Problematik Presensi Dosen

Capture

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) awalnya bernama Perguruan Tinggi Ekonomi Malang, didirikan pada 27 Juni 1957 yang menaungi tiga jurusan yaitu Jurusan Ilmu Ekonomi, Akuntansi, dan Manajemen. Menurut Sub. Bagian Akademik, total mahasiswa aktif FEB pada tahun 2016 sejumlah 4.062, dengan rincian Jurusan Ilmu Ekonomi sebanyak 1.524, Akuntansi 1.142, dan Manajemen 1.378. Berdasarkan buku pedoman akademik, FEB memiliki tenaga pengajar sejumlah 165 dosen yang siap mendidik mahasiswa untuk menjadi sarjana ekonomi.

 

Dalam rangka menjalankan kewajibannya sebagai pendidik, dosen harus mendampingi perkembangan mahasiswa dalam memahami mata kuliah (matkul) sesuai dengan Sistem Kredit Semester (SKS). Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 232/U/2000 menjelaskan bahwa nilai satuan kredit semester (sks) untuk perkuliahan setara dengan 160 menit kegiatan belajar per minggu, dosen setara dengan: 50 menit acara tatap muka terjadwal dengan mahasiswa, 50 menit aktivitas perencanaan dan evaluasi kegiatan akademik terstruktur, dan 60 menit aktivitas pengembangan materi kuliah. Merujuk pada keputusan tersebut, dosen wajib mengadakan satu kali pertemuan dalam seminggu. Saat mengadakan pertemuan, dosen diharapkan membuat suasana kelas yang aktif dengan berbagai cara, salah satunya mengadakan presentasi lalu membuka sesi tanya jawab. Cara lain yang digunakan dosen adalah menjelaskan materi lalu memaparkan studi kasus untuk berdiskusi dengan mahasiswa. “Metode pengajarannya beragam, seperti menjelaskan materi, mahasiswa presentasi atau menjelaskan studi kasus. Terserah mau yang seperti apa, tetapi dosen harus masuk kelas,” papar Nurkholis, S.E., M.Bus., Ph.D., Ak., Ketua Jurusan (Kajur) Akuntansi. Pada prinsipnya, dosen mengadakan 14 kali pertemuan di luar Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester. Pihak dekanat telah membuat regulasi terkait presensi dosen, apabila tidak memenuhinya, maka tidak akan dievaluasi untuk mendapatkan penilaian. “Untuk evaluasi dosen, minimal 12 kali pertemuan. Kalau kurang dari 12, dia tidak akan dievaluasi. Setiap akhir tahun itu ada evaluasi untuk penilaian dosen,” ujar Dr.Ghozali Maski, S.E.,M.S., Wakil Dekan I FEB UB selaku Penanggung Jawab Akademik.

 

Mengacu pada regulasi tersebut, nyatanya masih ada dosen yang jarang masuk, bahkan beberapa mengadakan pertemuan dibawah 12 kali. Dosen tersebut berhalangan hadir dengan beragam alasan, mulai dari delegasi di luar kampus hingga alasan yang bersifat pribadi. Hal ini diungkapkan oleh Monica Maulidina Dwi Yulianti, mahasiswa Jurusan Manajemen, “Biasanya sih alasannya ya memang karena punya kesibukan lain, ya gitu sih pasti ada alasan entah dia sakit atau urusan di luar kampus gitu,” jawabnya. Dosen yang berhalangan hadir akan mencari cara untuk memenuhi jam mengajar, seperti meminta tutor membantu menggantikannya di kelas. FEB memiliki tutor yang sifatnya membantu dosen, jika di Jurusan Akuntansi dan Manajemen, tutor cukup memberikan tutorial di luar jam kuliah, sedangkan di Jurusan Ilmu Ekonomi tutor dapat membantu jika dosen berhalangan hadir. “Bedanya tutor sama asisten dosen (asdos) itu, tutor hanya memberikan tutorial, tapi kalau asdos sudah boleh mengajar karena sudah lulus S-2, kalau S-2 kan boleh mengajar S-1. Jadi tutor tidak dianjurkan mengganti tapi hanya membantu dosen,” papar Ghozali. Selain meminta bantuan tutor, dosen yang berhalangan hadir akan mengadakan pertemuan pengganti dengan membuat persetujuan bersama mahasiswa untuk menentukan jadwal. Keputusan diambil dari mayoritas mahasiswa yang bisa hadir. Imam Mubya Surastia, mahasiswa Jurusan Akuntansi ini memaparkan bahwa jadwal pengganti masih sering bertabrakan dengan KRS, sehingga ada beberapa mahasiswa yang tidak bisa mengikuti kuliah.

 

Kondisi tersebut membuat mahasiswa harus merombak jadwalnya, terkadang ada yang bertabrakan antara jam kuliah pengganti dengan jadwal kuliah di Kartu Rencana Studi (KRS). Situasi ini merugikan mahasiswa, karena dia harus memilih mengikuti jam kuliah pengganti atau mengikuti jadwal di KRS. “Ya ini jujurjujuran aja sih, kebanyakan mahasiswa senang kalau dosennya tidak masuk, tapi kalau minta kelas tambahan bisa bertabrakan gitu sama jadwal kuliah, udah padat tambah padat lagi jadwalnya,” ujar Zul Fahmi, mahasiswa semester dua Jurusan Ilmu Ekonomi. Dampak lain dari dosen tidak hadir adalah beberapa materi terlewat dan tersendatnya silabus. Biasanya dosen membahas dua materi dalam satu pertemuan untuk mengatasi hal ini. Cara ini tidak efektif menurut mahasiswa, karena merasa pembahasan materi tidak maksimal. Imam menjelaskan, ”Kesannya ketika ada pengganti kayak dipaksakan gitu, satu pertemuan dua kali presentasi jadi kurang efektif, ya jadi penyampaiannya belum selesai tapi dipaksa dipotong penjelasannya,” ujar mahasiswa yang hobinya jogging ini. Berdasarkan dua permasalahan tersebut, tidak hadirnya dosen membuat penyampaian matkul tidak maksimal.

 

Menanggapi problematik ini, pihak dekanat memberikan solusi melalui Wakil Dekan I agar mahasiswa melapor ke kajur masing-masing. Ghozali memaparkan, “Saran saya kalo ada masalah apa-apa di kelas, sebaiknya melapor dan orang yang paling pertama diberitahu itu kajur,” tuturnya. Dekanat tidak memiliki wewenang terhadap pengaturan terkait dosen, karena semuanya berada di bawah naungan jurusan masingmasing. Arief Hoetoro, SE., MT., Ph.D., selaku dosen, juga sependapat dengan dekanat, “Bila mahasiswa melihat ada dosen yang seenaknya sendiri, silakan lapor ke kajur masing-masing,” imbuhnya. Beberapa pendapat juga muncul dari mahasiswa, mereka berharap apabila dosen berniat tidak masuk sebaiknya mengabarkan terlebih dahulu serta memberi alasan jelas. “Saranku, kalau memang tidak masuk, sebaiknya sehari sebelum mengajar ngabarin ketua kelas, terus kalau jam pengganti itu memang udah keputusan bersama dan tanggung jawab bersama,” tutup Sintya Marantika, mahasiswa S-1 Jurusan Akuntansi sambil tersenyum.

 

Indikator/Adhim, Dina (Co), Hikmah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *