Terbuai Hal Fiktif

With guns you can kill terrorists, with education you can kill terrorism.

 – Malala Yousafzai

 

Pada tahun 2015, Indonesia dibuat gempar dengan rilisnya film 3 Alif Lam Mim, film ber-genre futuristik yang menggambarkan Indonesia pada tahun 2036. Di film itu, Indonesia menganut paham liberal dan menerapkan sekuler murni, dimana sila ke-1 dihapus dari Pancasila. Kehidupan liberal yang menjujung tinggi HAM, membuat Indonesia terlihat damai.

 

Namun, ada sisi kelam dibalik kedamaian itu. Media dibungkam untuk memberitakan apa yang disetujui oleh pemerintah. Agama dihapus mutlak dari kehidupan. Masyarakat dilarang mengenakan pakaian yang menggambarkan identitas agama di publik. Agama dipandang sebagai hal kuno. HAM, yang merupakan produk dari liberalisme, tidak berlaku untuk kaum agamis.

 

Pada akhir cerita, digambarkan bahwa liberalisme itu digunakan oleh pemerintah untuk memancapkan kekuasannya. Segala kasus pengeboman merupakan hasil rekayasa pemerintah. Oknum masuk menyusupi pondok untuk menjelekkan citra agama. Untungnya, seperti pada film lainnya, ada pemeran protagonis yang mengungkapkan bobrok pemerintah itu.

 

Akhir-akhir ini, Indonesia mengalami krisis toleransi. Tidak perlu lagi mencotohkan Pilpres dan Pemilu, hal dalam skala kecil pun sudah menggambarkan krisis toleransi. Pelarangan beribadah di tempat umum bagi agama lain, pelarangan sholat jenasah, hingga tempat penitipan anak pun sudah dibumbui intoleransi.

 

Dan kini, kasus terbaru adalah pengeboman di Kampung Melayu yang terjadi tanggal 24 Mei 2017 lalu. 3 polisi menjadi korban tewas. Dikutip dari detik dan republika, pola serangan yang ditujukan kepada aparat kepolisian itu menggambarkan Jamaah Anshar Daulah, yang memiliki jaringan global dengan teroris di Irak dan Suriah. IS (Islamic State) pun mengakui bahwa aksi di Kampung Melayu itu adalah “one of the fighters of the Islamic State”.

 

Bagaimanapun pola serangan, pelaku, dan motif, serangan teror ini tidak bisa dibenarkan. Indonesia sebagai negara Pancasila merangkul semua agama dan kepercayaan. Merangkul semua agama dan kepercayaan berarti saling menghargai dengan semangat toleransi. Jika ada perselisihan, maka akan diselesaikan dengan semangat perdamaian.

 

Serangan bom di seluruh dunia mencerminkan pelaku sebagai “kaum radikal” dan tentunya tidak sesuai dengan kepercayaan yang mereka anut. Tidak ada satupun agama dan kepercayaan yang mengajarkan radikal dan kekerasan. Jikapun ada, itu berarti penganutnya yang tidak memahami secara betul agama dan kepercayaannya.

 

Sayangnya, masih banyak orang yang tampaknya percaya dengan konspirasi semua serangan bom adalah rekayasa. Umumnya, orang-orang ini percaya bahwa apapun yang dilakukan pemerintah saat ini adalah salah. Tidak perlu analisa ilmiah untuk membuktikan ini, cukup cek di hampir semua media sosial.

 

Mereka, yang percaya bahwa teror bom ini adalah rekayasa, selalu berpikir bahwa Islam yang benar adalah Islam yang diperlihatkan oleh massa aksi gerangan #BelaIslam yang menjurus pada masalah Pilkada DKI. Padahal, di media sosial pun sudah banyak jejak digital yang menyatakan sebaliknya. Sayangnya, mereka tidak percaya.

 

Islam adalah agama yang cinta damai. Dakwah pun dilakukan secara damai. Itu yang membuat mengapa Walisongo berhasil “mengislamkan” mayoritas orang di Indonesia. Jika ada dakwah yang tidak mencerminkan kedamaian, itu bukan Islam yang sesungguhnya.

 

Hal ini yang membuat muncul namanya istilah “Islam Radikal”. Padahal, tidak ada yang namanya “Islam Radikal”. Agama dan kepercayaan lain pun tidak mengenal istilah radikal. Istilah ini yang sesungguhnya makin menghancurkan citra Islam di mata dunia. Orang non muslim akan mengakui bahwa ada aliran Islam yang berbasis radikal, dan itu tidak baik bagi Islam itu sendiri.

 

Jujur, saya tertarik dengan film 3 Alif Lam Mim. Saya tidak peduli tentang pro dan kontranya, saya hanya tertarik dengan apa yang film itu ceritakan. Dan saya menyesal karena saya harus menonton melalui Hooq, bukan melalui bioskop secara langsung. Namun, banyak orang yang percaya mentah-mentah film ini membuat saya sedih dan kecewa.

 

Apakah klaim langsung para “mujahidin” di Irak dan Suriah itu tidak membukakan mata mereka terkait rekayasa serangan teror? Apa hal yang membuat mereka selalu kontra dengan pemerintah? Apakah mereka gagal move-on? Apakah mereka sudah terhasut?

 

Saat ini, versi extended dari film 3 Alif Lam Mim hanya bisa diakses melalui Hooq. Sedangkan yang beredar di website film gratisan hanyalah versi dari Net TV, yang tentunya sudah melalui sensor yang menurut saya berlebih. Saya membayangkan jika versi extended itu sudah beredar luas, pasti mereka akan semakin kontra dengan pemerintah.

 

Terrorists has no religion

Lazuardy Henry Syahputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *