Penugasan Stempel tidak Kondusif, Panitia Raja Brawijaya Ubah Kebijakan

Open House Raja Brawijaya menjadi penutup dari seluruh rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru Universitas Brawijaya. Tahun ini, mahasiswa baru ditugaskan untuk mengumpulkan empat stempel pada pelaksanaan Open House Raja Brawijaya. Sejumlah empat pos tersebar di seluruh venue, di mana para mahasiswa baru mengumpulkan stempel-stempel untuk buku penugasan mereka. Namun, pelaksanaan penugasan berjalan tidak kondusif, memaksa panitia meniadakan tugas ini.
Antrean panjang pada empat pos penugasan menimbulkan penumpukan di beberapa titik. “Karena mahasiswa baru ini banyak, 17 ribu orang kurang lebih, jadi membeludak gitu. Jadi agak gak kondusif,” ucap Dafa, salah satu peserta Open House Raja Brawijaya. Selain kepadatan pada pos-pos stempel, cuaca panas juga dikeluhkan mahasiswa baru. Rara, mahasiswa baru lainnya turut menyatakan, “Kalau aku liat teman-teman yang lain itu kayaknya udah pada overstimulate duluan pas ngantrinya, karena ngantrinya itu cukup panas ya kemarin.”
Daffa, Ketua Pelaksana Raja Brawijaya 2026 menyatakan tujuan diadakannya penugasan ini adalah untuk memberi pengalaman baru bagi mahasiswa baru. Dia mengonfirmasi bahwa penugasan telah dipertimbangkan secara matang dengan panitia dosen. Namun, kondisi lapangan terjadi di luar prediksi mereka, sehingga dibuat keputusan untuk menjadi satu stempel saja. Perubahan skema ini langsung diumumkan pada hari pertama Open House melalui Google Classroom, komunitas, dan media sosial Raja Brawijaya.
Daffa mengatakan bahwa sebenarnya ada titik yang lancar, tapi terdapat juga tempat yang tidak kondusif. “Namun, ada beberapa titik yang memang ada maba yang istilahnya memicu sedikit keramaian seperti itu, sehingga yang lain terpancing,” ujarnya. Ia turut berkomentar mengenai sejumlah mahasiswa baru yang pingsan selama prosesi Open House, “Di sesi lain juga memang ada maba yang sakit, tidak kuat imunnya sehingga pingsan. Tapi pada akhirnya kita menanganinya dengan baik.” Penugasan stempel tidak mengecualikan mahasiswa difabel. Mereka tetap diberi penugasan untuk mengumpulkan stempel, namun dengan skema khusus berupa pendampingan dan jalur mobilisasi.
Daffa mewakili para panitia mengucapkan permohonan maaf untuk mahasiswa baru atas perubahan skema. “Tentu dari panitia kita menyampaikan mohon maaf terkait apa yang terjadi kemarin. Dari maba juga menyampaikan hal yang positif dan mengapresiasi panitia,” ucapnya. Daffa menutup dengan harapannya agar Open House Raja Brawijaya menjadi ruang untuk mahasiswa baru menemukan minat mereka.
Penulis: Andria Setyaningsih
Editor: Nahiyatu Nafsil Hawa
Foto: Muhammad Fataya D.
Tata Visual: Lailatul Azizah
