Resensi Film One Battle After Another

Sutradara Paul Thomas Anderson (PTA) kembali mengambil inspirasi dari Thomas Pynchon kali ini melalui karya novelnya yang berjudul “Vineland” dan mewujudkannya ke dalam One Battle After Another. PTA mengambil latar Amerika yang nyaris tak jauh berbeda dengan realitas hari ini dengan krisis imigrasi, ekstremisme, paranoia, narsis politik, hingga menyuntikkan drama keluarga ke dalam cerita yang ia bawakan. Sehingga menjadikan film ini bukan sekadar hiburan semata melainkan konfesi sinematik yang berani sekaligus film paling ambisius dalam kariernya sampai titik ini.
One Battle After Another diawali dengan mengikuti sepasang kekasih sekaligus revolusioner anggota kelompok radikal “French 75”, Pat “Rocketman” Calhoun (Leonardo DiCaprio) dan Perfidia Beverly Hills (Teyana Taylor), yang menghadapi Kolonel Lockjaw (Sean Penn), perwira militer dengan patriotisme buta. Perfidia yang tertangkap basah ketika melakukan aksi kriminal, akhirnya tidak memiliki pilihan selain membocorkan kelompoknya sendiri. Setelah 30 menit pembuka yang intens, alur melambat menyoroti Bob Ferguson (sebelumnya Pat Calhoun) yang kini menua dan paranoid. Ia membesarkan putrinya, Willa (Chase Infiniti), sendirian hingga kedamaian mereka terusik saat musuh lama kembali dan sang anak menjadi sasaran utama. Aksi pun kembali dimulai, Willa yang tidak siap dengan seberapa darurat situasi yang ia hadapi, mau tidak mau harus beradaptasi dengan cepat. Bob pun harus pergi ke lokasi aman sekaligus mencari putrinya.
Film ini diambil menggunakan format VistaVision, menjadikannya salah satu film pertama yang menggunakan format tersebut sejak era 1960-an. Penangkapan gambar yang luas dan interior kosong terasa megah, transisi yang terasa bertahap dan berkoneksi menambah daya tarik sajian visual. Di kursi komposer, PTA kembali berkolaborasi dengan “langganan”-nya, Jonny Greenwood. Greenwood kembali berhasil memberikan scoring yang memberi suasana berlebih untuk telinga penonton terutama menambah ketegangan. Untuk waktu yang panjang di bagian tengah film, scoring-nya hanya terdiri dari satu tuts piano berulang, sesekali meledak untuk penyesuaian eskalasi adegan, menjadi sebuah pilihan seperti alarm yang terus berbunyi di kepala penonton.
Penampilan dari jajaran aktor juga menjadi elemen tidak terlupakan. Leonardo DiCaprio berhasil membawakan Pat, revolusioner intelijen paranoia yang terlihat siap menumpahkan seluruh usahanya untuk kepentingan kelompok. Kemudian bertransisi ke Bob, seorang ayah yang bersedia menggunakan segala cara demi melindungi putrinya, dan DiCaprio tidak lupa menambahkan paranoia Pat. Pembawaan karakter Pat dan Bob oleh DiCaprio membuatnya kembali ke titik yang ia sudah familiar yaitu nominasi Best Lead Actor Oscar 2026. Meskipun beradu akting dengan aktor papan atas seperti DiCaprio, sebagai aktris debutan layar lebar, Chase Infiniti berhasil merebut pusat perhatian sebagai gen z yang menghadapi kelamnya dunia pemberontakan terasa bersentuhan dengan para penonton, karena itu kehadirannya sebagai Willa terasa seperti angin segar di antara nama-nama besar. Sean Penn menjadikan sosok Lockjaw bukan sekadar antagonis melainkan sebagai potret manusia yang membusuk oleh sistem tanpa batasan, hasilnya Penn meraih Best Supporting Actor Oscar 2026, menjadikannya aktor pria ke-empat yang memenangkan tiga Academy Awards. Teyana Taylor tampil ganas dengan karakter Perfidia, revolusioner yang sadar bahwa dia tidak bisa selalu lari selamanya, penampilannya berhasil membawanya ke titik perdananya di Academy Awards dengan nominasi Best Supporting Actress Oscar 2026. Tidak lupa dengan Benicio del Toro sebagai Sensei Sergio St. Carlos, pejuang kebenaran yang memilih untuk melawan secara diam-diam, meski durasi layar yang singkat, del Toro berhasil membawakan karakternya hingga mencuri perhatian penonton bahkan bersanding dengan Penn memasuki nominasi Best Supporting Actor Oscar 2026.
Ambisi visual, pemakaian auditif yang tepat dan memukau, ditambah penampilan para aktor yang megah membuatnya hampir tak tertandingi di antara film-film 2025 lainnya, serta pemilihan topik yang jarang diangkat ke layar menjadikannya sedikit dari kelebihan karya PTA kali ini. Namun, bagi sebagian penonton, kepadatan film tidak menawarkan ruang bernapas terutama karena berdurasi hampir 3 jam dan bagi yang datang tanpa persiapan, intensitas tersebut bisa terasa melelahkan ketimbang memberdayakan. PTA sekali lagi berhasil hingga diakui panggung Academy Awards, di mana film ini meraih Best Picture, Best Director, Best Adapted Screenplay, dan Best Film Editing. One Battle After Another bukan film biasa yang kita tonton dengan segala plot monoton dan mudah ditebak, melainkan film yang menjadi sebuah pernyataan bagaimana perlawanan bisa dilakukan dengan segala media bahkan melalui karya seni.
Penulis: M. Fataya Dhiyaulhaq
Editor: Andria Setyaningsih
Tata Visual: Callysta Putri H.
