalau sampai 17 tuntutan itu tidak semuanya dilaksanakan, maka penggalangan kekuatan massa yang lebih besar akan kami terus upayakan untuk hadir,” ujar Eko. Konsolidasi juga akan dilakukan bersama jejaring di Jakarta dan sejumlah daerah lainnya. Aksi lanjutan pun telah direncanakan melalui sejumlah momentum pada Agustus hingga September, termasuk dalam rangkaian September Hitam. 

Oleh: Ervinna Nicky P.

Editor: Aldira Sifa A. 

Foto: Andria Setyaningsih

Tata Visual: Callysta Putri H.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous post Aku Bukan Gelas Kosong, Hanya Belum Tahu Harus ke Mana