Tuai Perhatian, Screening Mental Health Mahasiswa Baru Singgung Orientasi Seksual

Screening dan pendataan kesehatan mental mahasiswa baru Universitas Brawijaya menjadi sorotan. Beberapa pertanyaan turut menyentuh informasi yang personal, seperti gender dan orientasi seksual mahasiswa baru. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentunya menuai berbagai respon. Melalui salah satu laman media sosial, beberapa pengguna turut mengkhawatirkan tujuan dari pertanyaan tersebut. Di sisi lain, tidak semua mahasiswa memandang pertanyaan-pertanyaan ini sebagai persoalan dan memilih tidak mempermasalahkan hal tersebut. 

Menanggapi hal tersebut, Dian Sudiono Putri, salah satu psikolog klinis Universitas Brawijaya yang turut menyusun kuesioner membeberkan urgensinya. Dia menyatakan bahwa pertanyaan dalam kuesioner tidak bertujuan untuk membedakan atau memetakan mahasiswa-mahasiswa yang mengalami gangguan mental atau tidak. Tujuannya lebih ke membangun sistem deteksi dini dan pendampingan yang memungkinkan bagi setiap mahasiswa untuk bisa memperoleh dukungan psikologis. “Memastikan bahwa apapun kondisi tanda kutip personal atau mahasiswa yang datang, itu akan kami layani,” sebutnya. 

Akan tetapi, pertanyaan ini tentunya memunculkan kekhawatiran terkait kerahasiaan data personal mahasiswa baru. Penyusun menjelaskan bahwa dalam penyusunan kuesioner ini mereka mempertimbangkan kenyamanan mahasiswa. Dian menyatakan, “Kami sudah memberikan kepastian bahwa segala data ini akan aman, akan kami jaga kerahasiaannya.” Meski pihak universitas menjamin akan kerahasiaan data tersebut, dia turut mengimbau untuk mencegah penyebaran informasi oleh pihak yang tidak berwenang. 

Dalam pengisian kuesioner, mahasiswa tidak diberikan pilihan untuk menyembunyikan orientasi seksual mereka. Kondisi tersebut membuat mahasiswa harus menentukan pilihannya. Dengan adanya hal ini, Dian berpendapat bahwa mahasiswa sudah berada di usia dewasa di mana sudah memahami tentang orientasi seksual. Selain itu, dengan adanya kecenderungan atau sensitivitas dari beberapa orientasi seksual tertentu, harapannya bisa memberikan pendampingan yang tepat.

Sistem screening tersebut juga merupakan bagian dari upaya membangun student well-being di lingkup universitas. Nantinya, melalui sistem tersebut diharapkan dapat memantau kesehatan mental mahasiswa secara berkala sehingga setiap perubahan akan diketahui dan ditindaklanjuti dengan dukungan psikologis yang sesuai. Tentunya, seiring berjalannya sistem ini ke depannya pihak konseling terbuka akan evaluasi dengan melihat perkembangan mahasiswa dalam mengakses layanan tersebut.

Oleh: Sukma Ayu Diastuti
Editor: Andria Setyaningsih 
Foto: Dokumen Istimewa
Tata Visual: Ghama Haritz P.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous post Resensi Film One Battle After Another
Next post Kegiatan Sambut Maba Memicu Kepadatan  Jalur Kepulangan RAJA Brawijaya 2026 di Gerbang BNI