Ideologi Game

     Siapa yang tidak mengenal video game? Jika video game generasi sebelumnya menampilkan gameplay sederhana, kini gameplay dibuat kompleks dan semenarik mungkin. Kita dulu mungkin harus mengundang teman jika ingin bermain multiplayer. Kini hanya dengan menggunakan jaringan internet, kita bisa terhubung dengan semua orang di dunia. Tapi, apa itu video game?

Martin Suryajaya, pengasuh aktif rubrik Logika pada indoprogress.com mendenifisikan video game sebagai sistem permainan dengan media video melalui interaksi berbasis antarmuka pengguna (user interface). Arti dari user interface adalah suatu sistem yang dirancang untuk mengoperasikan sebuah game dengan memanfaatkan layar video sebagai medianya. Layar video tersebut akan mevisualkan sistem yang telah dirancang. Sedangkan menurut Clark C. Abt, penulis buku Serious Game yang diterbitkan tahun 1987, video game adalah sebagai kegiatan yang melibatkan keputusan pemain dan berupaya mencapai tujuan dengan dibatasi oleh konteks tertentu.

Dikutip dari nxgindonesia.net dan klikmania.net, video game pertama kali diciptakan oleh Ralp Baer, seorang insinyur televisi di New York. Ralp menciptakan video game bernama Chase, permainan sederhana yang menyajikan dua titik pada layar video yang saling mengejar. Kemduian, tahun 1970-an adalah awal era video game 8 bit dan diperkenalkannya penyimpanan metode Read Only Memory (ROM), yang tertempel pada cartridge di konsol. Fairchild VES adalah konsol pertama yang berbasis cartridge dan berbentuk Central Processing Unit, disusul dengan dirilisnya Video Computer System oleh Atari dan Odissey 2 oleh Maganavox. Konsol tersebut mengawali perkembangan video game hingga era Nintendo yang terkenal dengan game boy pada tahun 1983. Di zaman itu, Nintendo merilis game legendaris yang sampai saat ini masih memiliki banyak peminat, yaitu Super Mario.

Pada tahun 2000, Sony semakin merajalela dengan merilis Playstation 2 yang berbasis DVD. Xbox yang merupakan keluaran Microsoft adalah satu-satunya saingan Playstation. Meskipun tampilan Xbox sangat tajam dan berkualitas, tapi ternyata game Xbox tidak bisa mengalahkan populernya Playstation 2. Sampai saat ini, Sony sudah meluncurkan Playstation versi ke 4.

Berdasarkan platform/alat, video game dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, diantaranya Arcade, Personal Computer, Console, Handheld Console, dan Mobile. Pada awalnya, video game diciptakan sebagai media hiburan semata. Orang-orang memainkan video game karena mereka membutuhkan wadah ketika mereka stres atau sedang ingin melampiaskan hasratnya. Seiring dengan berjalannya waktu, video game berkembang tidak hanya menjadi media hiburan semata, namun juga sebagai media edukasi. Video game berguna untuk meningkatkan kemampuan berpikir. Duel otak, salah satu video game yang dirilis di Android pada tahun 2015, adalah permainan yang menginstruksikan kita untuk bertanding secara online dengan pemain lain dan berlomba menjawab pertanyaan yang berkutat seputar pengetahuan umum.

Dari sisi psikologis, video game berperan dalam tiga hal. Pertama, mengajarkan kerjasama tim, sebuah bentuk kerja kelompok dengan keterampilan yang saling melengkapi serta berkomitmen untuk mencapai  misi yang sudah disepakati. Lalu, mengajarkan ketekunan, yang merupakan upaya bersinambungan untuk mencapai tujuan tertentu tanpa mudah menyerah hingga meraih keberhasilan. Terakhir adalah pengambilan keputusan, Tanpa disadari, dengan menghabiskan waktu bermain video game, kita akan mendapatkan pelatihan secara tidak langsung dalam hal pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. kita dituntut dapat berpikir cekatan untuk memenangkan game tersebut.

Salah satu video game yang mencangkup tiga manfaat tersebut adalah Dota 2, permainan multiplayer berbasis online dengan lima pemain dalam satu tim yang bertujuan untuk menghancurkan Ancient/markas lawan. Dalam satu tim tersebut, kita dilatih untuk bekerja sama, entah dengan orang yang sudah kita kenal atau tidak. Jika salah satu anggota tim terhambat dalam misi penyerangan, ketekunan dibutuhkan untuk konsistensi serangan. Segala bentuk keputusan pemain terkait strategi penyerangan akan berdampak terhadap pola serangan, yang itu juga melatih kita untuk mengambil keputusan yang tepat.

Dari sisi ekonomi, video game dapat dimanfaatkan sebagai peluang usaha, dengan salah satu contohnya adalah penyedia item di game online. Meskipun dilarang oleh beberapa developer, sebagian pemain berusaha untuk mengumpulkan item dengan jumlah banyak ataupun mengumpulkan item tertentu untuk dijual kepada sesama pemain, seperti pada Clash of Clans.

Kemudian, peluang usaha berikutnya adalah jasa joki. Penyedia jasa akan memanfaatkan kemampuan bermainnya untuk membantu pemain lain agar mencapai level tertentu pada sebuah permainan. Contohnya adalah salah satu link di Forum Jual Beli Kaskus menunjukkan penyediaan jasa peningkatan level dan pencarian pokemon pada game Pokemon Go.

Peluang usaha yang terakhir Event/Competition Hunter. Ini bisa dianggap sebagai pekerjaan sampingan ataupun salah satu jalan untuk menjadi E-Sport Athlete. Biasanya, kompetisi ini diselenggarakan oleh beberapa komunitas kecil tingkat kota ataupun kampus. Hasil dari kompetisi ini akan menghasilkan uang jajan tambahan, menambah pengalaman, dan membuka relasi baru terhadap sponsor yang mencari bakat untuk terjun ke dalam E-Sport Athlete.

Manfaat lain dari sisi ekonomi adalah membuka lowongan pekerjaan baru. Ada setidaknya tiga pekerjaan yang berakar dari video game. Pertama adalah E-Sport Athlete, atlet profesional yang dibayar secara kontrak tertulis untuk memenangkan kompetisi video game. Salah satu permainan yang dilombakan secara resmi adalah Dota 2 dan League of Legends. Di Indonesia, E-Sport Athlete memiliki federasi resmi yang bernama Indonesia E-Sport Association, yang berinduk pada International E-Sport Federation.

Pekerjaan berikutnya adalah Game Developer dan Game Tester. Game Developer adalah profesi dimana seseorang membuat suatu permainan dengan bahasa pemograman tertentu yang nantinya dipublikasikan. Awalnya, pegiat game di Indonesia hanya sebatas publisher, baru pada tahun 2002 muncul game developer yang dibentuk oleh investor asing. Game developer lokal pertama muncul tahun 2005. Sedangkan Game Tester adalah pemain yang dikontrak oleh Game Developer untuk menguji sebuah game yang bersifat mentah. Mereka nantinya akan bertugas untuk melaporkan bug serta kritik dan saran terhadap Game Developer, sebelum video game tersebut dirilis.

Manfaat lainnya adalah sebagai jasa layanan iklan. Ini adalah trend pada video game berbasis mobile, terutama Android. Developer menciptakan game yang dapat diunduh secara gratis, namun menyertakan iklan di dalamnya. Jadi, pemain dapat mengunduh secara gratis, developer mendapat pemasukan dari iklan, dan penyedia iklan dapat menyasarkan iklannya kepada pemain, suatu siklus yang menggambarkan simbiosis mutualisme.

Dikutip dari id.techinasia.com (15/08/2016), beberapa kasus penyalahgunaan video game bagi anak-anak yang sempat menjadi kontroversi pada tahun 2015 memaksa pemerintah untuk meluncurkan sebuah klasifikasi rating. Maka dari itu, berdasarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 11 Tahun 2016, pemerintah resmi merilis Indonesia Game System Rating (IGRS).

IGRS sendiri terbagi menjadi empat kelompok umur. Kelompok pertama adalah umur 3+. Di kelompok ini, game mutlak tidak boleh mengandung kekerasan fisik, seksual, umpatan kasar, horor, narkotika, alat vital, pertukaran data antar pemain, dan wajib dalam pengawasan orang tua. Berikutnya adalah umur 7+, kontennya sama seperti 3+, namun diperbolehkan untuk bermain tanpa pengawasan orang tua. Lalu, umur 13+, di mana narkotika, kekerasan fisik, unsur darah, horor, dan pertukaran data diberi sedikit kelonggaran. Terakhir, umur 17+, yang memiliki kelonggaran lebih dibanding umur 13+.  Di luar umur tersebut, video game tidak boleh mengandung pornografi, simulasi judi, dan hal lain yang tidak diperbolehkan dalam undang-undang.

Namun, video game sebagai objek permainan juga memiliki beberapa permasalahan. Pertama, video game berpotensi menyebabkan kecanduan. Seseorang yang kecanduan bermain video game akan rela duduk untuk bermain dan meninggalkan waktu istirahat serta mengabaikan lingkungannya. Dampak yang terlihat adalah si pemain yang mengabaikan kesehatan dan apatis terhadap lingkungannya

Berikutnya adalah pembajakan. Berdasarkan data dari Business Insider, pada tahun 2015, setidaknya 84% software di Indonesia terindikasi bajakan, dan Indonesia masuk daftar 10 besar negara dengan jumlah kerugian akibat pembajakan terbesar di dunia dengan $1,1 Triliun. Mekanisme pembajakan ini dibagi menjadi dua, yaitu unduh gratis dan jual beli kaset bajakan. Mekanisme dari unduh gratis adalah pembajak menyediakan link download yang bisa diakses oleh semua orang tanpa membayar. Semua pembajak selalu menggunakan pola yang sama, yaitu memasang banyak sekali pop-up ads yang tersinergi dengan Google Adsense. Setiap sekian click pada iklan tersebut, sang pembajak akan menerima sejumlah uang.

Opsi lainnya adalah pembajak menyediakan game dalam bentuk kaset yang diperjualbelikan dengan harga murah. Hal ini disebabkan oleh permintaan pasar yang tinggi, sekaligus membuktikan bahwa kesadaran masyarakat terkait pergunaan barang asli masih kurang. Pada semua kasus pembajakan, penyebabnya adalah kurangnya implementasi Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2014 mengenai Hak Cipta. Dampaknya adalah Game Developer tidak mendapat haknya sebagai pekarya.

Masalah berikutnya adalah kurangnya pengawasan terhadap akses video game anak. Banyak anak kecil di bawah umur yang dengan mudah bisa mendapat akses ke video game yang tidak layak secara umur. Anak dibawah umur seharusnya mendapat pengawasan dan filtering terkait akses video game. Dampaknya, secara tidak langsung moral sang anak akan mulai rusak, karena sudah mengenali hal yang belum dia ketahui di usianya yang belum layak.

Selain itu, beberapa video game kerap digunakan sebagai media ropaganda, yang berarti media menampilkan upaya disengaja dan sistematis yang membentuk persepsi dan memengaruhi perilaku. Propaganda di sini berbentuk penyebaran paham ideologi dan sex. Pada contoh kasus Call of Duty – Black Ops, pemain diberi intruksi untuk membunuh pimpinan Kuba, Fidel Castro. Pada kasus propaganda sex, contoh kasusnya adalah permainan Waifu Sex Simulator, video game yang dapat diakses melalui Virtual Reality.

Masalah terakhir dalam video game adalah sentimen negatif dari orang awam. Mereka melihat video game adalah suatu keburukan. Mereka hanya melihat sisi negatifnya saja tanpa memperhatikan sisi positif yang ada. Hal ini yang menyebabkan manfaat yang terkandung dalam video game tidak tersampaikan.

Ada beberapa solusi yang bisa dilakukan. Solusi pertama dari berbagai permasalahan tersebut adalah kesadaran dari si pemain itu sendiri. Apapun yang berlebihan itu tidak baik. Pemain harus bisa membagi waktu untuk bermain dan waktu di dunia nyata. Jika si pemain sudah sadar akan waktu bermain, maka pengedukasian terhadap orang awam terkait video game akan mudah, karena mereka sudah melihat bahwa video game tidak membuat orang kecanduan. Solusi berikutnya adalah mendukung penuh developer dengan membeli secara resmi game mereka. Membajak sama dengan membunuh karir seorang developer. Terakhir, ada pengawasan dari berbagai pihak terhadap anak. Orang tua sebagai filter utama, lalu orang-orang di sekitar lingkungannya, dan pemerintah sebagai eksekutor IGRS.

 

Lazuardy Henry S.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *