Pembangunan Daya Cipta Bangsa

Setiap tahun populasi penduduk dunia meningkat dan memenuhi sudut kota. Tak hanya kepadatan penduduk yang menjadi akar permasalahan namun memberikan dampak yang berkelanjutan dalam upaya pembangunan. Peradaban desa pun terus bergeser setiap tahunnya. Di tahun 2015, komposisi penduduk di Indonesia masih didominasi oleh desa sebesar 56% dan 44% untuk kota. Menurut Permendagri No. 56 Tahun 2015 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan diketahui bahwa di Indonesia terdapat sebanyak 74.754 desa. Banyaknya populasi desa memang tak sejalan dengan konstribusinya terhap pertumbuhan ekonomi negara. Direktur Perkotaan dan Pedesaan Hayu Parasati menyebutkan bahwa kontribusi kota besar dan metropolitan mencapai 32% sedangkan kota menengah dan kecil hanya berkisar 7% terhadap pertumbuhan.

Desa merupakan unit terkecil dalam suatu negara yang kaya akan kebermanfaatan di dalamnya. Sayangnya hal ini tak pula memberikan manfaat lebih bagi negara. Adat serta budaya masyarakat desa kerap kali mengahalangi upaya pemerintah untuk merangkul menuju  pembangunan. Perlakuan pemerintah yang bertentangan dengan adat istiadat, seringkali menjadi alasan sebuah desa untuk tetap memilih hidup dengan warisan yang telah diberikan leluhurnya. Namun seiring berjalannya waktu, peradaban desa pun semakin menggeser. Hal ini dikarenakan kepadatan penduduk dan para generasinya yang memilih berpindah ke kota serta melepaskan diri dari kekangan budaya. Adapun yang masih bertahan karena adat yang mengharuskannya..

Pusat kajian Bappenas mencatat lebih dari 74.000 desa tercatat 33.592 desa tertinggal, 13.453 desa sangat tertinggal, dan 22.882 desa berkembang serta hanya 3.608 desa yang tergolong maju. Klasifikasi tersebut didapatkan berdasarkan indikator kesejahteraan versi negara. Hal yang kini terlintas bahwa, indikator kesejahteraan yang diberikan suatu negara justru tak mewakili keinginan rakyatnya. Kesejahteraan versi rakyat desa sebenarnya cukup sederahana. Tak perlu beribu pembangunan memadati ataupun kemewahan layaknya kota metropolitan. Kehidupan dengan konsep kecukupan  dan memiliki segudang lahan untuk ditanam merupakan kesejahteraan bagi mereka.

Saat ini Indonesia tengah mengalami era persaingan global yang ketat. Arus informasi dan teknologi yang keluar masuk secara bebas turut menggerus kepribadian bangsanya. Indonesia kini harus terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ekspansi industri serta berbagai macam eksploitasi sumberdaya merebah di hampir seluruh wilayah Indonesia. Negara pun turut andil didalamanya. Kasus di Indonesia pun cukup bervariasi, seperti reklamasi teluk benoa dan ekspansi insdutri semen yang tak luput dari sorotan media.

Berkaca dari desa, meskipun terdapat adat yang kini mengisolasi kehidupan mereka, hal ini justru melindungi alam serta penghuninnya. Seperti halnya yang dilakukan oleh masyarakat Sumba di Kepulauan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memilih untuk bertahan dengan budayanya. Prinsip bercocok tanam dengan larangan penggunaan pestisida mendorong inovasi penciptaan sumber energi pupuk organik dari kotoran babi dan urin manusia. Penciptaan pupuk organik dengan mayoritas masyarakat petani justru mampu memperkokoh ekonomi masayarakat. Ekonomi masyarakat lokal yang kokoh akan memberikan pertahanan yang kuat dan meminimalisasi adanya pengaruh dari luar.

Pada tahun 2015, Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi telah meluncurkan Indeks Desa Membangun (IDM) untuk memperkuat capaian RPJM 2015-2019 dengan tujuan mengurangi jumlah desa tertinggal sampai 5000 desa dan mewujudkan desa mandiri sedikitnya 2000 desa ditahun 2019. Senada dengan hal tersebut, sesuai program nawacita yang diusung oleh Presiden Jokowi di tahun 2014 No. 3 yakni, membangun Indonesia dari pinggiran dengan menguatkan daerah dan desa untuk mewujudkan daya saing yang unggul. Hal ini mengindikasikan bahwa sumber penghidupan orang banyak, kini bergatung kepada desa. Selayaknya negara yang terdiri dari beragam adat dan budaya. Desa merupakan aset terbesar untuk menjaga kelestarian budaya leluhur bangsa. Tak hanya itu, keberadaan desa sebagai penopang kehidupan juga berjasa penuh dalam  menjaga keberlangsungan sumberdaya alam di Indonesia. Dengan demikian, marilah bersama menyokong pembangunan yang berkeadilan dengan tetap mempertahankan identitas bangsa.

 

Karya:
Yulia Indri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *